Test Drive Wuling Cortez : Feeling is Believing!

Test Drive Wuling Cortez : Feeling is Believing!
0  komentar

AutonetMagz.com – Wuling Indonesia di bawah naungan dari PT. SGMW Motor Indonesia memang sudah dua kali sukses memberikan kejutan pada pasar otomotif di Indonesia. Setelah sebelumnya pihak SGMW Motor Indonesia memberikan Wuling Confero S untuk bersaing di segmen LMPV, maka kini Wuling Cortez diposisikan sedikit lebih tinggi untuk bersaing di pasar MPV berukuran sedang. Nah, ketika kami menerima undangan untuk mencoba Wuling Cortez, maka jelas jawaban ‘Iya’ segera muncul dari kami.

Namun jika melihat trek yang disiapkan oleh pihak Wuling, jujur pada awalnya kami sendiri agak sangsi. Bagaimana tidak, trek menanjak ekstrim ke Gunung Bromo menjadi pilihan pihak Wuling, padahal mobil ini jelas-jelas adalah sebuah MPV bongsor, bukan SUV penjelajah tangguh yang pakai 4WD. Yap, keraguan memang muncul dari kami sendiri karena kami paham bahwa jalanan yang akan kami tempuh cenderung tak bersahabat. Sama halnya dengan kondisi cuaca di kawasan Malang secara khusus, dan Jawa Timur secara umum yang beberapa waktu ini juga sering diguyur hujan deras. Nah, hal inilah yang membuat perjalanan kali ini tak hanya menarik, namun juga ada sedikit bumbu menegangkan.

Sekilas Pandang

Jelas kalian sudah tak asing dengan sosok dari Wuling Cortezini, begitu unit yang akan digunakan sampai di starting point di dealer Wuling Malang, kami pun bisa melihat beberapa detail yang ada di Wuling Cortez versi produksi massal ini. Secara umum, ada perbaikan jika dibandingkan dengan versi pre-production yang sempat dites di Sentul oleh Hillsat beberapa waktu lalu. Beberapa koreksi minor seperti sambungan di bumper depan yang saat itu kurang rapi sudah membaik. Namun memang untuk bagian panel body belakang masih terlihat sedikit offside, namun bukan hal yang besar kok. Bagian yang tentunya menarik adalah pada kaki-kaki mobil ini, memang velg yang digunakan cukup oke, namun ukurannya terlihat sedikit kurang besar jika dibandingkan dengan proporsi badannya.

Nah, seperti yang kami beritakan sebelumnya, jika sudi ngolong ke bagian bawah mobil ini, maka kita akan melihat bahwa suspensi independen telah diberikan di Wuling Cortez tipe 1.8 L ini. Yap, untuk Media Test Drive bertajuk “Discover The New Choice Sensation” ini sendiri unit dari Wuling Cortez yang dibawa merupakan unit tertinggi dengan transmisi i-AMT pada semua unit. Penasaran kan bagaimana kalau transmisi AMT dipakai untuk menanjak di tanjakan Gunung Bromo? Mampukah? Tunggu di bagian berikutnya.

Kembali ke impresi kami, masuk ke sisi interior dari mobil ini, balutan kulit sintetis sudah menunggu di semua baris jok, sayangnya justru saat mencoba versi jok fabric-nya, kami lebih suka dengan jok fabric-nya yang lebih lembut, jok kulit sintetis milik Wuling Cortez ini cenderung keras. Kalau boleh nego sih, kami suka captain seat bawaan Cortez tertinggi, tapi kami bakal lebih suka kalau bahan kulitnya lebih empuk sedikit atau pakai bahan fabric saja tidak apa-apa deh, soalnya empuk.

Penggunaan jok elektrik jelas memanjakan pengemudi dan penumpang depan, namun sekali lagi, masih ada pekerjaan rumah untuk Wuling. Apa itu? Posisi konsol tengah dengan jok kulitnya bisa dikatakan sangat mepet, sehingga saat kita memajukan kursi pengemudi, akan ada bunyi gesekan antara kulit sintetis dan bagian plastik konsol tengah yang cukup mengganggu. Setir berlapis kulit, layar sistem infotainment yang enak dipandang dan penggunaan lapisan kulit di beberapa titik sukses membuat kabin mobil ini cukup nyaman untuk dihuni. Oh iya, ada juga panel kayu yang terlihat mahal di sisi dashboard dan juga doortrim, sayangnya, panel ini sangat mudah terlihat berdebu sehingga harus dibersihkan secara telaten.

Let’s Drive

Oke, perjalanan dimulai, disinilah kami mulai menyiapkan diri untuk keadaan terburuk, yaitu jika nantinya Wuling Cortez tak kuat menanjak. Berjalan dari Wuling Malang, kami singgah sebentar di Resto Javanine untuk makan siang. Dalam perjalanan yang cukup singkat ini, kami memposisikan Wuling Cortez di mode Eco dengan transmisi di posisi D. Pertama berjalan, terasa sekali bahwa transmisi i-AMT di mobil ini memang masih jauh dari kata halus. Selesai makan siang, kami mulai meluncur ke Bromo dengan checkpoint di Plataran Bromo. Jalanan panjang kearah pintu gerbang Malang yaitu Lawang mampu dijalani Wuling Cortez dengan baik. Kami mulai bermain dengan mode sport yang ada di Wuling Cortez yang nyatanya memang lebih asyik untuk digunakan.

Mengambil rute melalui kawasan Nongkojajar, kami langsung bersua dengan jalanan yang sempit, menanjak, dan juga hujan. Pada kondisi ini, transmisi masih berada di posisi D dengan mode sport. Konfigurasi tersebut masih mumpuni untuk melahap kontur jalan tersebut. Di rute ini pula kami banyak bertemu jalanan yang lubangnya bisa membuat pengemudi dan penumpang berkata kasar. Namun, secara umum suspensi dari Wuling Cortez ini mampu meredam guncangan dengan baik. Suspensinya tidak halus yang mental mentul, namun cenderung stiff namun nyaman, mirip-mirip mobil Eropa. Ingat, mirip ya, bukan sama. Kami masih bisa merasakan lubang yang dilewati, namun tak sampai membuat penumpang mual karena perutnya terkocok.

Beberapa titik di rute menuju Plataran Bromo ini memiliki karakter jalan menanjak dengan belokan yang sangat patah, sehingga membuat Road Captain yang dikemudikan oleh Bapak Ir. Sony Susmana dari Safety Defensive Consultant Indonesia mengkomandokan kami untuk berhati-hati, mengambil ancang-ancang, dan juga menggunakan mode manual. Nah, di sinilah sebenarnya kami sempat ragu akan peforma dari Wuling Cortez degan transmisi i-AMT-nya. Namun nampaknya keraguan kami tersebut perlahan sirna setelah beberapa tanjakan berhasil dilibas dengan mode manual dari Wuling Cortez ini. Namun ada sedikit catatan menarik, saat kami mulai menanjak, dan mengubah transmisi dari posisi D ke M, posisi gigi berada di gigi 2. Nah, iseng-iseng transmisi dipindah ke posisi gigi 1, dan mesin berteriak hingga 6.500 rpm, padahal redline ada di angka 6.000 rpm.

Ini bisa jadi disebabkan oleh barisan kode alias coding untuk robot yang memindahkan gigi di girboks i-AMT ini. Pendapat kami tetap, AMT masih tidak begitu enak, tapi ini sedikit lebih baik daripada milik Ignis, dan kami bisa jelaskan kenapa. Dengan mesin yang lebih besar, tenaga dan torsi juga lebih besar, robot AMT Cortez tidak perlu turun gigi dengan RPM drop yang terlalu ekstrim (misalnya hingga di bawah 2.000 rpm), sehingga rasanya bisa lebih halus.

Tak berselang lama kami sampai di Plataran Bromo, dimana suhu sudah cukup dingin dengan kondisi hujan lebat dan kabut. Rehat sejenak, kami meneruskan perjalanan ke kawasan Pasir Berbisik yang sudah terkenal menjadi destinasi wisata jika ke kawasan Gunung Bromo. Apakah jalanan membaik? Tidak, karena hujan masih lebat, kabut masih turun, dan tanjakan justru makin ekstrim. Ada posisi di mana kami harus berhenti total di tanjakan yang terjal karena harus bergantian jalan dengan mobil yang turun. Pada kondisi ini, kinerja dari Auto Vehicle Hold yang menahan rem parkir elektronik di Wuling Cortez sangat membantu untuk menjaga mobil tetap diam selama yang diperlukan. Tak terasa 3 jam telah ditempuh, dan kami perlahan mulai memasuki turunan menuju Pasir Berbisik, sebuah alarm bergambar kopi yang menunjukkan bahwa kami sudah lama mengemudi pun muncul.

Turunan menuju Pasir Berbisik sendiri bisa dikatakan cukup terjal, dimana engine brake berperan cukup baik di kondisi ini, Ya memang mobil ini manual sih. Adanya sunroof pun membantu para awak media yang ingin mendokumentasikan perjalanan bersama Wuling Cortez ke Bromo ini. Sayangnya, kami agak telat sampai di Pasir Berbisik, karena ada beberapa kendaraan lain yang bukan dari rombongan kami terlihat mogok di jalan sehingga memaksa kami untuk berhenti dan menunggu jalanan bisa dilewati. Kami pun mengabadikan momen di Pasir Berbisik, dan berjalan melewati jalanan pasir menuju tempat peristirahatan hari pertama di Jiwa Jawa Resort.

Hari kedua, saatnya berjalan turun menuju Probolinggo, dimana jalanan yang diambil cukup berliku dan juga tak mulus berkat adanya beberapa titik yang sedang melakukan pembangunan tol. Disini suspensi dan handling dari Wuling Cortez kembali bisa kami eksplorasi. Suspensinya nyaman, karena terbukti dengan dua awak media di kabin tengah yang tertidur pulas. Untuk handing sendiri tentunya ringan khas mobil jaman now, sehingga kami cukup ragu apakah setir akan memberat di kecepatan tinggi. Perjalanan kami berlanjut menuju Kaliandra, sebuah resort bertemakan klasik yang menjadi lokasi shooting film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck“. Lepas dari Kaliandra, kami kembali refreshing dengan bermain mini Golf di kawasan Taman Dayu Golf, Pandaan.

Nah, selepas dari Taman Dayu, eksplorasi kembali berlanjut. Saatnya masuk ke pintu tol Taman Dayu menuju exit Tol Gempol-Bangil. Ini juga jadi momen yang cocok untuk memeras peforma dari Wuling Cortez. Keraguan kami akan setir yang tak akan memberat di kecepatan tinggi pun akhirnya terjawab. Setirnya memberat sedikit di kecepatan tinggi. Saat kami berjalan santai di mode Eco, mesin akan memaksa transmisi untuk berputar maksimal di 2.000 rpm, sehingga shifting akan terjadi di 2.000 rpm. Namun, kaki kamipun gatal dan mengubah transmisi ke mode sport, dimana kondisi langsung berubah 180 derajat. Di mode ini, mesin akan berputar di angka 2.000 rpm keatas, dan saat kami kickdown, transmisi akan shifting di angka 4.000 rpm.

Raungan mesin VVT-i TECH 1.800 cc milik Wuling Cortez ini sendiri sejujurnya cukup mengganggu, karena memang suara mesin cukup masuk ke dalam kabin. Cruising dengan kecepatan 100 km/jam dengan mode sport sendiri cukup rata di sekitar 3.800 rpm. Kami juga sempat memacu kendaraan hingga kisaran 150 km/jam kurang sedikit di jalan tol. Lepas dari exit tol Bangil, kami bertukar dengan salah seorang teman media lain sudah senior dan kawakan. Beliau ternyata lebih berani lagi memacu mobil ini, mungkin untuk tahu limitnya di mana. Waktu itu, kami langsung memposisikan diri di bangku ketiga untuk merasakan suspensi belakangnya. Dan surprisingly, mobil ini masih nyaman dengan kecepatan tersebut, walau memang bukan mobil ternyaman sejagat raya.

Hari ketiga, praktis kami hanya akan berjalan di kawasan Surabaya saja, di mana kemacetan menjadi makanan harian di kota Pahlawan ini. Secara umum, Wuling Cortez lebih nyaman jika digunakan di mode sport, dimana respon mesin lebih terasa untuk kondisi stop and go. Aneh, harusnya mode Eco paling pas buat macet-macetan dan irit-iritan, ini malah mode Sport yang cocok. Kalau kalian kepo tentang konsumsi BBM-nya, terakhir kami memantau MID ada di angkat 11,4 km/liter sejak mencapai Surabaya. Di lain waktu, saat kami menanjak di kawasan Bromo MID menunjukkan angka 7,8 km/liter.

Kesimpulan

Secara umum, mobil ini benar – benar memberikan kejutan pada kami. Tiga kata yang bisa kami katakan adalah Feeling is Believing. Cobalah, maka kalian akan tahu rasanya. Pemikiran yang negatif dan pesimis yang kami lontarkan di awal mampu dibuktikan oleh Wuling Cortez dengan mampu mendaki Gunung Bromo, nyaman digunakan di jalanan rusak, dan juga fitur-fitur seperti AVH dan EPB yang jelas berguna untuk kami. Nah, apakah mobil ini sempurna?

Jelas tidak, masih ada banyak kekurangan dan juga pekerjaan rumah bagi Wuling Cortez. Transmisi i-AMT-nya memang lebih halus dari milik tetangga, namun tentunya hentakan dari shifting-nya tak bisa dipungkiri, walau mungkin akan menjadi sensasi menarik bagi beberapa orang. Tapi kebanyakan mobil keluarga tujuannya adalah kenyamanan seluruh penumpangnya, tidak ada yang cari sensasi jambakan setan dan lemparan iblis di mobil seperti ini. Untuk itu, perpindahan gigi yang halus dan tenang bakal lebih menjual daripada jambakan dan hentakan.

Menggunakan transmisi ini sendiri memang perlu adaptasi. Serius, kami sendiri baru bisa membiasakan diri di hari kedua untuk membawa transmisi AMT milik Wuling Cortez ini secara halus. Pedal rem dari Wuling Cortez ini sendiri juga menjadi salah satu kekurangan. Pedalnya keras dan agak susah untuk ditakar atau dibaca. Absennya rear defogger juga membuat visibilitas kebelakang saat kaca mengembun menjadi kurang baik. Jok kulit sintetis yang keras pun juga menjadi pekerjaan rumah bagi Wuling Cortez.

AC dari Wuling Cortez ini sendiri juga cukupan, karena ada beberapa kondisi dimana kami merasa AC-nya kurang dingin. Namun secara umum, fitur-fitur yang ditawarkan, kenyamanan suspensi, setir dengan EPS yang oke, dan juga kabin yang lega dan nyaman menjadi nilai tambah yang susah kalian dapatkan dengan kualitas yang sama namun harga di bawah 300 jutaan.

Jadi, kesimpulannya, mobil ini masih overkill dengan apa yang ditawarkan. Jika kalian bisa tolerasi segala kekurangan mobil ini, Wuling Cortez jelas bisa menjadi salah satu tawaran yang menarik bagi kalian yang mencari MPV bongsor yang nyaman dan juga menawarkan fitur yang melimpah. Sama seperti Confero, ia mungkin bukan yang paling menggugah buat dibawa sendiri, namun sebagai mobil keluarga yang nyaman dan lengkap, ia hampir meng-cover seluruh aspek vital. Nah, pilihan tentunya kembali lagi ke kalian, apakah kalian tertarik dengan Wuling Cortez ini atau tidak. Coba saja, dan rasakan sendiri.

What We Like

– Suspensi dan kaki – kaki

– Radius Putar

– Setir dengan EPS yang bisa menyesuaikan Kecepatan

– Auto Headlamp & Wiper

– Auto Vehicle Hold & Electronic Parking Brake

– Kabing Yang Nyaman

– Sistem Infotainment + Navigasi

What We Don’t Like

– Raungan mesin

– Bahan Jok Sintetis yang Keras

– Tak ada Defogger

– Pedal Rem keras

Shifting Transmisi Yang Tak Halus

Read Prev:
Read Next: