First Impression Review Mitsubishi Xpander 2017 Indonesia

0  komentar

AutonetMagz.com – Saat tugas Toyota Kijang digantikan oleh duet Toyota Avanza-Daihatsu Xenia, keduanya terjual dengan amat baik. Tergiur untuk memborbardir duet Astra ini, banyak merek Jepang lain yang merancang MPV entry level dengan tujuan merebut konsumen Avanza-Xenia. Sebutlah Nissan Grand Livina, Suzuki Ertiga dan Honda Mobilio yang sudah lama memimpikan manisnya raihan Toyodai.

Untuk semester kedua tahun 2017 ini, ada 2 merek lagi yang berusaha membabat habis duo Toyodai. Dari China yakni Wuling Confero S, sementara dari Jepang ada Mitsubishi Xpander yang tahun lalu muncul sebagai Mitsubishi XM Concept. Untungnya, setelah berevolusi dari XM menjadi Xpander, ia masih mirip 80% dengan konsepnya. Apa saja yang dijanjikan Xpander untuk membuat Avanza bertekuk lutut? Simak review kali ini!

Eksterior

Bahasa desain Dynamic Shield membuat Mitsubishi Xpander sungguh terlihat seperti “Mitsubishi masa kini,” jauh dengan Mirage yang lebih layak disebut “Mitsubishi masa gitu?” Nah, untuk ukuran low MPV entry level yang bukan LCGC, desain Xpander sungguh patut mendapat apresiasi. Ada banyak detail cantik yang kadang hanya mimpi untuk tampil di mobil keluarga dengan banderol terjangkau. Kita bisa mulai dari bagian depannya.

Lampu yang tipis dan menyatu dengan tarikan desain muka Xpander itu bukanlah lampu utama, melainkan sejenis LED Positioning Lamp. Lampu utamanya ada tepat di bawahnya, berukuran besar dan ditempatkan bertingkat di atas lampu seinnya. Foglamp bulatnya dipasang pada front lower guard yang bentuknya lumayan gagah, mirip SUV. Tidak ada projector lens seperti Veloz atau Confero,hanya diamond cut dengan bohlam halogen.

Posisi lampu yang rendah juga sedikit bikin was-was, mungkinkah ia rentan retak atau pecah akibat lemparan kerikil dari roda mobil yang melaju di depannya? Biar waktu saja yang membuktikan. Dengan ground clearance mencapai 205 mm, ia lebih tinggi daripada Toyota Veloz atau Honda BR-V, sudah begitu overhang depan mobil ini pun tidak panjang untuk ukuran MPV. Fender Xpander kelihatan padat berisi, plus ada kesan seperti pahatan yang selaras dengan bonnet yang tinggi.

Pelek Mitsubishi Xpander memiliki desain, pemilihan warna dan finishing yang bagus untuk two-tone color bawaannya. Pelek two tone hanya untuk varian Sport dan Ultimate, sementara tipe lain mendapat pelek yang lebih sederhana dan kecil. Ban di tipe Sport dan Ultimate mengandalkan ban fuel-saving dari Dunlop, yakni Dunlop Enasave untuk membungkus pelek 16 incinya. Rem depan cakram, belakang teromol namun sudah ada ABS dan EBD.

Spion Xpander yang besar hanya mencuri perhatian kami sebentar saja, karena ada sebuah tombol kecil kelihatan terpasang di handle pintu driver. Artinya, Xpander tipe menengah ke atas pasti sudah memakai smart entry yang tinggal memencet tombol di pegangan pintu dan kuncinya cukup dikantungi saja. Mulai dari pintu depan ke lampu belakang, ada lekukan bodi tegas yang setelah diteliti, desainnya mirip dengan milik Honda Jazz GK5.

Lis chrome di kaca Mitsubishi Xpander cukup pas, tidak membuatnya norak. Kami suka aksen floating roof di pilar D, karena bagian yang hitam-hitam itu bukan panel bodi yang dicat hitam seperti Toyota Yaris atau distiker hitam macam Hyundai i20, melainkan kaca seperti Honda Mobilio. Cukup susah lho membuat bentuk seperti itu. Mitsubishi Xpander tidak punya roof spoiler standar, tapi desain bagian atasnya sudah berbentuk seperti roof spoiler.

Detail cantik lain dari Mitsubishi Xpander adalah lampu belakang LED bar yang berbentuk huruf L. Jangan terkecoh, lampu remnya sih masih bohlam biasa, LED-nya itu hanya aktif jika lampu utama dinyalakan, tapi ini sudah cukup jempolan. Tidak ada chrome norak atau defogger di belakang, namun di tipe Sport ini kami tidak melihat adanya kamera parkir, sebab kamera parkir baru ada di tipe Ultimate.

Ada sejenis guard lagi di bumper belakang, dan ini secara tidak langsung menambah kesan gagah dari Xpander. Sayang sekali knalpotnya belum diberikan muffler cutter buat melengkapi penampilannya. Oh ya, jika kemarin di GIIAS 2017 ada Mitsubishi Xpander Ultimate dengan body kit, body kit tersebut bukan bawaan standar, melainkan opsional yang harus menambah biaya lagi.

Interior

Jika ada yang bilang bahwa Xpander itu revolusioner, mungkin maksudnya hanya di eksterior saja. Interiornya cenderung normal buat mobil keluarga sekelas ini. Bahan plastiknya standar MPV di kelasnya, namun terasa lebih solid dari segi permukaan dan pemasangannya. Built quality dan finishing interiornya pun bagus, tapi jangan tertipu oleh jahit-jahitan palsu di kabin baris pertama dan keduanya.

Interior Mitsubishi Xpander punya 2 pilihan warna, yakni full black untuk tipe Sport atau paduan black-beige buat tipe lainnya. Warna full black untuk kabin Xpander tipe Sport punya kesan sporty, namun yang black-beige di tipe lain kesannya lebih lapang dan elegan. Bahan jok Xpander adalah fabric, dan jok ini punya busa yang ketebalannya bagus, sehingga terasa empuk kala diduduki dan rangka joknya tak terasa kala kita menekan-nekan kursinya.

Khusus untuk Xpander yang warna kabinnya black-beige, sebaiknya segera pasang sarung jok untuk melindungi joknya. Warna jok yang cerah membuatnya gampang kena noda jika pemilik atau penumpangnya bukan orang yang cinta kebersihan. Kalau tidak mau ambil pusing, interior Xpander tipe Sport yang berwarna hitam cenderung lebih minim perawatan, karena warna hitam tak terlalu gampang kotor. Sekalipun kena noda, mungkin susah untuk dilihat, apalagi kalau nodanya sama-sama gelap. Cocok buat yang malas bersih-bersih.

Menjadi pengemudi Xpander, kita akan merasakan posisi duduk yang cenderung meninggi namun tetap ergonomis. Pengaturan posisi mengemudi sudah termasuk jok yang dilengkapi mekanisme reclining, sliding dan height adjuster, namun height adjuster-nya memakai model putar, bukan pompa. Urusan pengaturan setir, Mitsubishi Xpander adalah satu-satunya di kelasnya yang punya pengaturan tilt & telescopic buat setirnya, sementara MPV lain hanya tilt saja. Nice!

Mitsubishi Xpander mempunyai panel instrumen yang desainnya mirip-mirip dengan kepunyaan Pajero Sport, baik itu dari segi desain, jenis font maupun layar MID-nya. MID Xpander memakai layar full color, serta ada animasi Xpander saat mobil baru dinyalakan. Untuk memilih-milih infonya, tombol pengaturannya bukan di setir, melainkan di sisi kanan panel instrumen. Setir Xpander mirip kepunyaan Mirage, tapi adanya aksen glossy black di bagian dalam membuatnya sedikit lebih wah.

Selain dari smart entry yang sudah disebutkan tadi, Mitsubishi Xpander juga sudah punya tombol start-stop engine di mana hanya Xpander yang memilikinya dibandingkan dengan rival. Di sekitar tombol itu, pengemudi akan menemukan tombol pengaturan plus pelipatan spion elektrik. Tak hanya itu, Xpander tipe Sport dan Ultimate sudah punya stability control dan hill start assist. Wah, mau mengganggu Honda Mobilio RS CVT nih soal fitur keselamatan.

Head unit pada Xpander tipe Sport cenderung basic, sebab ia tidak dilengkapi bluetooth atau layar sentuh meski sudah ada steering switch control di setirnya. Barulah di tipe Ultimate, Xpander diberikan head unit yang lebih bagus dengan layar sentuh plus koneksi berlimpah seperti bluetooth dan USB. Ia juga bisa menjawab dan menutup telepon serta melakukan voice command, terbukti dengan adanya tombol-tombol untuk fungsi tersebut di setir Xpander tipe Ultimate.

Kontrol AC pada Mitsubishi Xpander bukanlah common parts dengan Mitsubishi Mirage, dan model kenopnya tidak terlihat murah untuk MPV sekelas ini. Bukan AC digital seperti Mobilio memang, tapi ini sudah cukup. Satu tombol di bawah kenop AC-nya adalah untuk mengatur sirkulasi udara, dan persis di bawahnya ada tempat penyimpanan kecil plus sebuah power outlet. Ada juga kantong kecil lain di sisi dekat dengkul kiri pengemudi dan dengkul kanan penumpang depan.

Tuas transmisi otomatis Xpander sudah dibalut kulit, sementara versi manualnya biasa saja. Tolong dicatat, girboks manual Xpander punya gigi mundur yang agak beda dengan mobil Jepang kebanyakan, karena untuk masuk gigi mundur persneling harus dioper ke arah kiri depan. Transmisi manualnya 5 percepatan, sementara yang otomatis punya 4 percepatan dengan tombol overdrive.

Rem tangan Xpander terasa mantap dan lokasinya dekat dengan driver, sementara di samping kirinya ada 2 buah cup holder. Kapasitas center console box-nya lumayan, dan di bagian dalamnya ada 1 power outlet jika yang di depan tadi tidak cukup. Terdapat laci rahasia di bawah jok penumpang depan untuk menyimpan barang-barang kecil, plus kantong kecil di depan penumpang yang paling banter dipakai untuk menaruh koin.

Saat membuka glovebox Xpander, sebenarnya kapasitasnya luas, hanya saja luasnya terpotong oleh boks sekring mobil yang letaknya ada di sisi kiri glovebox. Heran, ini mobil Jepang atau Prancis sih? Kan biasanya mobil Prancis yang begini. Untungnya, kantong pintunya masih lumayan praktis untuk menyimpan barang bawaan seperti botol dan lain-lain.

Duduk di kabin baris kedua Mitsubishi Xpander, maka ruang yang didapat untuk orang dewasa hingga 178 cm masih tergolong bagus. Ruang kaki dan kepala masih lega, dan ia bisa digeser atau direbahkan secara terpisah seperti hanya MPV lain. Sama seperti Suzuki Ertiga, Mitsubishi Xpander punya armrest tengah yang bisa dipakai jika tak ada yang duduk di jok tengah baris kedua. Jok yang terpisah 60:40 ini hanya punya 2 headrest, jadi yang duduk di tengah situ sebaiknya anak kecil saja.

Ngomong-ngomong soal fasilitas di baris kedua, kelengkapan standar sudah termasuk AC double blower, kantong di balik jok depan dan kantong pintu yang tak kalah praktis dengan kantong pintu depan. Jika penumpang tengah butuh mengisi daya gadget yang mereka bawa, mungkin bisa memakai power outlet di dalam center console box yang sudah kita bahas tadi. Gundukan di lantai yang tidak begitu tinggi pun jadi poin plus dibanding salah satu rivalnya.

Layaknya Honda Mobilio dan Toyota Avanza, penumpang baris ketiga dapat masuk dengan cara one touch tumble, bukan one touch sliding seperti Suzuki Ertiga. Di sini, penumpang baris ketiga harus kompromi dengan penumpang baris kedua kalau mau dapat ruangan yang sama-sama enak, sebab jika jok baris kedua mundur pol, penumpang jok baris ketiga tidak akan dapat ruang kaki jika yang duduk adalah orang dewasa. Lain cerita dengan ruang kepala yang masih cukup tersisa.

Yah, setidaknya penumpang baris ketiga bisa cukup terhibur dengan adanya headrest sungguhan, reclining satu step, cup holder dan ada power outlet di baris ketiga. Ya, jadi tidak hanya penumpang baris pertama atau kedua yang bisa mengisi daya gadget-nya, penumpang baris ketiga juga bisa. Soal jok, jok di baris ketiga masih sama tebalnya dengan yang di baris pertama atau kedua. Ertiga punya jok yang tebal juga, namun ruangannya lebih terbatas daripada Xpander.

Bagasi Mitsubishi Xpander punya kapasitas yang luas, dan ada tempat penyimpanan tersembunyi di balik penutup lantai bagasinya. Ini bisa dipakai jadi tempat menyimpan segitiga darurat, dongkrak atau kotak P3K. Pelipatan bagasi Xpander sama cerdasnya dengan Ertiga dan lebih baik daripada Mobilio, Avanza atau Confero, sebab ruang yang dihasilkan bisa rata lantai.

Well… Tidak rata lantai sih sebenarnya, melainkan agak menanjak, tapi metodenya termasuk smart dibandingkan pelipatan Avanza, Mobilio atau Confero yang ala kadarnya. Fitur keselamatan? Well, ada ABS, EBD, stability control, dual airbags, hill start assist dan lain-lain.

Mesin

Seperti mayoritas pemain di kelas ini, Mitsubishi Xpander mempercayakan mesin 1.500 cc 4 silinder untuk jadi jantung Xpander. Mesin berkode 4A91 ini punya tenaga 103 PS dan torsi 141 Nm yang disalurkan ke roda depan via girboks otomatis 4 percepatan atau manual 5 percepatan. Posisi mesinnya agak turun, mungkin supaya titik beratnya bagus.

Untung saja posisi air intake Xpander cukup tinggi, sehingga meminimalkan kekhawatiran kala harus melibas genangan air yang agak tinggi. Pengerjaan ruang mesin Xpander pun masih bagus, terbukti dengan pengecatan yang rapi, bahan peredam yang bagus dan minimnya las-lasan yang dibiarkan begitu saja. FYI, kode mesin Xpander mirip dengan mesin Mitsubishi Colt hatchback, bahkan output tenaga serta torsinya pun sama.

Kesimpulan

Teringat kala merek-merek lain dulu berusaha menghajar Toyota Kijang dengan cara membuat mobil keluarga dengan nama-nama binatang. Isuzu muncul dengan Isuzu Panther dan Mitsubishi menjagokan Mitsubishi Kuda. Entah sejarah berulang atau bukan, namun pergerakan merek-merek lain yang berusaha mengalahkan Avanza mengingatkan kami akan bagaimana dulu Toyota Kijang diserang dari sana-sini oleh merek Jepang lainnya.

Mitsubishi Xpander pun sama. Berusaha untuk merebut hati dan rekening calon konsumen Toyota Avanza, ini seperti Mitsubishi Kuda yang dulu mengincar calon pengguna Toyota Kijang. Untuk tugas ini, Mitsubishi Xpander terasa dirancang dengan amat baik. Poin kuatnya ada pada penampilan yang jauh dari kesan medioker, built quality yang ciamik, fitur-fitur yang menggiurkan, fitur keselamatan mantap dan kepraktisan yang bisa diandalkan.

Untuk sekarang, tidak banyak kekurangan Xpander yang benar-benar bisa jadi deal breaker atau mengganggu sampai ingin mengalihkan perhatian ke mobil lain. Kalau mau benar-benar dicari, paling hanya soal jahitan palsu, glovebox yang luasnya terpotong kotak sekring, space kabin yang belum selapang kompetitor yang memakai jok setipis papan triplek atau kompetitor dari China dan satu-dua hal lain. Sisanya, kami puas dengan apa yang Mitsubishi Xpander tawarkan dibanding kompetitor lain.

Biar lebih jelas, kami sisipkan video review kami di pembukaan artikel. Apa opinimu mengenai Mitsubishi Xpander? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: