Uber vs Taksi: Offline vs Online Atau Soal Harga?

by  in International&Nasional
Uber vs Taksi: Offline vs Online Atau Soal Harga?
0  komentar
demo taksi limo owners club

Jakarta, AutonetMagz – Hebohnya demonstrasi yang dilakukan para supir taksi tentunya membuat kita geram dan mengutuk para supir taksi yang melakukan tindakan anarkis serta vandalisme. Namun jika kita mengingat peribahasan “Tak ada asap jika tidak ada api”, tentunya kita harus mengetahui akar permasalahan dari Uber vs Taksi ini.

Banyak orang yang menyalahkan perusahaan taksi yang enggan beradaptasi dengan aplikasi online dan menyamakan fenomena ini dengan koran yang tergantikan dengan website atau kantor pos dengan email. Menurut opini saya, perumpamaan ini salah besar. Karena di negara-negara lainpun seperti Prancis dan German yang taksi mereka sudah terintegrasi dengan aplikasipun, mereka tetap memprotes Uber dan melarang layanan aplikasi tersebut disana.

taksi meter

Salah satu pemandangan interior taksi di Hong Kong

Di Indonesia sendiri, langkah mendigitalisasi taksi sudah dimulai dari 2014 melalui aplikasi Easy Taxi. Sayangnya aplikasi ini tidak begitu populer meskipun sudah memiliki banyak promo pada awal mereka berdiri. Kemudian GrabTaxi juga ikut meramaikan pasar aplikasi perpesanan taksi di tahun 2015, sayangnya lagi ternyata aplikasi ini tidak menarik minat masyarakat, karena masyarakat lebih senang dengan cara pemesanan taksi konvensional dengan cara menunggu di lobby, cegat di jalan atau melalui pemesanan telepon. Setelah adanya GrabCar dan Grabbike, baru aplikasi ini booming di Indonesia.

Kemudian di tahun 2014 Uber hadir juga di Indonesia, Uber mendeklarasikan diri mereka sebagai aplikasi ride sharing yang menghubungkan antara rental mobil dengan para pelanggan Uber. Uber hanya bisa diakses melalui aplikasi online, karena mereka tidak bisa mencegat di jalan seperti taksi. Tarif yang dikenakan juga persis taksi, yaitu menggunakan argo dari point A ke point B yang dikalikan dengan tarif jarak tempuh dan durasi perjalanan. Secara penghitungan tarif, jelas Uber menggunakan cara yang sama dengan taksi dengan model argo, bedanya ia hanya bisa dipesan secara online.

Untuk saya, Uber bukanlah perusahaan aplikasi penghubung rental ataupun ride sharing. Karena konsep ride sharing yang sebenarnya seperti “Nebengers”, ketika kita memiliki mobil pribadi dan ingin berpergian dari titik A ke titik B, kita mengumumkan bahwa kita mempersilahkan orang lain untuk nebeng dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Jangan buat ide “ride sharing” menjadi bisnis yang sudah ditetapkan tarifnya dan kita mengantar orang seperti taksi.

nebengers

“Nebengers”, konsep ride sharing yang sebenarnya

Uber juga bukan rental mobil, karena konsep bisnis rental mobil adalah penyewaan, dimana konsep sewa adalah peminjaman barang atau jasa dengan model “time based” seperti sewa harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Jika sewa dihitung berdasarkan jarak tempuh, maka hal tersebut bukanlah menyewa kendaraan, hal tersebut adalah praktik “taksi gelap”, dan ini sudah berlangsung lama jauh sebelum ada Uber dan Grabcar. Coba anda ke bandara, nanti ada orang yang menawarkan jasa taksi tanpa argo, tiba-tiba pas sampai mobilnya ternyata mobil plat hitam biasa. Dan praktik taksi gelap ini sudah sering kucing-kucingan dengan dishub di bandara jauh sebelum ada Uber dan GrabCar. Dan tidak jarang yang melakukan praktik ini adalah perusahaan rental mobil juga.

Kemudian kita kenal Uber dan GrabCar dengan tarif yang nyaris setengah taksi. Saya sendiri adalah pelanggan kedua aplikasi tersebut, dan jujur saja setelah ada Uber dan GrabCar, tentunya saya tidak lagi naik taksi kecuali jika kepepet. Asiknya lagi, Uber dan GrabCar menawarkan hal lain dibandingkan taksi biasa karena Uber serta Grabcar bisa mengangkut lebih dari 4 penumpang karena kebanyakan armada mereka adalah MPV 7 seater. Ditambah mobil mereka memiliki plat hitam dan tidak dibekali dengan livery atau sticker taksi. Lumayan bisa gengsi di depan calon mertua bukan?

protes uber di prancisDemo anarkis supir taksi terhadap Uber juga terjadi di negara maju

Sedangkan taksi, mereka tentu saja adalah pihak yang tergusur disini, selain tarif mereka harus mengikuti ketetapan tarif minimum yang diatur Pemda setempat, ia juga harus melakukan KIR, menggunakan plat kuning, mendekorasi mobil mereka dengan stiker dan juga mereka hanya bisa menggunakan mobil 5 penumpang saja seperti sedan. MPV juga boleh kok, cuma bangku belakangnya harus dilepas seperti yang Blue Bird lakukan pada Honda Mobilio Taksi.

Seperti Uber dan GrabCar, pengemudi taksi juga bisa memiliki mobil sendiri untuk dijadikan armada taksi lewat ownership program, hanya saja program ini tidak begitu diminati oleh supir, karena mobil yang ia beli akan mengalami depresiasi yang cukup banyak karena jenis mobil yang digunakan dan jarak tempuh mobil eks-taksi tidak begitu diminati oleh calon pembeli mobil bekas.

demo taksi

Bahkan mereka juga menutup jalan raya seperti yang terjadi di Indonesia

Sedangkan Uber dan GrabCar? Ya tentu saja bisa lebih murah dengan tidak mengikuti regulasi taksi yang berlaku, apalagi mobil tersebut adalah milik pribadi yang nebeng bendera rental untuk bergabung dengan salah satu aplikasi tersebut. Disinilah masalah dimulai, dengan tarif yang lebih rendah, tentu saja orang-orang lebih memilih memesan Uber dan Grabcar melalui aplikasi dibandingkan memesan taksi konvensional meskipun sama-sama bisa dipesan melalui aplikasi. Cobalah anda membuka aplikasi GrabTaxi, dimana ada pilihan untuk memesan taksi, GrabCar, GrabBike dan Grab Express, ketika membandingkan tarif antara grabcar dengan taxi di aplikasi tersebut, jelas saja kita akan memilih GrabCar. Buat saya, Uber dan GrabCar adalah perusahaan aplikasi teknologi penghubung antara pengguna taksi dengan armada taksi gelap.

Jika kita ambil garis merah dari kedua aplikasi berbasis online tersebut, sudah jelas bahwa taksi ditinggalkan bukan karena tidak bisa dipesan secara online, tetapi karena harga yang ditawarkan Uber dan GrabCar lebih murah dibandingkan dengan Taksi. Hanya saja Uber dan GrabCar tidak bisa dipesan dengan cara lain selain melalui aplikasi, sehingga terlihat seperti perusahaan taksi enggan ber-inovasi dengan teknologi. Jika Uber dan GrabCar yang melanggar aturan seperti ini dibiarkan terus, berkembang dan mengusik penghasilan para supir taksi. Jelas gelombang protes seperti di Prancis dan negara-negara lain akan berlanjut seperti halnya di Indonesia.

Untuk lebih lengkapnya bagaiman rasanya menjadi pengendara Uber, saya juga telah menuliskan sebelumnya dalam artikel yang bernada sarkasme di Taksi Indonesia Harusnya Ikuti Uber dan GrabCar Agar Bisa Bersaing!

Read Prev:
Read Next:
  • Ryan

    Nah ini dia, artikel pencerahan. Karena dimana2 media banyak yg membuat kesan taksi konvensional demo krn terganggu tdk mampu mengikuti perkembangan teknologi. Jadi dibuat si taksi konvensional ini tokoh antagonisnya, sementara si online ilegal itulah yg baik, karena berinovasi & memudahkan konsumen.

    Padahal persoalannya kan tarif. Kalau yg online ilegal (grab uber) ini disuruh ikut aturan yg sama kaya taksi biasa. Wajib punya pul, bayar pajak, uji kir, plat kuning dll. Saya ga yakin harganya bisa ttp murah. Malah mungkin bisa lbh mahal dr taksi biasa, yg bikin orang jd males make & akhirnya ga laku lagi.

    Selain yg udah diterangkan dlm artikel. Yg harus ditekankan disini adalah si uber grab ini bisa murah & jd pilihan konsumen bukan krn berinovasi dgn teknologi. Tapi krn melanggar aturan, ilegal. Toh skrg bluebird jg udah punya aplikasi yg bisa pesan online jg.
    Semoga pemerintah bisa tegas & kejadian anarkis spt kemarin ga terulang lagi. Sangat disayangkan, krn pemberitaan & sikap anarkis demonya justru jd bikin masy makin ga simpatik sama taksi konvensional.

    • setuju broh !
      uber & grabbike & gojek dan via onlen lainnya = gak bayar biaya2 yang menyangkut sama pemerintah dan perda. jadinya emg dari awalnya sudah gk sehat persaingan tarif harganya.
      Jjelas2 orang pasti milih soal harga yg murah lah selain kepraktisannya yaaaa, apalagi dilakukan secara rutinitas sehari-hari, bisa jebol kantong pake taksi konvensional. hehehe.

    • Indra

      Blue bird sudah punya aplikasi mobile sebelum ada uber/grab dan express taxi baru mengeluarkan aplikasi serupa, tapi gaungnya ga segede uber/grab. Pada intinya, tarif bisa ditekan karena uber/grab dan sejenisnya ga perlu KIR, urus perizinan, plat kuning, dll yg bisa menbebankan biaya operasional dr layanan taksi itu sendiri, dan itulah yg menyebabkan yg konvensional pendapatan turun sedangkan biaya operasional makin tinggi.

      • Dwi

        Kir untuk 1 kendaraan kira-kira anda tau/gak besarannya berapa??

    • Indra

      Pengaruh media yg memberitakan membuat warga netizen jd antipati terhadap taksi konvensional. Baik pemerintah dan pelaku usaha transportasi harus duduk bersama agar mereka dapat keadilan dalam operasional, karena baik taksi biasa maupun taksi dgn aplikasi mobile punya plus minus tersendiri.

    • Faris Marino

      apa iya plat kuning lebih mahal bayar pajaknya? uji kir faksi cuma 65 ribu per 6 bulan. Pajak kendaraan bermotor plat kuning 0,5%, sedangkan plat hitam 1,5%. pengadaan mobil plat kuning gak pake pajak import, PPH barang dll. kalo dari cost structure nya malah harusnya taksi plat kuning lebih murah tarifnya.
      hmm

      • lambokz

        Betul gan, ditambah dengan jumlah armada ribuan, cuttimg cost nya akan lbh banyak… Sebenarnya bnyak celah buat nambah provit tu taksi konvensional against taksi online. MEREKA aka Perushaan taksi YANG AMBIL KEUNTUNGAN KEBANYAKAN… Korban supir taksi nya dan konsumen.

      • ALTEZZA EXEL

        Dan biasanya, mobil2 taxi itu seragam pake seri/konfigurasi terendah.. lets say: velg kaleng, tape/radio single din (atau malah ga ada), trim plastik, ga ada pw window, ga pake alarm, transmisi manual.. Itu semua membuat harga satuannya lebih murah daripada mobil pribadi/rental..
        Harusnya dengan itu, tarifnya bisa lebih murah..

  • deathstalker

    Sebenarnya bukan cuma perang tarif. Tapi juga perang kepentingan
    Pemilik mobil yg gabung dgn

  • Akbar Prananta

    Kalau pemerintah mendukung angkutan umum seharusnya gak ada tarif minimum yg di atur pemda. Biarlah tarif minimum itu di atur perusahaan taksi masing2 supaya persaingan lebih adil dengan taksi online.

    Tapi pemerintah malah menelurkan kebijakan mobil LCGC yg juga turut berperan mengambil pemumpang taksi tersebut.

    Intinya gak semua salah pemerintah. Perusahaan taksi itu juga bertanggung jawab memikirkan bagaimana cara para supirnya yg merupakan ujung tombak perusahaan menjadi sejahtera.

    • ALTEZZA EXEL

      Tarif minimum (tarif bawah) buat taxi menurut saya tetap harus ada.. Namun angkanya tidak boleh lebih rendah dari tarif angkutan umum massal,..
      Misal klo transj itu Rp 3500 bisa kemana aja.. maka taxi bisa Rp 4500 misal untuk 5 km pertama..
      Tujuannya biar angkutan massal ga mati..

  • Andika pratama

    loh grabcar dan uber, itu kan mirip nebenger…. misal, aku ada dibandara terus aku sms teman aku yg punya mobil untuk menjemput… apakah ini melanggar regulasi????
    regulasi yg mana yg dilanggar????
    regulasi yang seperti diikuti oleh taksi konvensional???….. akan sulit sekali menerapkan regulasi bagi uber dan grabcar, karena sama saja seperti mencegah orang untuk dijemput temannya dibandara, dan itulah yg membuat uber dan grabcar lebih murah dan cepat, karena setiap orang yg punya mobil pribadi dimungkinkan ikut dan berada sangat dekat dengan konsumen, sedangkan blue bird, apakah disetiap tempat ada???dan apakah setiap orang yg punya mobil pribadi bisa ikut blue bird???? jelas meskipun blue bird juga punya aplikasi, soal kecepatan kalah jauh dng uber dan grabcar, karena disini model bisnis yg dibangun juga berbeda, selama aplikasi seperti grabcar dan uber masih ada, dan tidak ditutup hanya soal waktu taksi konvensional seperti blue bird, mati, dan inilah konsekuensi teknologi yang tanpa batas, jadi salah besar menyamakan aplikasi uber dan grabcar dng aplikasi blue bird yang jangkauannya tetap terbatas.

    • Andi

      Situ udah baca artikelnya blm ? Kalo masalah dijemput temen ya lain cerita. Temen lu minta bayaran ? matok tarif per km ga ?
      Kan udah dijelasin konsep nebengers / ride sharing itu emg orang yg mau jalan dr a ke b, trus dia buka pintu buat org lain dgn rute yg sama.

      Bukan nawarin diri buat nganter kemanapun penumpang mau, dan narik bayar per km. Kalo begini, udah termasuk yg namanya taksi gelap, omprengan. Intinya angkutan plat hitam yg nawarin jasa transportasi dgn mungut bayaran dr penumpangnya.
      Coba dibaca & pahamin lagi deh

    • mas andika mungkin lupa hal yang paling penting yang dibahas disini. yaitu tarif. Nebenger tidak ada tarif dan prinsip /motif tolong menolong. sementara grabcar dan uber menentukan tarif dan motif bisnis.

      • Andika pratama

        hahahah, coba deh ente pesan uber di bandara, lalu datanglah avanza, dan ente bisa bedain itu teman gue apa uber yg ane pesan???? dan ini sama saja dng gojek, ane udah berkali-kali mesen makanan dari gojek dan seragam Driver gojek nya gak satupun dipake, sampe tetangga gue menanyakan enak bener dikirim makanan oleh saudara terus, wkwkwk apakah gojek tersebut taksi gelap??? lalu bagaimana kita tahu dlm hal ini pemerintah /polisi membuat regulasi avanza yg menjemput saya dibandara adalah taksi gelap???

        masalah tarif , apakah bisa disamakan dng taksi konvensional?? grabcar dan uber itu hanya penyedia aplikasi, apakah pemerintah bisa mengatur tarif yg diatur oleh aplikasi tersebut, kalau pemerintah menyamakan tarif grabcar dan uber dng tarif taksi konvensional jelas tidak mungkin, lah wong mereka gak punya armada, dan bukan perusahaan jasa transportasi.

        • Ryan

          Jelas keliatan anda ini ga paham masalahnya

          • hawthorn

            wes sudah biarin aja, bebel otaknya … kaya gear udah karatan, gak bisa jalan lagi / gak bisa mikir lagi .. klo dipaksa jalan / mikir jadi “patah” …

          • Andika pratama

            kalu ane gak paham, coba jelasin dong biar paham, aplikasi uber dan grabcar, itu perizinannya sama gak dng pendirian taksi konvensional seperti blue bird atau express???

          • Ryan

            Blm bisa dibilang apakah sama atau ngga. Karena aturannya sendiri blm jelas. Biar lebh enak diskusi, ada baiknya anda baca dulu apa yg namanya ott, gmn penetrasinya di Indonesia. Dari situ anda akan tau kalau regulasi disini blm siap utk menerima perkembangan macam ini.

            Tapi bukan itu masalahnya. Secara service dia bergerak di bidang transportasi publik. Dan sudah sepatutnya ikuti aturan main yg berlaku disana. Jgn cari pembenaram dgn “cuma penyedia aplikasi”, “cuma penghubung”. Karena nyatanya yg matok tarif kan mereka, bukan si driver. Mereka ambil untung jg darisini. Jadi sdh seharusnya ikut aturan yg sama spt perusahaan lainnya, setelah regulasi ttg ott ini diperjelas dgn revisi tentunya

          • Andika pratama

            Hehe anda itu bijimana kalau regulasinya belum jelas, kok disuruh ikut aturan main????

          • Ryan

            Jadi gini lho. Perkembangan teknologi belakangan ini kan prinsipnya bikin semuanya jadi online, ojek online, taksi online, toko online. Nah yg blm ada itu regulasi yg mengatur secara keseluruhan. Mulai dari aplikasi sampai jasanya.

            Sementara dr jasanya sendiri mereka kan bergerak di transportasi umum. Ya harusnya ikutan regulasi disana dong. Spt plat kuning, uji kir san lainnya.

            Analaoginya sama kaya toko online, meskipun dia ga ada toko fisik bukan berarti bisa bebas jual produk semaunya. Tetap ada aturannya dmn barangnya pun jg masuk sini harus secara legal. Dlm arti kena pajak bea cukai

          • Andika pratama

            Quote :yg belum ada itu adalah regulasi yang mengatur secara keseluruhan.

            kalau gak ada regulasi secara keseluruhan, bagaimana kita mengajukan izin, misal avanza pribadi saya /plat hitam… dirubah jadi plat kuning??? sedangkan regulasi yang mengatur angkot /ada trayek tertentu dng taksi itu beda…. dan lagi siapa yang mewadahi plat kuning dari avanza /plat hitam saya, “misalnya” sedangkan aplikasi uber dan grabcar itu hanya penyedia aplikasi, bukan perusahaan yang memodali /sebuah armada transportasi, dan disitulah masalahnya….

          • Ryan

            Nah ya justru itu, statusnya si uber grab ini kan “katanya” hanya penyedia aplikasi. Harusnya dia ga ada hak buat matok tarif, rekrut armada, rekrut driver, dll.
            Yg punya legalitas buat melakukan ini siapa ? Ya jelas perusahaan taksi berbadan hukum yg terdaftar sbg penyedia jasa angkutan umum.

            Kalo emang dia cuma penyedia ya harusnya cuma menghubungkan taksi konvensional dgn pelanggan. Misalnya jadi aplikasi order taksi secara online tapi lintas merk. Jadi mau order taksi apa aja bisa. Konsumen bisa milih mau brand taksi apa, tarifnya brp, armada yg terdekat dgn lokasi, dan lainnya. Itu baru legal dan “cuma penyedia aplikasi penghubung”

          • Andika pratama

            kalau taksi online gak ada hak, berarti kan udah melanggar regulasi yang ada, dan setiap regulasi yg dilanggar itu ada sanksi nya, masalah nya mengapa itu tetap dibiarkan….. /ditutup…. kalau begitu jangan salahkan orang y yang melanggar, itu sama aja polisi membiarakan orang melanggar lalu lintas seperti gak pake helm, tapi gak ditilang… Ya jangan salahkan bila orang banyak gak pake helm, toh

          • Ryan

            Yaaa pokoknya salah semua. Yg ngelanggar salah yg membiarkan pelanggaran jg salah.

            Opini pribadi saya, pihak terkait skrg lebih hati2 krn ternyata meskipun ilegal mereka disukai & dibutuhkan masyarakat
            Terutama menhub, mungkin dia skrg ga mau hegabah dan kehilangan muka kedua kalinya. Pengalaman dulu sempat larang gojek tapi malah di-cut sama jokowi. Akhirnya ya gini meskipun pelanggaran tapi kaya ga berani nindak.

        • Uber memang mengaku sebagai perusahaan Aplikasi, tapi mereka menghimpun para mobil rental/pribadi untuk menjadi taksi gelap dengan peraturan yang telah mereka tetapkan. Kalau soal Uber nggak punya armada. Hei, tadi udah dibilang juga Bluebird dan Express juga punya ownership program, dimana kendaraan adalah milik atau dicicil oleh pengemudi.

          • Andika pratama

            wkwkwkw plat kuning dan plat hitam, meskipun sudah jadi milik pribadi bluebird ttp plat kuning, jadi kalau plat hitam itu taksi gelap toh??? kayaknya perlu dibuat peraturan baru kalau uber dan grabcar itu harus berplat putih…

          • Ryan

            Udahlah mas, emg susah diskusi ama orang macam gini mah hahaha

          • reyhan apriathama

            Udah anda buka website Land Transport Authority disitu ada pembahasan terkait ride sharing and third party transportation…. Sebenernya ane gak mampu mengukur ini baik atau buruk tapi saat ini KIR adalah ladang hijau untuk korupsi…

            Soal ginian di SG diatur dan bobot mereka saat ini imbang tapi mereka maybe prefer taxi karena taxi mereka lebih lega dan banyak muatan terutama bagasi dan akomodasi nya jg lebih bagus… Perbandingan nya taxi ComfortDelGro (blue bird nya SG) sm grab economy jg bagusan ComfortDelGro yg make hyundai i40 sama Toyota Vios..

          • Kalau di SG antara Uber dan Taxi justru saya pernah coba lebih mahal Uber sekitar 5 SGD dengan rute yang sama. Habis itu kapok naik Uber di SG, makanya mereka nggak pernah ribut

          • reyhan apriathama

            Dan taxi juga masih berasa lebih convinience dibanding ride sharing except mas ridwan coba naik Grab Hitch yang jauh lebih murah soalnya coba hitch dulu dari Bugis ke Sentosa harganya lumayan juga dibanding naik grab economy… Kalo taxi mereka saya bener2 percaya bagus bgt dan taxi buat mereka itu solusi percepatan angkutan klo mau cepet dan tarif nya pun sama termasuk charge klo malem…

        • AutonetMagz

          hahaha,…kocak baca yang pas bagian –> “sampe tetangga gue menanyakan enak bener dikirim makanan oleh saudara terus”

        • mas andika. mungkin anda bisa mengambil persamaan dengan traveloka misalnya. apakah traveloka punya armada pesawat? apakah traveloka punya hotel ? jelas tidak. tapi sekarang dibalik. yg diajak kerjasama apakah maskapai gelap ? atau hotel tidak berijin ?
          nah disitu masalahnya. pemilik mobil yang diajak kerjasama belum tentu punya ijin untuk menarik penumpang.
          apakah grab atau salah ? tidak sepenuhnya. tapi bisa di regulasi agar grab dan uber harus bekerjasama dengan pihak yang sudah punya ijin sesuai dengan perijinan di negara masing-masing.
          untuk gojek tentu belum bisa dibahas legal atau ilegalnya. karena belum rasanya belum ada aturan pemerintah untuk angkutan ojek.
          kalau pemerintah menyamakan tarif grab dan uber dengan tarif taksi. jelas pemerintah salah kaprah. karena seperti anda bilang grab dan uber tidak punya armada. dan jika hal ini dilakukan berarti pemerintah mendukung keberadaan taksi gelap.
          apakah taksi gelap bisa dihilangkan ? saya rasa juga tidak. kan namanya juga gelap, sudah dibedakan dengan mobil biasa. meregulasi juga susah. kan taksi gelap udah ada dari dulu-dulu, jauh sebelum ada aplikasi grab dan uber.

  • Aryo Wicaksono

    tinggal dibikin aturan wajib pajak dan plat kuning aja, gitu aja kok repot.

  • Indra

    Era digital ga bisa dihindarkan…..masyarakat pasti beralih ke hal2 yg lebih simpel, cepat, dan murah dibandingkan dgn sebelumnya…

    • farid

      Harus ada adaptasi biar layanan transportasi online ini udah mulai akrab dgn masyarakat,tentu harus ada undang2 atau peraturan terhadap layanan transportasi berbasis online seperti grabcar dan uber ini biar armadanya gak ilegal

  • dsainbar

    Paling tidak taksi konvensional sekarang harus berfikir ulang tentang tarifnya. persaingan itu baik kalo tidak ada Uber, mereka tentu masih ‘monopoli’ tarifnya. Sebagai konsumen sekarang jadi lebih utung kan sejak ada Uber.

  • tokekkk

    Technology, you either adapt or die

  • Yuda48

    Di ausse *darwin di legalkan loh uber CMIIW…..
    di kota kelahirannya di calif juga dulu kena demo akhirnya ya naik juga tuh tarif uber…. :v
    Coba kalo uber or grab armadanya harus uber black lah mininal kan gak nyenggol2 amat…
    dulu pas ada uber di indo, kan nyasarnya yang pengen naik mobil mewah dengan *harga bersaing CMIIW…. setelah uber x menyerang ya, kesundul lah taksi sedan limo…

    • di California ada persyaratan untuk Uber, salah satunya melakukan laporan data driver ke pemerintah, tapi ternyata Uber nggak memenuhi itu dan terkena denda sebesar 7.6 juta US Dollar per Januari 2016 silam

      di NYC, Uber juga ada aturan khusus, mobil mereka harus ada stiker Uber pada kaca, plat nomor khusus dan mengikuti tarif yang disesuaikan oleh pemerintah setempat

      • Andika pratama

        meskipun, itu diterapkan disini tetap aja gak bisa ngalahin fleksibilitas aplikasi transportasi online mas…. karena basic nya beda, dan seperti tuntutan para sopir konvensional itu yaitu menutup aplikasi transportasi online, dan itulah jalan satu satunya agar pendapatan mereka normal lagi, tapi seperti ahok bilang kalau itu dilakukan itu sama saja kembali kejaman batu.

        • Fleksibilitas seperti apa maksudnya ya?

        • deathstalker

          Sebenarnya yg mereka tuntut itu bukan nutup app online. Karena bluebird dan express juga ada sistem online.
          Yg jadi tuntutan mereka adalah keadilan. Bayar pajak dan taati regulasi yg ada. Jangan seenak2nya cari duit di indonesia.
          Uber dan grab beda dgn nebengers karena mereka menerapkan tatif baku dan sifatnya komersil.

          • Yuda48

            masalahnya regulasi kita belum ada yang mengatur ini, kmrn wwncara di tv oon sama dishub, uber dan grab itu masuknya ke sewa, bukan trayek bebas kayak blue bird or ekspress…
            padahal udah lama loh uber ada, terutama uber black, knapa hypenya baru sekarang?… ya karna uber x itu…
            blue bird online baru2 loh dan baru bisa di akses di jkt, bali, sby CMIW…

          • deathstalker

            Nah itu dia.. Bukan blm ada tapi blm jelas. Apakah kendaraan umum atau rental.
            Ini jugs kesalahan uber grab mereka memanfaatkan celah supaya ga perlu bayar beban macam2 dan bisa kasih harga murah.
            Ibarat masuk rumah tanpa permisi.
            Saya sih udah lama pake app bluebird, sebelum uber dan grab rame di indonesia. Menurut bluebird app online nya udah ada dari 2012

          • Yuda48

            it’s bisnis broo…
            selama demmand banyak, liat peluang ya resiko tanggung sendiri…
            appnya masih terbatas kota2 besar mas… sebelum ubpdet ver sekarang *android base* bandung aja gak di cover…
            orang2 pada koar2 blu-ber pahal yang salah regulator kompor eh gov kamsudnya..

          • dari wawancara tersebut sebenernya kelihatan kalau dishub juga nggak menguasai permasalahan ya, masa dibilang sewa, padahal udah jelas taksi gelap

          • Andika pratama

            taksi gelap??? kok bisa ente mengatakan uber dan grabcar itu taksi gelap?? tentunya ada uu yg dilanggar kan?? uu yg mana yg dilanggar???

          • baca dulu yang bener artikelnya, praktik taksi gelap kaya gini udah banyak kalee jauh sebelum ada uber, cuma jumlahnya dikit dan belum ada aplikasi sehingga nggak mengganggu taksi beneran

          • Andika pratama

            loh mas bro, konotasi taksi gelap kan gak seperti gelapnya malam toh, maksudnya gelap disini kan ilegal….. ilegal artinya gak mengikuti aturan uu…. kalau aturan uu nya gak ada, masak dikatakan ilegal….. kalau uu ada mengapa sulit ditertibkan??? bukankah adanya uu agar terjadi ketertiban,dan disana ada sanksi, terus sanksi bagi taksi gelap seperti yg ente katakan itu apa??? kalau sudah begini ya jangan menyalahkan taksi gelap toh

          • Erik

            Ga usah jadi ahli uu segala macem jg udah tau kali apa yg dilanggar

            Namanya mobil plat hitam jadi angkutan umum, matok tarif, itu udah jelas ilegal. Ga ada bedanya sama omprengan & taksi gelap

          • Andika pratama

            uu kementerian perhubungan tahun 2003 no 35, itu membolehkan plat hitam jadi armada angkutan umum, asal mengurus perizinan… dan itulah yg jadi pegangan uber dan grabcar…. dan perizinan yg diurus melalui wadah koperasi dan itulah yg telah dilakukan oleh uber dng bermitra dng koperasi rental mobil……. jadi jangan asal ngebacot armada plat hitam yg jadi armada transportasi itu ilegal

          • anjar wirastomo

            Nah masalahnya bagi Uber dan Grab yg sdh bermitra dengan koperasi (rental), si koperasi tsb, perijinannya belum di urus dari bulan oktober 2015 sampe sekarang, menurut Dishub.. jadi jika perijinannya sdh di urus, kan enak bisa dilakukan penentuan tarif berdasarkan pajak yg harus dibayar,dll..

            intinya selagi belum ada izin resmi dari dishub, operasinya dinyatakan ilegal..

            seperti anda mengurus SIM tapi belum keluar, apa boleh mengendari mobil tanpa SIM?

            Nah menurut ane sebagai konsumen klo ada Koperasi (rentral) yg sudah memiliki izin, minimal ada kantornya kan enak buat tuntut-menuntut klo terjadi apa2 hehe..

            cth : amit2 terjadi kecelakaan, dan terjadi penuntutan, apakah ane yg harus nuntut ke supirnya atau ke grab/uber (secara dia cuman perusahan aplikasi)..

  • Tresna Wardana

    gini gini…
    win win solution-nya adalah taksi online yang harus dikenakan pajak atau apapun itu nantinya sehingga harga yang tercipta ga terpaut jauh. mungkin dibuatkan pasal pajak baru tentang transaksi online =D. nah kan lumayan nambah pemasukan buat negara. dan utk aplikasi dr luar indonesia dikenakan bea pajak impor atas transaksi online, ini untuk memajukan app developer dalem negeri.

    nah utk taksi konvensional dibuat lah itu aplikasi yg mutakhir jd bisa ketauan jarak dan estimasi tarifnya berapa, dan bisa langsung bayar via e-money, internet banking, klik pay dsb, kan mengurangi kesempatan buat si supir muter2in si konsumen.

    ini kasus sama kaya dealer mobil bekas vs OL*; toko offline vs web marketplace; online ticketing vs biro travel konvensional; Indomar*t vs warung kelontong (eh yg ini ga termasuk). intinya yg murah, nyaman, aman, praktis yg menang, urusan legalitas mah konsumen nomor sekian. mangkanya yg bisa beradaptasi yg bertahan, klo tetep konvensional ya tetep ada pasarnya, cuma ga se-rame sebelum era kerajaan online ini.

    • deathstalker

      Ketika murah lebih penting drpd legalitas, mungkin suatu saat ada yg bilang “yg penting dpt duit, duitnya halal atau haram nomor sekian”

      • Tresna Wardana

        lah analoginya beda lah gan.
        sekarang klo ente beli barang online, penjualnya org pribadi, apa harus dia berbadan hukum? punya npwp perusahaan? sedangkan legalitas berhubungan dengan hal tsb. nah dia jual barang yg halal, apakah yg beli haram? yg jual dapet duit dr hasil penjualan haram?

        kan engga –a

        • deathstalker

          Yg berbadan hukum bukan penjual tapi marketplace dimana agan jualan. Nah dalam kasus ini uber dan grab harus berbadan hukum dan punya izin usaha.

          Seharusnya semua yg dijual online juga kena ppn dan penjual kena pph lho. Masalah ini yg blm jelas di indonesia, kabarnya mau sekalian diatur regulasinya

          Analoginya bukan di haram atau halal nya tapi jangan menyepelekan legalitas. Jangan sampai jadi kebiasaan untuk urusan lain.

  • Mobil mahal

    Gw kurang setuju dengan judulnya, bukan online vs offline, tapi legal vs illegal. Bluebird bisa dipesan online via phone atau aplikasi jauh2 hari sebelum uber dan grab ada di indonesia. Ini perkara perang harga, karena yg satu ILEGAL, Ga ada uji kir, driver ga didaftarkan, dsb, belom lagi subsidi dari investor, makanya si ilegal ini jadi lebih murah. Gw udah biasa pesen bluebird online, dateng sampe tempat gw dijemput layaknya uber atau grab. Sekali lagi, ya bukan online vs offline. Gw juga ga setuju sama tulisan prof rhenald kasali. Ini perkara kompetisi yg harus fair. Yg ilegal ini harus dibikin legal biar semua pihak adem. Itu tugas pemerintah.

    • haikal fahmi almaidani

      Emang, apa yg dikatakan Prof Rhenald Kasali, mas?
      Mohon dishare argumen beliau mengenai hal ini, biar kami juga tau, mas.

      • Barry

        Wah ngga bisa taro link ya di Comment. Understandable sih. Dik Haikal coba googling aja Rhenald Kasali Sharing Economy.

        • haikal fahmi almaidani

          Oke, mas. Akan saya searching tulisan Prof Rhenald Kasali.

          ~penasaran~

  • haikal fahmi almaidani

    Maaf nih. Saya org awam masalah ini. Dan mohon maaf juga kalo komen saya ini sedikit gak nyambung dgn artikel (walau ada hubungannya sedikit sih).

    Tarif UBER memang lebih murah dari tarif taksi konvensional.
    Namun sebenarnya menjadi calon penumpang UBER jauh lebih susah/ ribet ketimbang jadi calon penumpang taksi konvensional. Mengapa? Karna salah satu syarat jadi calon penumpang UBER adalah harus punya kartu kredit. Suatu syarat yg amat sulit di tengah perekonomian Indonesia yg serba sulit ini. (Berdasarkan video yg kutonton di channel Youtube MOTOMOBI tentang UBER)

    Jadi logikanya, bagi org2 yg gak punya kartu kredit atau yg tdk punya kebiasaan pakai kartu kredit seperti saya, maka saya gak akan mungkin bisa jadi calon penumpang UBER.

    Setelah saya pikir2, taksi konvensional masih punya harapan kok utk meraup calon penumpang. Soalnya, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini kan bukan org kaya yg biasa pakai kartu kredit.

    Toh, memesan taksi konvensional tidak harus via online doang, tidak seperti UBER yg hanya bisa dipesan online tanpa memakai cara pemesanan lain selain cara online.

    Apalagi seperti yg saya bilang sebelumnya, perekonomian Indonesia saat ini semakin serba sulit. Emangnya gampang hidup dengan kartu kredit, yg setiap hari setiap saat setiap waktu dikejar-kejar debt collector utk ditagih atau digebuki debt collector kalo gak sanggup bayar?

    Itu menurut saya sih. Gak tau ya kalo menurut teman2 petrolhead.

    • adt

      Sekarang uber udah bisa pakai cash mas

      • haikal fahmi almaidani

        Iya, mas. Udah dijelasin ama mas Ridwan Hanif td.

      • Walang

        Nunggu opini dari ex driver bluebird/Express yg beralih ke Grab/Uber.. Karena kalo dulu denger waktu naik taksi konvensional tsb, mereka sering curhat kecewa dengan perusahaannya..

    • sekarang uber bisa pakai cash, dulu memang begitu

      • haikal fahmi almaidani

        Oooo… begitu ya, mas?

        Hmm…. makasih infonya, mas.

        Mudah2an UBER bisa masuk ke kota saya, Medan. Biar saya bisa ikut merasakan naik UBER juga. Kalo GO-JEK sih sudah masuk Medan. Dan saya sudah merasakannya. Memang oke sekali.

        Oh ya. Suatu kehormatan komentar saya dikomen ama mas Ridwan.

        Usul nih. Gimana kalo Autonetmagz ketika syuting video Review coba sekali-sekali lokasinya di luar pulau Jawa, seperti di Kota Medan. Pasti akan menarik, seperti touring.

        Apalagi Sumatera Utara banyak banget lokasi yg indah utk pengambilan syuting video, seperti di Berastagi.

        Terima kasih sebelumnya, mas.

        • kita di jakarta, ke medan butuh biaya pastinya… hehehe

          Kalau gojek memang regulasinya nggak ada masbro, beda sama taksi gelap… hehehe

          • haikal fahmi almaidani

            Oke deh. Saya mengerti. Jarak memang selalu menjadi masalah. Terutama masalah biaya. Semoga kelak suatu hari nanti akan terealisasi dan bisa bertemu dgn reviewer2 AutonetMagz secara langsung, tidak sebatas hanya di video youtube. 🙂 go petrolheads.

          • Andika pratama

            apa artinya regulasi tanpa sanksi masbro??? lagian bagaimana polisi bisa tahu itu taksi gelap /mobil pribadi…… artinya regulasinya amburadul….

          • ekkyfir

            Ini org knp setiap bang ridwan jelasin nongol mulu wkaka

        • Rafi M. P.

          Kalo mau masuk ke Medan, hati2 banget tuh Uber. Soalnya orang Medan keras banget (bukan sudzon, tapi budaya memang seperti itu), ntar datang Uber supir taksi Medan langsung tuh serang pake fisik ke Uber (ilustrasinya sih).

          Apalagi dibawa ke Palembang, supir Uber siap2 mengorbankan nyawanya. Inget gak berita bentrok karena konflik disana sampe merenggut nyawa? (kalo gak salah sih)

          Intinya, kalo mau membawa inovasi (terutama Uber) ke Sumatera harus pikir dua kali dulu karena budaya dan adat mereka kuat banget. Ane sebagai orang Padang merasa seperti itu, buktinya kalo gak pandai bahasa Minang bukan orang Padang.

          Culture matters, CMIIW. Maaf ya sudzon gan 🙂

          • haikal fahmi almaidani

            Org Medan wataknya keras?
            Ya… emang gak bisa dipungkiri sih. Saya aja yg asli suku batak aja sering “digilas” ama sesama org Batak. Saya dianggap terlalu lembut sbg org batak. Wajar sih karna ibu saya org jawa yg terkenal berwatak lembut. Dlm arti kata, saya gak dianggap org batak tulen. Masya Allah.
            (Intermezzo sedikit).

            Terkait masalah UBER, memang kultur masyarakat Medan yg keras menjadi tantangan tersendiri. Apalagi UBER akan dikepung oleh berbagai armada angkutan umum di Medan:

            1. Becak,
            2. Angkot,
            3. Bus Damri,
            4. Bus TRANS MEBIDANG (Trans Medan-Binjai-Deli Serdang).

            Sungguh bukan hal yg mudah memang.

    • deathstalker

      Mohon maaf, tapi ini seperti mengapresiasi maling yg kesusahan waktu bobol ATM.

      1. Grabcar uber bisa bayar tunai.
      2. Taxi sekelas bluebird bisa bayar pake kartu kredit walaupin blm semua armada.
      3. Hanya beberapa bank yg benar2 selektif dan berhati2 menerbitkan kartu kredit. Di beberapa bank lain malah kita dibujuk rayu.
      4. Konsumsen taxi biasanya golongan menengah yg bkn hal yg susah dpt kartu kredit.
      5. Tdk semua orang begitu takutnya punya kartu kredit, malah ada yg koleksi dari semua bank

      • haikal fahmi almaidani

        Hehehe…. kalo saya sendiri secara pribadi sih lebih enak hidup tanpa kartu kredit. Tanps beban dan tdk gelisah oleh ancaman debt collector, mas.
        Saya sering dibujuk rayu utk makai kartu kredit oleh beberapa bank, tapi saya tdk mau. Bahkan kata teman saya yg sering ikut pengajian, kartu kredit mengandung unsur riba. Saya sendiri masih mencari tau riba itu seperti apa.
        Wallahua’lam.

      • haikal fahmi almaidani

        Lagipula maaf, mas. Kalimat mana dari komen saya yg menurut mas adalah kalimat yg “mengapresiasi maling waktu membobol ATM”?
        Gagal paham saya.

        Saya sih malah lebih suka bayar cash ketimbang harus pakai kartu kredit ketika ingin membeli atau membayar sesuatu. Lebih yakin aja.

        • deathstalker

          Grab dan uber kan ilegal jadi saya ibaratkan sebagai maling ATM. Walaupun penumpang dan sopir uber grab lebih susah bertransaksi tapi tetap ilegal.
          Jadi jangan karena maling lebih susah bobol ATM trus kita merasa ga apa2
          Maaf kalau yg saya ibaratkan ga enak dibaca 🙂

          Kartu kredit kalau digunakan secara bijak dan sesuai kebutuhan (bukan keinginan + konsumtif) malah bisa mmenguntungkan lho. Banyak kan promo2 kartu kredit. Malah kits bisa berhemat karena diskon atau promo tersebut daripada kita bayar lebih mahal dgn cash

          Lagipula kartu kredit yg dipakai hanya untuk bayar uber dan grab rasanya ga mungkin sampai dikejar2 debt collector. Hehehe..

          Masalah riba saya juga ga begitu paham, tapi setau saya riba itu bunga bank nya. Itu urusan bank yg dpt bunga lho.. Bukan kita sebagai pemegang kartu kredit yang dapat bunga

          • haikal fahmi almaidani

            Awalnya saya tertarik mau coba pake kartu kredit. Tapi karna saya lihat teman saya punya pengalaman kurang menyenangkan dgn kartu kredit, tiap hari dicariin dan ditelpon debt collector dgn tagihan yg luar biasa membengkak, akhirnya saya memutuskan utk tdk pake kartu kredit. Gak enak banget deh hidup seperti itu.

            Lebih enak bayar cash. Sederhana, simpel, gak ribet.

            Kalo masalah taksi, saya lebih memilih taksi konvensional kok, walaupun tarifnya mahal sedikit. Karna memesan taksi konvensional lebih fleksibel (bisa via online atau cara “sergap” di jalan) serta pembayaran tarifnya lebih simpel, bayar cash. Sedangkan UBER kan hanya bisa dipesan via online aja. Kasihan dong teman2 saya yg masih pake hp jadul tp gak bisa pesan UBER karna gak punya smartphone utk pesan via online. Bukan saya mengada-ada. Tapi ada kok teman2 saya yg sampe saat ini pake hp jadul. Bahkan banyak.

            Koreksi kalo saya salah, mas.

          • deathstalker

            Saya sendiri baru 10thnan pake kartu kredit, sama sekali ga ada beban, yg ada malah sangat berhemat krn promo/diskon dan uang kembalian ga berceceran. 🙂

            Sebenarnya tergantung bagaimana menggunakan kartu kredit tersebut. Kalau sampai ditagih2 berarti orang tersebut memaksakan diri pengen hidup mewah dan pengen ini itu tapi ga sadar dengan penghasilan nya sendiri.

            Jangankan pake hp jadul, yg ga pegang hp juga masih banyak.. Hehehe. Saya kalau malas bawa mobil lebih milih pakai taxi biasa. Kalau pake uber grab, di otak saya ada rasa ga enak seperti numpang / nebeng di mobil orang yg sama sekali ga kita kenal. Lebih baik naik taxi yg jelas mereka kerja untuk mengantar kita sampai tujuan

          • haikal fahmi almaidani

            Hmmmm…. mungkin, mas memang pandai mengelola kartu kredit secara lebih teratur, lebih efisien, dan lebih tepat guna. Tdk seperti teman saya yg boros pemakaian kartu kredit.

  • Endefloor

    UU nya udah ada tinggal dijalanin gitu aja repot, kalo masih ada perdebatan, mending ya dihentikan dulu sampe ada kejelasan dan keadilan dr pemerintah dan pihak yg terkait setuju, mau itu pemain lama, atau pemain baru ,semua harus tunduk sama hukum yg berlaku

  • farid

    Sebenarnya ini fenomena sosial dimana seseorang atau pihak lain seperti perusahaan taksi konvensional dan armada lain gak mau bersaing dgn transportasi berbasis online jika transportasi online sukses dan mengurangi pendapatan mereka(transportasi konvensional)

    • DarkMan

      maaf mas bukan masalah konvensional vs online..
      dan bukan juga gak mau bersaing, tp justru mengajak persaingan yg sehat dg ikuti rule yg sama..
      coba dibaca ulang artikel ini dan dipahami

  • Sporky

    Udah ada keputusan dr pemerintah, intinya si U dan G tetap harus ikut aturan angkutan umum yg sudah ada dan mereka pilih kerja sama dg perusahaan taksi atau rental yg legal sbg penyedia aplikasi onlinenya. Kalo udah sama2 legal tinggal saingan tarif taksi rental dan taksi agrometer.

    • Rockmeo

      Itu baru dari sisi kemenhub bro kalo kasus ini kan g hanya kemenhub aja tapi kominfo dan kemendag tersu dikoordinir sama menko perkonomian
      Jadi agak lama kalo implementasinya salah bakal ada ribut lagi dari satu pihak lain

      • Sporky

        Si U dan G udah setuju dg keputusan tsb. Kalo masalah aturan dan ijin transportasi umum itu memang ranahnya Kemenhub dan masing2 Pemda melalui dishubnya.

  • Rockmeo

    Akhirnya mas ridwan ngeluarin artikel ini mengenai demo kemarin
    Dan setelah liat komen-komen dibawah terjadi perpecahan 3 pihak pro, kontra dan netral
    Tapi gw posisiin netral karena dari dua artikel yang dibahas disini keliatan media memainkan opini publik dan membuat perusahaan taksi sebagai pihak antagonis padahal gak juga
    Ok soal tarif memang keliatan g fair gw sebagai konsumen sejak ada uber dan grab selalu memakai mereka sebelum kepepet pake Angry Bird (dan sekarang sedang daftar menjadi mitra uber dan grab hehehe) dan disini harus diatur lagi yang mungkin, mungkin lho y, bisa membuat ladang nilep para oknum berkurang. Karena kita tahu kalo urus izin-izin seperti itu pasti adalah oknum yang minta jatah kalo g dkasi ngambek n izin kita g keluar.
    Peran pemerintah mungkin bisa niru kebijakan negara lain yang uber dan grab nya uda diatur atau mungkin bisa menyederhanakan regulasinya sehingga tercipta tarif murah dan kompetitif sehingga semua pihak bisa merasa adil tinggal kreatifitas masing2 perusahaan dalam menggaet customer
    Thx

  • Dwi

    Bukannya plat kuning itu pajaknya lebih murah ya dari plat hitam..? serta harga belinya pun lebih murah (KMK Nomor 355/KMK.03/2003 tanggal 11 Agustus 2011) bahkan PKB dan BBN-KB pun disubsidi juga (Permendagri No. 101/ 2014)

    Terus jika masalahnya ada di warna plat, Seingat saya Golden Bird yang parkirnya ditempat khusus, itu menggunakan plat hitam juga deh (maaf jika saya salah lihat).

    Hmmmm……

    • Sporky

      Plat hitam juga boleh jd angkutan umum spt rental mobil tapi musti terdaftar resmi dan rutin uji KIR dan memenuhi ijin dan persyaratan lain sbg angkutan umum

      • Juko Tholee

        Jadi pada inti permasalahannya bukan pada warna platnya ya? Cz banyak opini yg mengatakan bahwa plat kuning itu pajaknya lebih tinggi, sehingga tarif pun lebih mahal. Padahal pada kenyataannya dr awal beli smp pajak tahunan mereka di subsidi. Bahkan utk KIR kendaraan pun yg saya tau tdk smp 1jt/kendaraan/6 bln..

    • DarkMan

      permasalahannya tidak cuma di warna plat, tapi ada bbrp hal yg lain.. jadi gk bisa dinilai dari satu permasalahan saja

      • Dwi

        Hal yang lain maksudnya apa..? bisa disebutkan/gak?

  • Rama Nata

    Saya sebagai pelaku sopir freelance di bali, saya mengerti keluhan sopir Taxi. Bukan karena tidak ada ijin atau aplikasi online. Tapi yang dipermasalahkan adalah ketetapan minimum biaya yang berada dibawah aturan organda.
    Memang mobil grabcar tidak berikut kir atau plat kuning, tapi apakah menjual produk juga semena2? Tidak kan?
    Kita sebagai sopir yang bekerja dilapangan, kita punya ketentuan harga minimum. Misalnya untuk mobil Avanza sewa + sopir + BBM adalah 250 rb. Apakah kita boleh menjualnya dibawah 250 rb? TIDAK. Tapi apakah kita boleh menjualnya diatas harga 250 rb? Tentu saja boleh.
    Nah apakah dibenak anda setiap orang akan menjual harga 250rb? Tidak. Disini ada yang menjual harga 300-350 rb. Apakah mereka laku? Iya, mereka laku, kenapa laku? Karena pelayanan driver yg ramah, armada yang bersih. Karena kita bermain fairplay, jika ingin bersaing, bersainglah secara sehat. Jualah pelayanan.
    Cara memikat pelanggan tidaklah hanya dengan harga murah, tapi fasilitas penunjang seperti yg disebut diatas. Menjual harga dibawah harga rata2 berarti kita di fairplay.
    Kita tidak mempersalahkan mobil grabcar plat hitam, atau apa. Tapi yang kita permasalahkan adalah grabcar mematok harga diluar dari harga minimum.

  • Ndk

    Si A punya kamar kosong dirumah, terus si B ini lagi butuh tempat istirahat dan dia minat nyewa kamar si A buat istirahat, si A setuju, keduanya untung dan ga ada yg dirugikan, yang lucu kalo si A gaboleh nyewain kamarnya karna masih ada kamar kosong di hotel, hahaha

    • Mobilmahal

      Tentu saja si A boleh nyewain kamarnya, dengan tarif TERSERAH si A. Kasus yg sama dengan Uber, tanpa bermaksud bela taksi konvensional, tapi faktanya, Uber itu perusahaan yg berlindung/ngeles dibalik sistem rental mobil, kalo emang dia cuma penghubung lewat aplikasi, uber GA BERHAK menentukan tarif apalagi per km. Krn yg punya barang (mobil) kan bukan uber, analogi traveloka yg disebutin di komen diatas udah bener. sistem tarif per km tersebut sudah jadi standar transportasi umum makanya uber ga boleh ngelak kalo disebut taksi gelap, apalagi dipake buat narik untung dan pajak untungnya cuma disetor ke negara asalnya yg mana memperparah keilegalan uber. Logika ini sebenernya sederhana lho, gw heran kalo ada yg bingung.

  • nusantara nusantara

    cihuy, banyak yg komeng, admin menang banyak, silient reader bermunculan, rating situs melambung, iklan banyak yang nempel, ntr review bisa pake gadget yg 4K, maap oot, jangan dibaya ane gan

  • Ars

    Sekaarang bukan masalah tarif, buktinya pas rush hour, price grab/uber bisa lebih mahal dari taxi konvensional, buktinya tetep banyak yang order. Ini masalah gengsi aja. Contoh: lo ke hotel/mall pakai taxi konvensional pasti jelas doong, lo dianggap orang biasa (kecuali pakai silver bird/tiara express, dsb), beda kalo pakai grab/uber, keliatan lo dianter supir / minimal orang mikir itu mobil lu. Di indonesia itu gengsi no. 1 broo.. coba kalo perusahaan taxi punya mobil yang ga dikasih livery, atau minimal cuma dikasih sticker di dalam kabin, pasti laku juga menurut gue.

  • Dadan

    banyak sopir taksi di sini.