GAIKINDO Usulkan Mobil Listrik Sekelas LCGC, Murah Meriah?

GAIKINDO Usulkan Mobil Listrik Sekelas LCGC, Murah Meriah?
0  komentar

AutonetMagz.com – Pergerakan mobil listrik di Indonesia memang mulai masif dalam 1 hingga 2 tahun terakhir. Sejumlah automaker alias pabrikan mobil mulai berani mendatangkan mobil bertenaga listrik murni, walaupun banderolnya masih terbilang tinggi. Adanya Perpres mengenai percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik memang berpengaruh banyak pada kondisi ini. Lantas, bagaimana berikutnya? Apakah mobil listrik akan terus bertahan dengan range harga yang ada di atas 500 jutaan Rupiah? Tentunya posisi tersebut akan sulit untuk dijangkau oleh sebagian masyarakat Indonesia. Dan disinilah GAIKINDO mulai buka suara.

LCGC versi Mobil Listrik? Bisa?

Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum GAIKINDO menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia harus aktif untuk membuat program semacam LCGC/KBH2 seperti yang sempat dilakukan pada tahun 2013. Namun, kali ini khusus untuk mobil listrik. Artinya, beliau menyarankan untuk menghadirkan program khusus setara LCGC untuk segmen mobil listrik. “Pendekatannya harus seperti itu, karena daya beli masyarakat kita masih di level Rp 200 jutaan. Kita ingin ada percepatan, kita ingin mengurangi harga, pemerintah juga harus turun tangan,” ujar Kukuh, dikutip dari laman otomotif Kompas. Beliau berpendapat bahwa langkah serupa sebenarnya sudah dilakukan di Eropa. Dan langkah yang sama bisa saja dilaksanakan di Indonesia dengan memberikan sejumlah keringanan atau pembebasan pajak kendaraan.

Di Eropa misalnya, ada VW harga murah, di bawahnya Polo. Mereka ingin masyarakat punya daya beli,” ujar beliau. “Karena segmen pasarnya masih kecil, kita harus pastikan skala ekonominya kena. Kalau tidak begitu, vendor komponen lokal kita yang menanggung“, tambahnya. Sebagai catatan, salah satu mobil listrik termurah yang dijual di Eropa adalah Dacia Spring EV dengan banderol yang tidak sampai 300 jutaan. FYI, Dacia Spring sendiri adalah Renault Kwid versi EV atau dikenal juga dengan nama Renault City K-ZE yang dirilis perdana di China. Sejumlah mobil listrik asal China yang tergabung dalam program LSEV (Low Speed EV) juga dibanderol dengan harga yang murah, seperti Wuling Hongguang Mini EV, Baojun E100, dan kawan – kawannya. Toyota juga sebenarnya punya produk serupa seperti Toyota C+Pod EV yang dibanderol di angka 200 jutaan lebih sedikit, namun untuk kepentingan fleet.

Mobil Listrik Masih Mahal

Saat ini, publik di Indonesia harus merogoh rekening cukup dalam untuk memboyong sebuah mobil listrik. Mobil listrik yang dipasarkan di Indonesia dibanderol di atas 500 jutaan Rupiah. Sebut saja Hyundai Kona EV, Hyundai IONIQ EV, dan Nissan Leaf yang kesemuanya bermain di angka 600 jutaan ke atas. Memang ada sosok Renault Twizy yang dijual Maxindo Renault Indonesia dengan banderol 400 jutaan Rupiah, namun mobil ini memiliki dimensi sangat kompak dan hanya muat 2 penumpang saja. Sedangkan kita tahu bahwa orang Indonesia biasanya lebih suka mobil dengan kapasitas penumpang yang banyak dan ruang yang lega. “Nah kita sedang dalam proses itu. Kalau itu jadi, menarik. Kalau satu dari tiga komponen utama mobil listrik (baterai, inverter, dan motor listrik) ada di Indonesia, harga bisa ditekan,” tutup Kukuh.

Jadi, bagaimana menurut kalian, kawan?

Read Prev:
Read Next: