Chevrolet Trailblazer Facelift 2017 Review : Tough Threat

Chevrolet Trailblazer Facelift 2017 Review : Tough Threat
0  komentar

AutonetMagz.com – Pada hari Rabu-Kamis tanggal 22-23 Februari 2017 kemarin, kami sudah bercengkrama dengan Chevrolet Trailblazer facelift 2017 yang sudah resmi diluncurkan sekarang. Tadinya, kami ingin memasukkan mobil ini ke AutonetMagz The Series edisi Komparasi SUV Ladder Frame di video YouTube, namun sayang saat itu Chevrolet Indonesia sudah menghapus Trailblazer dari katalog jualan mereka saat video itu dibuat.

Tapi kini Chevrolet Trailblazer facelift 2017 sudah datang lagi ke Indonesia setelah melalui beberapa proses pengembangan dan revisi ini-itu demi meningkatkan nilai jualnya, khususnya dibanding para rival.

Kami harus akui, kami tidak pernah menganggap mobil-mobil Chevrolet yang ada di Indonesia punya kelebihan dalam hal desain, namun Trailblazer facelift? Kami suka mukanya, jauh lebih membaik daripada Trailblazer kemarin dan sudah bisa berdiri sejajar dengan para rivalnya. Kalau boleh berkata, mobil ini terasa lebih “Murica”.

Sayang, perubahan muka yang makin gagah dan maskulin tidak diikuti dengan desain belakang yang masih sangat datar dan tanpa karakter sama sekali.

Padahal lampu belakangnya sudah LED. Masih ada sangat banyak ruang buat membuat desainnya makin stand out, seperti apa yang Mitsubishi lakukan di Pajero Sport.

Terserah anda, mau memandang buntut Pajero Sport itu bagus atau jelek, harus diakui bahwa desain belakangnya punya identitas kuat yang membuat orang tidak akan salah menyangka mobil itu sebagai mobil lain.

Keheranan berlanjut pada lampu depannya. Di kala semua mobil di kelas ini sudah mengandalkan projector lens pada varian termahalnya, boro-boro dengan Trailblazer.

Ia hanya mengandalkan lampu diamond cut dengan bohlam halogen. Jelas dong bikin bingung, kembarannya saja (baca : Isuzu MU-X) pakai projector lens meski belum LED atau HID. Sisi baiknya, sudah ada pengatur ketinggian sorot lampu, LED DRL dan auto headlamp. Kap mesinnya termasuk cukup berotot secara desain.

Pelek Chevrolet Trailblazer facelift menggunakan ukuran 18 inci di tipe LTZ, dengan ban berukuran 265/60 R18. Pada spion sampingnya, sudah ada Blind Spot Monitoring macam Chevrolet Captiva 2017 yang sudah pernah kami review sebelumnya.

Kami suka, Trailblazer ikut serius dalam menghadirkan perangkat penghenti laju dengan menghadirkan rem cakram di keempat roda. Jadi heran, kenapa masih ada 1 kontestan yang pede memakai rem teromol di kelas ini. ABS, EBD dan BA? Ada dong.

Fitur-fitur lain seperti roof rail dan auto wiper sudah hadir, dan karena mobil ini punya ground clearance sekitar 22 cm di tipe LTZ, hadirnya side step terasa wajib, terutama jika anda punya postur badan di bawa rata-rata.

Tidak seperti Fortuner, pintu bagasi Chrevrolet Trailblazer facelift tidak punya mekanisme elektrik, jadi harus dibuka secara manual. Tidak hanya itu, di sisi driver tidak ada tuas buat membuka bagasi dari kabin. Seperti Honda Civic Turbo, ia punya remote engine start.

Saat kami mau masuk ke kabinnya, kami agak kaget. Bukalah pintu driver atau penumpang depan, maka kaca jendela akan turun sedikit sekitar 5 cm. Heran, biasanya yang begini ada di mobil-mobil dengan pintu frameless macam Mini Cooper, Volkswagen Sciroccoatau Porsche 718 Boxster.Padahal mobil ini pintunya biasa, bukan frameless. Sampai hari ini, kami masih bingung apa fungsi jendela yang sedikit turun itu.

Masuklah ke dalam Trailblazer gres ini, dan kalian akan menjumpai desain dashboard yang terkesan tough. Tidak mewah, tidak juga sporty, tapi gagah. Kualitas material? Yah, masih ada bahan soft pad yang empuk di beberapa panel, namun material plastik lebih dominan, sama seperti Fortuner.

Kualitas pemasangan? Cobalah tekan beberapa sudut di pintu, maka akan bisa bergoyang sedikit. Andai ada desain setir yang lebih ciamik lagi daripada yang ada sekarang, mungkin nuansa kabinnya akan lebih menyenangkan. Mobil ini 450 jutaan lho.

Posisi duduk di Trailblazer sama dengan di MU-X : cenderung tinggi. Sudah begitu, pengaturannya sedikit terbatas, karena setir tidak bisa disetel maju-mundur, hanya bisa naik-turun saja.

Joknya semua kulit, dan Trailblazer adalah satu-satunya yang menyediakan pengatur ketinggian buat kursi penumpang depan. Tumben kan?

Biasanya hanya sliding dan reclining, ini ada height adjuster meski belum elektrik. Poin plus yang bagus, dan jok pengemudi pengaturannya elektrik.

Chevrolet Indonesia sepertinya sedang serius belakangan ini, karena mereka berani menawarkan iming-iming kelengkapan fitur yang sinting dengan banderol yang cukup miring hingga membuat rival bergeming.

Harga termahal Trailblazer facelift adalah 455 jutaan Rupiah On The Road (OTR) Jakarta, namun kelengkapannya bisa dibilang melebihi rivalnya yang bermerek Jepang. Di setirnya, selain steering switch control buat audio, telepon dan cruise control, ada tombol untuk menyalakan atau mematikan fitur Front Collision Alert.

Fitur ini akan aktif di atas 30 km/jam, dengan sistem radar yang akan memberikan alarm pada pengemudi jika jarak mobil di depan terlalu dekat.

Selain suara, akan ada display merah yang memantul di kaca depan sebagai alarm visual. Namun tolong dicatat, ini tidak ada rem otomatis macam Mazda 2 SkyActiv, jadi jika anda mengabaikan peringatan ini dan tidak segera mengerem, sebaiknya anda punya kocek ekstra untuk memperbaiki mobil ini jika menyundul mobil di depan.

Head unit-nya juga termasuk salah satu yang paling komplit. Di kelasnya, hanya ia yang menawarkan Apple CarPlay dan Android Auto, fitur yang menarik untuk gadget freak.

Jika kedua hal tadi absen pun, masih banyak mainan menarik di sini macam rear cross traffic alert, smartphone mirroring dan lain-lain. Kamera parkirnya punya garis pemandu yang turut belok saat setir berbelok, beda dengan milik Captiva yang garis pemandunya statis.

MID milik Trailbazer menampilkan banyak hal, macam speed warning, sisa jarak tempuh, ECO indicator dan tekanan ban di keempat roda.

Tekanan keempat ban ditampilkan dengan angka, jadi bukan hanya alarm berupa indikator orange kalau ban kurang tekanan. Jika kompetitor seperti Pajero Sport, MU-X dan Fortuner sudah siap dengan tombol start/stop engine, Trailblazer masih pakai anak kunci lipat. Waduh, kenapa ya?

Pengaturan AC-nya komplit parah, namun detail yang keren adalah display fan speed dan temperatur yang berada di dalam tombol putar bagi AC-nya, seperti di mobil-mobil Audi.

Makin ke bawah, tombol yang menarik makin banyak, di antaranya 2 buah port charger, tombol Lane Departure Warning System, Hill Descent Control, Stability Control dan Parking Sensor. Lengkap sekali kan? Hill Start Assist juga sudah ada pastinya, namun dengan adanya Hill Descent Control, jadi lebih aman di turunan.

Hanya saja kami bingung (lagi), mengapa airbag Trailblazer hanya ada 3? Dua di depan dan satu buat dengkul pengemudi.

Dibandingkan dengan Fortuner, MU-X dan Pajero Sport mungkin beda-beda tipis, namun dibandingkan Captiva yang levelnya di bawah Trailblazer namun airbag-nya lebih banyak, ini jadi sedikit lucu. Jika Chevrolet menyediakan 6 airbag, pasti faktor safety-nya jadi amat sangat juara dibanding kompetitor lain (anggaplah Ford Everest diabaikan).

Kepraktisan dan tempat penyimpanan di mobil ini sangat memadai untuk kebutuhan keluarga, meski laci di Isuzu MU-X masih lebih banyak daripada di sini.

Pada center console box, ada port USB dan AUX yang desainnya sedikit memakan tempat. Kantong pintu di depan masih oke, namun di belakang tidak seberapa. Kami sudah mencoba MU-X, dan kabin belakangnya lega sekali, jadi apa di Trailblazer ini juga lega?

Rupanya ya, sama leganya. Joknya tidak empuk-empuk amat, namun ruangan untuk kaki dan kepala amat sangat lega.

Penumpang belakang berhak atas sebuah port charger di bagian tengah bawah, armrest dengan cup holder dan pengontrol AC di atap. Sama seperti MU-X (lagi), AC-nya menyebar rata dengan ventilasi di atap yang menjangkau hingga baris ketiga. Sayang di sini tidak ada sliding, meski reclining-nya cukup bisa diandalkan untuk bersantai.

Masuk ke belakang cukup dengan one touch tumble, namun seperti biasa, joknya berat. Untuk orang dewasa, duduknya masih menyediakan cukup ruang kaki dan kepala, namun memang sandaran pahanya tidak seberapa.

Bisa diadu dengan Pajero Sport, dan di antara kedua jok paling belakangnya ada tempat penyimpanan kecil tanpa tutup dan power outlet di sisi kiri belakang. Oh ya, hampir lupa, mobil ini tidak ada sunroof.

Bagasi belakangnya lega, tidak malu-maluin dibandingkan SUV lain. Di Trailblazer facelift ini, ada laci dengan penutup di bagasinya, sesuatu yang kalau di MU-X hanya jadi opsional dengan selisih harga mendekati 2 juta rupiah.

Pelipatan kursinya simpel dan praktis, dan kala kursi baris kedua & ketiga dilipat semua, ruangan yang dihasilkan sangat rata lantai. Jika anda maling gerai ATM, sepertinya bisa memasukkan sebuah mesin ATM ke dalamnya.

Nah, sampailah pada salah satu poin kuat lain dari Trailblazer, yakni mesinnya. Sambutlah mesin 2.500 cc 4 silinder turbo diesel dengan tenaga maksimal 180 PS dan torsi 440 Nm. Dibantu transmisi torque converter 6 percepatan, semua tenaga dan torsi itu lari ke roda belakang.

Tidak ada lagi pilihan mesin 2.800 cc atau opsi penggerak 4WD, namun di atas kertas, sepertinya Trailblazer akan jadi rival kuat bagi Pajero Sport yang merupakan SUV dengan mesin terkencang di kelasnya. Oh ya, mesin ini bisa meminum bahan bakar diesel B20 (biodiesel), tapi tentu saja lebih baik pakai yang bagus sekalian.

Saatnya berkendara. Nyalakan mesinnya, suara dieselnya sangat khas diesel dari luar, namun kalau dari dalam, tenang-tenang saja. Masuk ke D dan injak pedal gas, mobil ini tergolong santai-santai saja, seperti ogah pamer kalau “Saya punya 180 PS dan 440 Nm lho”. Jika kita sudah sampai di 2.000 rpm ke atas, barulah jambakannya terasa. Transmisi 6 percepatannya tergolong halus meski ada sedikit lag saat kita kickdown untuk turun gigi, namun selebihnya oke-oke saja.

Jika kita bisa menemukan jalan kosong untuk merasakan potensi mesinnya, cobalah gaspol mesin ini. Rasanya lebih enteng dibandingkan beberapa pemain dominan di kelas ini, termasuk kembarannya. Namun kalau dibanding Pajero Sport Dakar, masih bisa diperdebatkan. Tidak terlalu terdengar siulan turbonya, mungkin karena peredaman kabin yang cukup mumpuni. Sayang, kami belum sempat menguji kekedapannya di jalan bebas hambatan.

Setirnya memakai EPS, dan di kecepatan rendah atau posisi diam, setir ini enteng dan tidak menyusahkan driver-nya, jadi tidak bakal bengkak otot bisep anda saat harus parkir. Sementara di kecepatan tinggi, bobotnya menjadi sedikit lebih berat, namun feedback di setir ini kurang natural jika anda ingin membaca kondisi jalanan via setir. Radius putarnya pun masih ramah untuk penggunaan dalam kota.

Untungnya, Chevrolet menyediakan sesi tanjakan dan turunan untuk menguji hill start assist dan hill descent control-nya. Harus kami akui, kedua fitur ini berfungsi baik, terutama HDC-nya. Blind Spot Monitoring dan Front Collision Alert-nya pun bekerja dengan baik. Namun karena spek bannya masih ban biasa untuk jalan aspal, kadang kami mendapati mobil ini bisa terjebak di tanah atau lumpur yang becek atau licin. Ban off-road sepertinya bisa menghilangkan gejala ini.

Handling? Kami sepertinya mulai bisa membaca karakter Chevrolet mulai dari Spin, Captiva, Trax dan Trailblazer ini : Mereka ingin setting di tengah-tengah antara kenyamanan dan handling. Mobil ini tidak seempuk Pajero Sport atau MU-X, tapi tidak sekaku Fortuner. Kalau anda pernah mencoba Ford Everest, bisa dibilang mirip antara Trailblazer dengan Everest. Mungkin karena faktor keduanya sama-sama dirancang di Australia. Nose dive saat pengereman pun wajar, tidak separah Pajero Sport.

Apa kesimpulan pada review Chevrolet Trailblazer facelift ini? Well, empat kata yang paling menggambarkan adalah : Great Value for Money. Dengan harga 455 jutaan untuk tipe termahal, mobil ini menawarkan diri sebagai SUV ladder frame dengan fitur terlengkap, kabin terluas, safety terbaik (meski airbag cuma 3, kalah dengan Trax yang 6), mesin yang menggiurkan, kombinasi pas antara kenyamanan dan handling dari suspensinya juga bagus, tidak keras namun tidak kelewat empuk dan sedikit American Styling.

Tentu saja mobil ini tidak semuanya bagus, sebab built quality serta mobil ini masih bisa diperbaiki lagi. Muka mobil ini bagus dan ganteng, hanya saja sayang kalau karakternya tidak dikuatkan ke sisi lain supaya mobil ini mencolok di jalanan. Penting buat seseorang yang sudah habis 450 juta lebih untuk tampil beda di jalanan. Di samping itu, posisi mengemudi yang tinggi, feeling berkendara yang biasa saja serta beberapa poin minus lain bisa menjadi catatan bagi Trailblazer.

Apa opinimu mengenai SUV baru ini? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: