McLaren Senna : Pertaruhan Nama Sakral di Sosok Binatang Buas

by  in International&Mclaren
McLaren Senna : Pertaruhan Nama Sakral di Sosok Binatang Buas
0  komentar

AutonetMagz.com – Sepanjang sejarah McLaren, mereka tidak mau ambil nama yang normal buat mobil-mobilnya. Sebut saja McLaren F1, MP4-12C, 650S, 570S, P1 dan 720S, nama mobil yang McLaren berikan lebih mirip nama kode paspor atau nomor seri uang kertas daripada nama mobil. Selalu berkutat dengan kombinasi angka dan huruf, namun untuk hypercar baru mereka McLaren pun menanggalkan idealismenya. Mereka akhirnya pakai nama yang bukan diambil dari kode paspor.

Nama yang dipilih juga bukan sembarang nama, sebab kita membicarakan sebuah nama legendaris di dunia otomotif : Ayrton Senna. Inilah McLaren Senna, dan ya, nama Senna sungguh diambil dari nama Ayrton Senna. Keluarga Senna sudah sepakat dengan McLaren soal izin pemakaian nama Senna di mobil ini, termasuk Bruno Senna yang masih satu keluarga dengan Ayrton Senna. Bruno Senna sendiri adalah pembalap dan brand ambassador McLaren.

Mengambil tulang punggung McLaren 720S, McLaren lebih fokus kepada fungsi daripada penampilan. Maka dari itulah, penampilan McLaren Senna tidak terlihat cantik seperti Ferrari J50 atau gahar seperti Lamborghini Reventon, bahkan masih lebih cantik McLaren 720S standar. Namun semua yang McLaren tempel di mobil ini adalah demi mengendalikan udara dan meraih gaya tekan ke bawah sebesar-besarnya.

Jika anda kepo apakah McLaren Senna sudah punya sistem aerodinamika adaptif di depan dan belakang, aero blade pemecah angin, sirip udara aktif di dalam air intake dan spoiler belakang setinggi tiang jemuran, Senna punya itu semua. McLaren tidak ambil pusing kalau mobil ini tidak cantik, yang penting semua harus jelas manfaatnya. Panel kaca di bagian bawah pintunya memang mirip truk pantura, tapi fungsinya bisa dijelaskan.

Panel kaca tersebut adalah untuk mengurasi kesan sempit di kabin, sebab kabin McLaren Senna sangat fokus kepada rasa mobil balap, tidak terlalu serius soal kehalusan atau kemewahan. Panel kaca ini sebenarnya agak berat, jadi kalau yang tidak suka, bisa ganti dengan panel carbon fiber yang lebih enteng namun bakal membuat kabin terasa sumpek. Strut hidrolik pembuka pintu yang warna biru itu saja dibiarkan terbuka tanpa dibungkus apapun. Balik lagi, ini McLaren, bukan Bentley.

Kabin McLaren Senna adalah tempat di mana kita bisa menjumpai banyak bahan komposit carbon fiber. Di sini tidak bisa bawa banyak barang, soalnya lacinya hanya satu di belakang kursi. Setirnya tidak ada tombol apapun, panel instrumennya mirip 720S dan semua tombol-tombol penting seperti power window dan tombol start/stop engine ada di langit-langit. Wuih, sudah seperti kokpit pesawat saja ya? Khusus untuk Senna, ada mode Race selain mode Comfort, Sport dan Track.

Mesin 4.000 cc V8 twin turbo milik McLaren Senna kurang lebih sama dengan milik 720S. Kodenya M840TR, namun tenaganya naik drastis jadi 800 PS dan torsi 800 Nm. Ini adalah mesin paling bertenaga yang dibuat McLaren, bahkan lebih bertenaga dari McLaren F1 dan P1. Eh tunggu, bukannya P1 punya 903 hp ya? Iya, tapi 903 hp itu kan karena ada hybrid. Tanpa teknologi hybrid, mesin V8 twin turbo P1 “hanya” punya 722 hp. Jadi tetap, Senna paling bertenaga.

Dikawinkan dengan girboks kopling ganda, McLaren Senna masih malu-malu mengumumkan potensi performanya di atas aspal. Ekspektasi kami, setidaknya 0-100 dalam 2,5 detik dan top speed 360 km/jam lebih harusnya sudah di tangan. Berat total McLaren Senna hanya 1.198 kg, alias amat sangat sungguh ringan, bahkan lebih ringan daripada McLaren F1 yang legendaris. Keempat rodanya pakai suspensi double wishbone, sudah termasuk damper adaptif sebagai standar.

Perangkat standar lainnya adalah RaceActive Chassis Control II (RCC II) buatan McLaren, sudah tertanam di anti roll bar bawaannya. Keempat dampernya terhubung secara hidrolik, dan ada 2 katup di tiap damper untuk mengatur bound dan rebound dampernya. Kalau soal kekakuan, ada sistem kinetic roll bernama K-Damper untuk dampernya. Rem Senna sudah carbon ceramic, dan bannya dirancang oleh Pirelli yang diset buat sirkuit, tapi dapat sertifikat layak pakai di jalan raya.

Dengan batasan produksi hanya 500 unit saja, semua unit McLaren Senna konon sudah habis terjual. Rentang banderolnya mulai 1 hingga 2 juta Dollar AS, pembeliannya bisa dengan cara biasa atau lelang. Hasil lelang sudah direncanakan untuk mendanai Senna Foundation. Well, sebenarnya ini bukan kartu as McLaren, sebab masih ada BP23 yang bakal jadi supercar abad 21 dengan 3 jok seperti McLaren F1 dan tenaganya pasti lebih ganas. Apa opinimu? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: