Top Gear Menemui Masalah : Chris Evans Sulit Mengemudi Sambil Ngomong Ke Kamera

by  in Berita&International
Top Gear Menemui Masalah : Chris Evans Sulit Mengemudi Sambil Ngomong Ke Kamera
0  komentar
top-gear-chris-evans-and-jeremy-clarkson

AutonetMagz.com – Versi reboot dari acara otomotif terkenal di dunia, Top Gear yang ditayangkan oleh BBC sudah diketahui bakal dipersembahkan oleh Chris Evans sebagai presenter utama, ditemani oleh Sabin Schmitz dan Chris Harris. Ketiganya adalah nama-nama terkenal di dunia, namun bukan berarti semuanya bisa mulus, karena ada laporan dari Top Gear sendiri soal kendala yang cukup mengganggu ketika shooting.

Kendalanya adalah, rupanya Chris Evans tidak bisa (atau belum bisa) nyetir mobil sambil berbicara menghadap ke kamera. Jangan dianggap remeh, soalnya hal itu penting dalam sebuah acara otomotif. Trio Top Gear lawas yakni Jeremy Clarkson, Richard Hammond dan James May memang sudah master dalam hal itu, dan kalau kita menyaksikan mereka, kelihatannya mudah nyetir mobil sambil ngomong ke kamera, tapi rupanya itu adalah hal yang sangat sulit untuk dikuasai.

chris harris

Padahal calon rekannya, Chris Harris sudah terbiasa berbicara dan berinteraksi kepada penonton sambil mengemudi mobil. Menurut laporan dari internal Top Gear kepada koran The Sun, trio Top Gear lawas bisa melakukannya lebih baik.”Hal itu (ngomong ke kamera sambil nyetir) adalah sebuah skill. James, Richard dan Jeremy bisa melakukan itu dengan cukup mudah dan tanpa masalah, tinggal satu-dua kali take, selesai,” katanya.

Kendala yang dialami Evans pun dikabarkan sudah menjadi makin serius, karena saat pengambilan gambar untuk Top Gear baru, Evans sudah menabrakkan satu mobil di Top Gear Test Track. Naas, mobil itu adalah Jaguar baru yang dipinjamkan untuk acara itu. Padahal saat itu merupakan pertama kalinya Chris Evans wara-wiri di Top Gear Test Track, dan karena track itu merupakan kawasan steril, harusnya akan lebih mudah karena tidak harus waspada dengan lalu lintas seperti di jalan raya.

trio top gear host

Makin parah lagi, produser eksekutif Top Gear, Lisa Clark sudah keluar juga, bahkan Tom Ford yang bertugas sebagai editor naskah bagi Top Gear menyatakan ia akan langsung pergi dari Top Gear ketika kontraknya habis, ia tidak akan minta perpanjang kontak. Entah kenapa kami yakin, di suatu tempat, Clarkson, Hammond dan May sedang nyengir saat tahu berita ini. Jangan-jangan Hammond juga bakal memasukkan insiden tabrakan Jaguar Top Gear ke acaranya, Science of Stupid. Siapa tahu kan?

Well, kami akui sih, nyetir mobil sambil ngomong ke kamera itu susah, maka dari itu kami terus belajar supaya bisa makin lancar menguasai skill itu, hingga bisa mempersembahkan yang terbaik untuk anda, para pembaca dan penonton setia kami. Apa opinimu mengenai kendala Top Gear baru ini? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next:
  • Allyza

    Mampus!!!! Siapa suruh Clarkson, Hammond, May dipecat
    Ketahuan BBC meremehkan trio master dulu…….

    • Gamas K G ™

      Yg dipecat cuma clarkson, tp karena dia dipecat, hammond ama may jadi keluar karena kata mereka top gear tanpa jeremy bukanlah top gear yg sebenernya, so walau hammond ama may ditawari bayaran besar, mereka menolak dan keluar

      • 206er

        yang ikut keluar bukan cuma hammond sama may, tapi sebagian besar kru produksi top gear termasuk andy wilman.

        Bisa dibilang mayoritas kru top gear yang baru juga betul2 baru

  • njk888 nik

    Bicara review mobil, Top Gear lumayan fair dan tajam. Mereka jangan bilang pro mobil Eropa. Nggak juga. Mobil macam BMW / Mercy aja jika ada yang kurang worth it atau ada kelemahan, ada kok yang mereka cuman kasih score 6 / 10. Padahal mobil mewah Eropa, bukan Asia !

    Sebaliknya banyak mobil Korea Selatan misalnya Hyundai Santa Fe dapat 8 / 10, dan juga Grand i-10 dapat 8 / 10 juga. Padahal mereka media EROPA. Jadi dari pada dengar review dari forum sebelah yang sangat pro-merek tertentu, baca dulu review Top Gear. Lebih bisa di pegang.

    Mereka udah coba macam macam mobil, dari yang paling murah sampai Ferrari gituan. Saran ane kepada team AM, yang hasil reviewnya udah lumayan bagus, terus belajar dari Top Gear, pasti nanti akan jadi favorit media otomotif di Indonesia.

    Asal jangan seperti autobild Indonesia dan forum sebelah yang dikit dikit ” image toyota, nama besar toyota, nama harum toyota. ” Jelas gitu kredibilitynya sebagai media otomotif yang netral dan independen sudah ENOL.

    • farid

      betul!…autonetmagz walau bukan media otomotif yg terbesar tapi lebih netral dan indenpenden dibanding media otomotif terkenal di indonesia.contohnya kalau autonetmagz bikin first impression atau review mobil terbaru pasti dilihat dan diulas secara detail tentang mobil tersebut sampai build quality nya

      • njk888 nik

        Dan AM adalah media otomotif di Indonesia pertama, dan cuman mereka yang BERANI MUJI mobil macam Kia Carens, Kia Sorento, Hyundai Grand i-10, Ford Ecosport dll. dengan banyak poin bagus, padahal RISIKO bikin pembaca orang Indonesia rasa ” heran ” karena mayoritas orang Indonesia masih allerhi ama mobil Korea.

        Jika mau main AMAN, ya muji habis terus aja avanza, innova, fortuner, dan kasih banyak poin negative aja kepada mobil ” kurang jelas ” yang lain, selesai toh ? Pasti mayoritas pemilik avanza, innova yang banyak di Indonesia SENANG. Tapi AM tidak demikian. Itulah bedanya mereka….

        Juga saya lihat team AM ada bakatnya jadi Top Gearnya Indonesia. Buktinya di TOP GEAR juga sama, mobil macam Hyundai Santa Fe (saudara Sorento), dan Grand i-10 juga dapat score amat tinggi 8/10 ! Harus tau Top Gear itu JARANG banget kasih score lebih dari 7/10 untuk sebuah mobil. BMW / Mercy aja ada berapa yang di bawah 7/10. Kecuali mobil macam Nissan GTR ya mereka juga nggak bakal kasih score aneh macam 3/10. Lah memang hebat kok tuh GTR. Dapat score tinggi juga sportscar Jepang itu.

        Semoga team AM yang masih muda, tulus, idealis, suatu hari nggak di kontaminasi ama urusan ” bisnis “. Mau jadi besar dengan prinsip ADIL dan KRITIS kepada merek kaya pun tetap bisa kok. Lihat aja TOP GEAR. Mereka nggak bakal bisa jadi gede jika kerjaannya cuman muji / kasih top score kepada merek Eropa doang.

    • Hillarius Satrio

      soal warung sebelah, however gw tetep respect kok sama AB, tapi tetep kita terima masukan dari manapun yang kiranya berguna bagi penonton dan kita sendiri.. toh kalo penonton seneng, kita senang. anyway, gw screenshot dulu yak biar jadi target AutonetMagz. makasih banyak lho masbro

      • njk888 nik

        You guys sih terlalu baik hati. Ya nggak salah sih hormati media mobil lain. Tapi kebobrokannya jangan di tiru aja dalam hati…Selama ini, well done guys ! Jika saya adalah Autobild German, udah pasti gue kasih licensenya untuk Indonesia ke you guys ! Dari pada orang gramedia yang, ya tau sendiri, udah lama terima banyak iklan toyota, jadi dikit dikit ” Nama HARUM toyota. ” . Buset, gue baca banyak majalah mobil terbitan luar negeri, mana ada yang tulis ” Nice Smell BMW brand, atau Super strong Land Rover Brand Image “. Haha…..Malah BMW pasti keki ada berapa model BMW scorenya cuman 5 atau 6/10. Padahal barang mahal…Itulah TOP GEAR.

  • Levi

    Suruh mereka rekrut om Mobi

    • Oki Ngew

      Om mobi kan pake dubbing…

    • gsxr

      Rekrut hillsat ato ridwan dah cukup :v

      • Hillarius Satrio

        da aku mah apa atuh

    • Zakwan Umarella

      om mobi jadi stignya indonesia:v

  • deni

    Well, kami akui sih, nyetir mobil sambil ngomong ke kamera itu susah, maka dari itu kami terus belajar supaya bisa makin lancar menguasai skill itu, hingga bisa mempersembahkan yang terbaik untuk anda, para pembaca dan penonton setia kami ..
    Iya,tp kpn ngeluarin video review-nya lg ?? udh kelamaan nunggunya ne terutama yg ‘komparasi’ ..

    • veyvez

      liat instagram, udh ada teasernya 🙂

    • njk888 nik

      Jangan maksa jika belum ahli. Toh reviewer di situs terkenal lain seperti autocarbuyer dot co dot uk juga saat bicara lihat ke depan kebanyakan. Nggak masalah, demi safety. Yang penting bukan matanya lihat ke camera terus tapi info yang di sajikan fair dan berguna nggak, dan camera anglenya saat shooting mobilnya bagus dan kreatif nggak.

    • Hillarius Satrio

      sabar masbro, editor kita sampe saat ini cuman single fighter soalnya.. hehe

    • AutonetMagz

      Lebih susah lagi nyetir mobil sambil ngomong dengan mertua yang ada di jok samping supir masbro 🙂

      • Apri

        Masa sih, gw mah biasa aja kagak susah 😀

  • pescarolo

    Ada beberapa hal yang bikin Top Gear beda dengan acara review mobil lainnya, dan bisa jadi referensi buat review Autonetmagz k depannya.

    Kalo saya liat, kualitas reviewer Autonetmagz udh oke. Semuanya bisa ngelucu, kritis, gamblang, bisa nyetir sambil ngejelasin, dan ga terkesan takut “dimarahin” sama APM yang jual mobil. Yang terpenting, bahasa yang dipake juga udh cukup sesuai sama karakter orang Indonesia yang sensitif sama kata2. Ga kaku, tapi juga ga kasar.

    Selain trio mereka yang kritis, blak-blakan, dan tahu cara menjelaskan kemampuan mobil sambil berkendara, salah satu selling point mereka itu kualitas sinematiknya. Yang saya perhatiin, tiap video mereka dibuat kaya sebuah mini-film:
    > Retake beberapa kali pake banyak kamera (lebih dari 2). Kadang cuma buat jelasin speedometer, mereka take 2 kali. 1 saat reviewer lagi ngomong sambil nunjuk speedometer, 1 lagi buat gambar speedometer close-up. Saat editing, dua2nya dibikin berkesinambungan. Jadi gambar speedometer muncul saat suara reviewer masih jalan sambil nerangin.
    > Kadang mereka pake helikopter buat aerial shot. Tapi kayanya buat Autonetmagz bisa diganti pake drone yang jauh lebih murah dan tetep fungsional.
    > Mereka pake stabilizer untuk kamera biar gerakan videonya bebas dari shake.
    > Pake filter GND di depan lensa untuk shoot eksterior, biar eksposur video antara mobil dengan langit lebih rata dan dramatis. Sedangkan untuk interior ga perlu pake filter apapun.
    > Eksplorasi sudut gambar dan pencahayaan. Seringkali mereka pake lensa ultra-wide ato fish-eye yang bikin mobil keliatan distorsi, ato ngambil dari sudut2 ekstrim rata aspal ato dilewatin kolong mobil biar keliatan lebih dramatis. Di beberapa kesempatan, mereka sengaja ngambil gambar pake lampu dan properti tambahan. Kadang mereka shoot eksterior terpisah dengan interior. Pengambilan gambar Interior bisa tiap waktu. Sedangkan Eksterior mereka ambil di waktu sore ato pagi, saat cahaya matahari sedang miring dan bikin bayangan lebih dramatis, bahkan kadang warna langit jg sedang bagus. Saat diedit, hasil akhirnya kedua adegan akan dibuat berkesinambungan dalam satu narasi.
    > Pake mikrofon terpisah antara suara reviewer dengan suara mesin dan knalpot. Kadang suara mesin juga diambil terpisah. Bisa diakalin pake mikrofon hape jaman sekarang yang udh bagus2.
    > Penggunaan properti tambahan untuk ningkatin efek visual. Misal lampu2 di review Toyota 86 ato cipratan air di review Zenvo.
    > Pake teknik Color Grading buat finishing. Supaya tone yang muncul lebih mewakili mobil yang lagi direview. Warna cat mobil yang tampak emang jadi ga akurat, tapi aura dari mobil2nya seolah keluar. (Bisa diliat dari foto2 d atas, tone gambar review P1, 918 Spyder, sama LaFerrari beda2. Warna kulit Clarkson, Hammond, sm May jg jd beda banget sama aslinya).
    > Cara reviewer saat menatap kamera dan berakting ngasih ekspresi juga sangat baik. Saat mobilnya bagus, mereka teriak, nyengir lebar, dan keliatan kaya pengen banget punya mobilnya. Saat mobilnya jelek, mereka kelihatan jijik, meringis, mengeluh, pengen cepet2 menjauh dari mobilnya. Jadi ga datar dengan tatapan kosong, ato senyam senyum sendiri.
    > Bikin naskah review dan narasi yang rapi, selipin juga analogi2 sederhana buat nerangin hal2 kompleks (kaya bawa jirigen 2 liter buat nerangin sebesar apa isi silinder Mitsubishi Evo). Anggap penonton dan pembaca bagaikan anak TK yang pemikirannya simpel. If you can’t explain it simple, you don’t understand it enough.
    > Porsi audio mereka spot-on. Mereka pake musik dan sound effect yang sesuai dengan situasi dan karakter mobil yang direview. Saat reviewer muncul di kamera sambil nerangin fitur2, musik mati. Ato pake musik2 elegan yang lembut saat pake narasi. Saat dipake ngebut, musik diganti jadi rock ato apapun yang bertempo cepet. Sound effect kaya ledakan ato dentuman juga sedikit ditambahin. Review McLaren P1 dan Ferrari LaFerrari juga dibedain. Bener2 dinamis

    Satu mobil bisa makan waktu 1 ato bahkan berminggu-minggu untuk direview di Test Track dan diedit di studio mereka sampe akhirnya jadi satu mini-film utuh. Belum yang dibawa ke sirkuit balap. Memang lama, tapi hasilnya jadi bagus. Soal biaya, kalo niru total set mereka bisa buat beli 1 Ferrari F12 di Indonesia, jadi harus banyak diakalin biar bisa murah dan cepet.

    Beberapa poin d atas, kaya color grading dan narasi bisa saya liat di video2 AM terbaru khususnya Speciale. Udh bagus, dan menurut saya terbaik buat review mobil di Indonesia. Tapi mungkin bisa ditambah dengan poin2 yang saya sebutin di atas supaya jadi masukan buat produksi berikutnya.

    Hehe maaf panjang. Semoga dibaca dan berkenan.

    • Hillarius Satrio

      NAH! ini yang sangat kita butuhin nih, masukan berharga banget, ini gw screenshot biar bisa jadi resolusi AutonetMagz di tahun 2016.. tengkyu banget broh, ai lap yu pul… wkwkwk

      • pescarolo

        sama2 bro. sukses terus!

    • AutonetMagz

      Wah..wah…waaah…terima kasih banyak masbro buat dukungan dan masukannya, beberapa point diatas yang mas sebutkan sudah menjadi perhatian kami ke depannya agar video review AutonetMagz makin lebih enak ditonton dan dicerna 🙂

      • pescarolo

        sama2. oiya cobain juga deh efek2 slo-mo 120 ato 240 fps nya punya hape2 Android dan iphone jaman skrg. itu kualitasnya udh bagus banget lho. JAUH lebih smooth daripada DSLR yang kebanyakan stuck di 50 sm 60 fps. Cocok banget buat adegan bergerak ato kebut2an. Walopun resolusinya cuma 720p, toh AM juga pake resolusi segitu kan d video2 review. Mgkn one day bisa dicoba, mana tau habis itu jadi ada yg tertarik minjemin mobil sportnya buat dicoba kebut2an sama AM. Sukses terus!

      • njk888 nik

        Iya, mau jadi yang terbaik, belajarlah dari salah 1 yang terbaik : TOP GEAR. Contoh, Top Gear mana ada seperti autobild Indonesia yang doyan ” cium bokong ” ATPM yang gede di sini dengan sering pakai kata ” nama besar, image toyota, nama HARUM toyota “. Bisa di tertawakan Top Gear jika gitu. Top Gear mah nggak peduli mereknya gede, kaya, sedang atau apa. BMW aja kadang di hajar dengan review score yang agak rendah. Sebaliknya mobil Korea udah berapa yang dapat score 8/10…

        Lebih parah lagi, autobild Indonesia sering tuduh aftersales banyak merek non-toyota, termasuk BMW, yang juga sama di bawah group Astra, jelek. Namun survey customer satisfaction mereka sendiri akhirnya paksa mereka gigit jari / nelan ludah sendiri, justru banyak merek yang selama ini di cap ” jelek ” ama autobild Indonesia, justru scorenya tinggi setelah di survey banyak orang. Dan toyota yang mereka agung agungkan, toh ranknya di bawah banyak merek ” kecil ” lain yang mereka sering cap ” purna jual sebagai poin negative ! ”

        Semoga AM jangan jangan tiru autobild Indonesia. Jika benar doyan banget ama toyota, boleh, sah sah saja, tapi silahkan lamar jadi biro iklan mereka. Jika mau jadi majalah / media otomotif yang professional dan NETRAL, independent, nggak ada tempat untuk kata macam ” nama HARUM toyota, nama BESAR toyota, image toyota….” Tul nggak ? Jika Autobild Jerman tau gaya franchisee mereka di Indonesia seperti gini, bisa di cabut tuh licensenya..

        • AutonetMagz

          Sekali lagi terima kasih banyak buat nasehat, saran dan dukungannya mas. Sukses untuk kita semua

  • njk888 nik

    Jeremy Clarkson meski ada kesalahan sampai berpisah ama BBC, namun memang tampangnya, gayanya, suaranya udah jadi ” maskot “nya Top Gear. Nggak gampang cari pengganti dia ya ?

  • Walter White

    Seru banget baca komentar yang sangat panjang di artikel ini. ini yang menjadikan saya sebagai pembaca autonetmagz betah, setiap hari saya sempatkan untuk buka AM.

    Dulu pernah copas artikel review AM yg bahas salah satu mobil murah merk S yang bentuknya kotak di forum K. Pada gak percaya sama review lengkap yang di tulis AM, padahal detail sekali. Entah karena mereka pemilik mobil kotak jadi sulit menerima kenyataan. Alasannya di media otomotif lain belum ada yang bilang kalau transmisinya otomatis nanggungnya itu lemot.

    Sekarang kalau mampir ke thread yang khusus bahas mobil murah kotak tersebut banyak keluhan di transmisi otomatisnya yang lemot. persis seperti pada saat AM bikin review dahulu.

    Jadi intinya AM kalau review mobil meski kadang menyakitkan namun objektif. itu yang buat saya betah untuk membaca setiap artikel dari AM terutama review atau komparasi mobil.

    Semoga AM akan terus obyektif dalam memberikan review kendaraan.