Mengenal VVTi-E dan Camless Engine

by  in Hi-Tech&Koenigsegg
0  komentar

AutonetMagz.com – Kerja dari mesin 4-tak ciptaan Nikolaus Otto melalui 4 tahap yang kita kenal sebagai hisap, kompresi, kerja dan buang. Peranan dari siklus tersebut memerlukan sinkronisasi dari crankshaft sebagai poros putaran piston dan juga camshaft yang secara teori bergerak setengah kali dari crankshaft. Seiring perkembangan jaman, semakin banyak pabrikan mobil yang menciptakan manipulasi bukaan katup agar tercipta efisiensi bahan bakar. Seperti yang dilakukan oleh Toyota dengan VVT-i, Honda dengan VTEC-nya, Suzuki dengan VVT, dsb.

Pada teknologi VVT-i peran variabel dari camshaft dilaksanakan oleh aktuator yang memanfaatkan tekanan oli sehingga dapat mengubah kecepatan rotasi dari camshaft. Hal ini kuno? Ya tentunya sebab teknologi ini sudah berusia 20 tahun lebih sejak pertama kali dikenalkan. Seiring dengan perkembangan jaman mulai terdapat perkembangan yang awalnya hanya mengubah variabel intake, sekarang variabel exhaust pun turut diubah dengan cara yang sama.

Lalu apa itu VVTi-E? VVTi-E merupakan versi VVT-i yang dibantu oleh aktuator elektrik, seperti camless engine rancangan Koenigsegg? Ternyata tidak, pada VVTi-E masih terdapat camshaft, namun timing dari camshaft akan digerakkan oleh motor listrik meskipun untuk katup pembuangan masih menggunakan aktuator hidrolik biasa. Dengan teknologi ini efisiensi mesin dapat tercapai terutama pada kondisi yang tidak stabil seperti temperatur yang dingin dan kecepatan mesin yang rendah. Contoh mobil Toyota yang menggunakan teknologi ini adalah Toyota Vitz/Yaris, Corolla Axio, Spade, dan Sienta yang tentunya bukan versi Indonesia.

Namun, pada mobil yang diperuntukan untuk kecepatan tinggi, peran dari camshaft yang terintegrasi dengan belt/chain dari crankshaft seringkali menimbulkan masalah. Floating cam / Valve float, dapat menyebabkan emisi bahan bakar yang buruk, konsumsi bbm yang sangat boros, hingga rusaknya mesin akibat posisi dari valve dan piston yang tidak sesuai, hal ini terjadi pada rpm yang sangat tinggi.

Dalam 13 tahun terakhir Christian von Koenigsegg telah memikirkan cara paling efisien untuk mengatasi hal tersebut. Koenigsegg memikirkan bagaimana kerja dari katup dapat diatur secara elektrik, sehingga mengurangi kerugian mekanis, Selain itu katup yang diatur secara elektrik dengan menggunakan aktuator akan mempermudah berbagai variabel bukaan katup, serta membuat beban mesin berkurang hingga 30% karena absennya pulley dan belt dari crankshaft.

Untuk itu Koenigsegg membuat teknologi yang bernama FreeValve. FreeValve atau Camless Engine memungkinkan kita menggunakan bensin dengan oktan yang rendah sekalipun. Mesin akan dengan mudah menyesuaikan katup agar tidak terjadi knocking, selain itu efisiensi diatas 14 km/liter akan dengan mudah diraih oleh mesin 1.500cc 4 silinder.

Tenaga? Klaim mereka 250hp pun dapat dengan mudah diraih. Teknologi ini akan memaksimalkan internal combustion engine sebelum era mesin listrik akan mendominasi dimana – mana. Terutama Koenigsegg akan menggunakan tahun 2017 sebagai momen pengenalan kepada dunia tentang Camless Engine.

Sepertinya dalam beberapa tahun mendatang, meskipun peran dari mesin listrik cukup menjanjikan, dunia kita tidak akan dengan mudah meninggalkan mobil berbahan bakar fosil. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, harapan untuk mesin yang makin efisien dan ramah lingkungan masih ada. Akankah mesin jenis ini menjadi umum dan dapat dipakai untuk mobil efisien seperti LCGC? Sampaikan di kolom komentar ya! Agar lebih jelas, tonton ilustrasinya pada video dibagian atas artikel.

Read Prev:
Read Next: