Pabrik Nissan Jepang Dicabut Sertifikat ISO-nya, Ada Apa?

by  in International&Nissan
Pabrik Nissan Jepang Dicabut Sertifikat ISO-nya, Ada Apa?
0  komentar

AutonetMagz.com – Kalau bicara produksi mobil, kita tidak boleh luput mengingat adanya sertifikasi ISO yang menjadi jaminan kualitas produk secara internasional dan diakui secara resmi di seluruh dunia. Standar ISO ditentukan oleh Organisasi Standarisasi Internasional yang bermarkas di Swiss. Selain standar yang menargetkan kualitas produk, ada juga standar untuk mekanisme pengendalian kualitas organisasi, yang dinilai oleh lembaga sertifikasi.

Nah, Nissan baru-baru ini terlihat bermasalah dengan standar kualitasnya. Diketahui bahwa ada enam pabrik Nissan di Jepang yang resmi dicabut sertifikat ISO-nya oleh sebuah badan asosiasi dan inspeksi yang mengurus seritifikasi ISO di Jepang, dan keenam pabrik itu mengurus produksi model domestik Jepang. Meski demikian, ternyata pabrik-pabrik itu juga dideteksi mendaftarkan ISO untuk produksi ekspor, namun belum disetujui, baru untuk domestik saja.

Kesalahan yang dilakukan Nissan terungkap setelah pemeriksaan di tempat oleh Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata pada 18 September. Mereka menemukan bahwa yang melakukan pemeriksaan keamanan sebelum mobil meninggalkan pabrik bukan inspektur bersertifikat seperti seharusnya, tapi “asisten inspektur”. Jika yang memeriksa inspekturnya, tidak masalah, tapi asisten inspektur tidak berhak menginspeksi seperti inspektur.

Lebih lanjut, salah satu petinggi di pabriknya mengakui bahwa mereka telah kehilangan sertifikasi mereka pada akhir bulan lalu. Akibatnya, Nissan menunda pengiriman dan produksi mobil baru dari semua pabrik domestiknya pada 19 Oktober setelah menemukan bahwa inspeksi yang salah masih dilakukan setelah meminta maaf atas hal tersebut. Barulah pada tanggal 8 November, pengiriman dan produksi lanjut kembali.

Nissan sendiri melakukan recall terhadap 1,2 juta kendaraan yang dibuat dari Oktober 2014 hingga September 2017 untuk menjalani pemeriksaan sistem keselamatan yang tidak berfungsi semestinya, yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar 25 M Yen (2,9 T Rupiah). Skandal ini juga menimbulkan keraguan akan tata kelola perusahaan di industri manufaktur dan di luar Jepang. Mungkin merek lain pun nanti kena pemeriksaan, khususnya di bawah aliansi Nissan.

Pejabat Nissan mencatat bahwa perubahan tersebut hanya berlaku untuk pasar domestik dan mereka akan melakukan yang terbaik untuk memenangkan kepercayaan lagi dari pelanggan mereka. Yah, semoga memang hanya untuk domestik saja dan yang lain tidak kena, soalnya Nissan sendiri kan sedang menyiapkan Xpander versi mereka sendiri untuk dijual sebagai sebuah Nissan. Apa opinimu? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: