Bos Toyota : Perpindahan ke EV Akan Korbankan Banyak Lapangan Kerja!

Bos Toyota : Perpindahan ke EV Akan Korbankan Banyak Lapangan Kerja!
0  komentar

AutonetMagz.com – Kalau bicara elektrifikasi, maka pabrikan otomotif di seluruh dunia nampak memiliki pandangan yang sangat beragam. Ada yang sangat setuju, bahkan langsung memperkenalkan sejumlah model EV mereka. Ada juga yang masih menimbang – nimbang, serta ada yang masih enggan beralih ke EV sepenuhnya. Lantas, apa pertimbangan mereka yang enggan atau masih ragu dengan transformasi ICE ke EV? Apakah sekedar karena mereka masih ingin berjualan mobil berteknologi ICE? Atau karena biaya pengembangan BEV yang mahal? Bos Toyota pun buka suara terkait hal ini.

Transformasi EV = Membunuh Industri Otomotif Jepang

Mengutip informasi via ToyotaTimes, Akio Toyoda menyatakan bahwa pihaknya sebenarnya tidak bahagia dengan keputusan Pemerintah Jepang yang menekankan EV-Centric untuk mencapai carbon neutrality. Mengapa? Toyoda-san menjabarkan bahwa transformasi ICE ke Full EV akan membuat 5,5 juta lapangan pekerjaan hilang, dan 8 juta unit kendaraan susut hingga tahun 2030. Toyoda-san dalam pertemuannya di Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) bersama petinggi Honda, Yamaha, dan Isuzu mengatakan bahwa target ambisius yang diterapkan Pemerintah Jepang berpotensi tidak sustainable. Beliau menyatakan bahwa target yang diterapkan Pemerintah Jepang ini terinspirasi pada kebijakan serupa di Eropa. Jepang sendiri menargetkan pada tahun 2030 bisa mengurangi efek rumah kaca, dan menuju ke carbon neutrality di tahun 2050. Artinya, seluruh mobil baru di tahun 2050 adalah mobil listrik. Perpindahan yang mendadak ke BEV menurut Toyoda-san akan membatasi industri otomotif Jepang.

Jepang adalah negara yang bergantung pada ekspor. Jadi, netralitas karbon sama saja dengan menghadirkan masalah ketenaga kerjaan di Jepang. Beberapa politisi mengatakan bahwa kita perlu mengubah mobil – mobil di jepang menjadi mobil listrik murni, atau industri manufaktur akan ketinggalan jaman. Tapi, saya pikir bukan itu masalahnya. Untuk melindungi pekerjaan dan kehidupan publik Jepang, saya pikir perlu untuk membawa masa depan supaya sejalan dengan upaya kita sejauh ini”, ujar Toyoda-san. “Untuk mencapai netralitas karbon, musuh yang dihadapi adalah karbon dioksida, bukan mesin pembakaran internal. Untuk mengurangi emisi karbon dioksida, maka diperlukan inisiatif praktis dan berkelanjutan yang sejalan dengan situasi yang berbeda di negara dan kawasan yang beragam, tambahnya. Nampaknya, Toyoda-san ingin menegaskan bahwa apa yang diterapkan di Eropa tidak bisa semudah itu diterapkan di Jepang secara khusus.

Hybrid Memainkan Peran penting

Toyoda-san juga menambahkan bahwa kendaraan berteknologi hybrid masih memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan netralitas karbon. Walaupun model berteknologi hybrid masih menggunakan mesin ICE. Beliau menjelaskan bahwa mobil bertenaga hybrid lebih terjangkau dibandingkan EV dan dapat melakukan penetrasi ke pasar di kawasan yang infrastruktur EV-nya belum siap. Yap, persis seperti pasar Indonesia kan? Toyoda-san juga menambahkan bahwa peningkatan teknis untuk membuat teknologi hybrid lebih ramah lingkungan telah dilakukan dari tahun ke tahun. Di waktu yang bersamaan, hybrid telah dan bisa dimanfaatkan untuk menjadi jembatan pada teknologi BEV yang bebas emisi. Kesimpulannya, Toyoda-san menekankan bahwa perlu ada kebebasan untuk menerapkan teknologi mana yang paling pas diterapkan di kawasan tertentu. Bukan menerapkan hal yang 100% sama seperti tempat lain.

Jadi, kalau menurut kalian bagaimana?

Read Prev:
Read Next: