Taksi Indonesia Harusnya Ikuti Uber dan GrabCar Agar Bisa Bersaing!

by  in Nasional
Taksi Indonesia Harusnya Ikuti Uber dan GrabCar Agar Bisa Bersaing!
0  komentar
Nissan Almera Indonesia armada baru taksi Blue Bird

Jakarta, AutonetMagz – Sudah lama rasanya saya tidak memakai jasa taksi konvensional semenjak adanya Uber dan GrabTaxi, kedua aplikasi ini adalah salah satu aplikasi favorit saya untuk berpergian selain Go-Jek. Dibanding taksi biasa, Uber dan GrabCar (Salah satu layanan di dalam aplikasi GrabTaxi) menawarkan tarif yang lebih murah hingga setengah argo taksi konvensional. Sebagai masyarakat yang cerdas dan kritis terhadap kondisi keuangan rumah tangga, tentu saja saya adalah satu dari banyak orang yang memilih moda transportasi tersebut.

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh supir taksi, mereka merasa terpukul karena penghasilannya berkurang secara drastis akibat adanya Uber dan Grabcar. Taksi Express contohnya, mereka mengaku laba mereka anjlok hingga 89% di tahun 2015 silam. Bahkan, Express Group merumahkan 6.000 orang supir mereka. Penyebabnya apa bapak ibu? Jelas, karena sepinya peminat Taksi tentunya.

Demo yang mengatasnamakan perut orang-orang yang mencari nafkah melalui menjadi supir taksi ternyata mendapat respon positif dari Dishub dan Gubernur DKI Jakarta yang namanya sedang menghangat. Tetapi sebaliknya, masyarakat justru mengutuk tindakan para supir taksi dan menyalahkan para pengemudi dan perusahaan Taksi yang enggan berinovasi dan mahal. Banyak kata-kata sumpah serapah yang saya temukan di Internet dan menuduh Organda berada di balik ini semua. Masyarakat sudah terlanjur enak dengan Uber dan GrabCar, tentu saja jika ada yang menghalangi Uber dan GrabCar beroperasi, maka siap-siap orang tersebut bisa menjadi “Public Enemy”.

Demonstrasi-fitur-serena-taksi

Mungkin karena takut menjadi “Public Enemy”, orang-orang yang berkuasa enggan melarang moda aplikasi yang dituduh melanggar aturan tersebut. Lihat saja, rekomendasi Ahok dan Menhub Jonan untuk menutup aplikasi Grab dan Uber saja mental di tangan Rudiantara dan Presiden Joko Widodo. Makanya Uber dan Grab bisa santai beroperasi di Indonesia.

Sebenarnya, menjadi supir Uber juga bukan pekerjaan yang mudah, sejak Uber mengurangi bonus kelipatan 50% dan mengurangi insentif-insentif yang merupakan subsidi dari mereka, menjadi pengemudi Uber tidak lagi senikmat dahulu. Saya sendiri dulu pernah menjalankan usaha sampingan dengan meng-Uberkan beberapa unit mobil meskipun sekarang tidak lagi. Bahkan beberapa kali saya mencoba “narik” Uber untuk melihat situasi di lapangan. Menjadi supir Uber-pun juga harus bekerja keras untuk mendapatkan uang yang cukup untuk mengepulkan dapur dan membeli bensin layaknya supir Taksi. Hal tersebut dikarenakan rendahnya tarif Uber dan persaingan antar driver Uber dan GrabCar sudah semakin banyak. Rata-rata, supir Uber bisa mengantungi bersih 100 hingga 200 ribu perhari setelah dipotong oleh setoran ke pemilik mobil dan tentu saja bensin. Dulu ketika masih ada bonus 50%, supir Uber bisa mendapatkan hingga 400 ribu perhari bersih. Makanya jangan heran jika dulu para supir Taksi banyak yang hijrah menjadi supir Uber.

Jadi rugi atau tidak mengemudi Uber? Masih untung kok meskipun tidak sebanyak dulu, apalagi jika mobil tersebut milik sendiri. Makanya banyak pengemudi Uber yang mencoba mengambil mobil sendiri dengan cara mencicil meskipun harus menjual motor atau rumah mereka untuk DP kendaraan. Kebayang nggak kalau Uber dan GrabCar di stop? Bagaimana cara mereka membayar cicilan mobil?

Demo UBER

Lalu bagaimana Taksi? Kurang lebih nasibnya sama, sekarang mungkin lebih parah dari pengemudi Uber. Beberapa hari yang lalu Ibu saya menggunakan Taksi karena memang belum mahir menggunakan smartphone, supir Taksi tersebut menceritakan mengenai pendapatannya yang sangat-sangat minim beberapa tahun terakhir karena susahnya mendapatkan penumpang. Bahkan ia bingung untuk menyekolahkan anaknya karena tidak ada uang. Itu baru salah satu contoh, saya tidak bisa membayangkan jika seluruh supir Taksi di Indonesia mengalami nasib serupa. Kasihan ya, sudah hidupnya susah, dikutuk pula sama Netizen.

Lantas bagaimana seharusnya perusahaan Taksi menyikapi hal ini dan menyelamatkan perusahaan mereka dari kerugian? Sebenarnya perusahaan taksi itu tinggal ikuti apa maunya masyarakat, jika masyarakat menuduh Taksi adalah moda transportasi yang minim inovasi dan mahal, seharusnya para perusahaan Taksi itu segera ber-inovasi dan mengikuti pola Uber atau GrabCar. Buatlah Aplikasi sejenis, copot atribut stiker atau logo taksi, gunakan mobil semacam Avanza yang dijual kembali memiliki harga tinggi, pakai plat hitam dan tidak perlu repot-repot mengurus dan membayar KIR. Jelas jika melakukan hal tersebut, perusahaan Taksi macam Bluebird dan Ekspress bisa menurunkan tarif mereka dan bersaing dengan Uber atau GrabCar karena tidak perlu membayar pajak-pajak tambahan kepada Pemerintah. Toh Pemerintah juga tidak akan menindak bukan?

Segera berinovasi dan mengikuti pola Uber atau GrabCar. Buatlah Aplikasi sejenis, copot atribut stiker atau logo taksi, gunakan mobil semacam Avanza yang dijual kembali memiliki harga tinggi, pakai plat hitam dan tidak perlu mengurus dan membayar KIR. Jelas jika melakukan hal tersebut, perusahaan Taksi macam Bluebird dan Ekspress bisa menurunkan tarif mereka dan bersaing dengan Uber atau GrabCar

Mungkin kita bisa mengajak para supir Taksi itu berhenti berdemo untuk melarang GrabCar atau Uber karena akan menjadi bumerang bagi citra mereka di mata masyarakat, tetapi ajak mereka untuk berdemo kepada Pemerintah agar segera menghapus regulasi angkutan umum yang mewajibkan angkutan berbasis Argo harus memakai plat kuning, stiker taksi, mobil 5 penumpang, Kir dan lain-lain, niscaya nasib para supir taksi dan para supir Uber atau GrabCar pasti terselamatkan tanpa kita harus menghitamkan salah satu diantara mereka. Betul?

*artikel ini mengandung sarkasme

Read Prev:
Read Next:
  • Aryo Wicaksono

    banyak teman gue yang udah tawarin bangun aplikasi untuk perusahaan taksi, tinggal mereka mau bersaing atau nggak aja untuk melawan gempuran uber dan perusahaan jasa sejenis.

    • Sebenernya buat mesen taksi pake Apss udah ada Grab Taxi, cuma yang make Grab buat mesen taksi lebih baik pilih mesin GrabCar yang lebih murah dan lebih gengsi, berasa mobil pribadi.

  • Der Klopp Reds

    Pernah baca review dari aplikasi online taksi “Biru”. Kaget adalah ekspresi pertama dari hasil membaca review-review tersebut di Playstore. Aplikasi tersebut mungkin sudah mirip dan bahkan sama dengan aplikasi Uber dan sejenisnya, tapi sepertinya tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai dari manajemen taksi “Biru” tersebut. Walhasil mereka hanya mengumpulkan 3 bintang.

    Kita semua tentu mafhum bahwa membangun aplikasi yang bagus seperti Uber App. dan Grab App. akan memerlukan infrastruktur yang mumpuni sehingga mungkin saja perusahaan-perusahaan taksi belum bisa atau bahkan enggan untuk merealisasikannya.

    Demikian halnya dengan aplikasi yang sudah ada pada taksi “Biru” yang saya sebutkan diatas, tidak ada pengembangan sama sekali sehingga makin lama aplikasi tersebut makin usang.

    Kita tahu bahwa taksi “Biru” tersebut adalah taksi yang paling top di Jakarta dan tentunya mereka sudah mempunyai pelanggan yang sangat banyak maka dengan aplikasi yang mereka miliki sekarang, boleh jadi aplikasi tersebut akan crash setiap waktu karena tidak handalnya infrastruktur yang ada dibalik aplikasi mereka.

    Untuk pengembangan sistem IT seperti ini saja mereka enggan, lalu bagaimana mereka akan meningkatkan kepuasan pelanggan? Misal dengan protes ke pemerintah terkait tingginya tarif taksi karena regulasi di Indonesia yang berlapis-lapis.

    *Just my 2 cents*

    • Sebenernya Taksi ini pada dasarnya mengambil penumpang di jalan, di pusat perbelanjaan atau di tempat-tempat yang mudah dijangkau, kaya misalnya kita turun dari mall, ke lobby langsung dapet taksi.

      Sedangkan si GrabCar atau Uber, mereka cuma bisa pakai cara aplikasi online, kenapa orang-orang rela mesen online, nunggu supirya nyampe dulu, dkk, karena murah, coba harganya sama kaya taksi dan pakai plat kuning juga, orang males juga pakainya. makanya grabtaxi nggak begitu sukses sebelum ada grabcar sama grabbike… hehehe

      • Der Klopp Reds

        Memang pada umumnya harga jadi acuan utama, tapi pada akkhirnya setelah itu adalah kualitas layanan.

        Banyak pengguna Uber dan Grab merasa nyaman dengan layanan tersebut maka akhirnya mereka jadi loyal.

        Kalopun pemerintah mau bikin polling, maka jikapun tarifnya sama paling tidak pengguna dua taksi onlen itu akan tetap setia.

        Tapi pada akhirnya, membuat tarif taksi konvensional dan online menjadi sama akan jauh dari kata tercapai.

  • jeh

    padahal taxi gak liat ada potensial buyer lain. coba bisa kerjasama sama perusahaan2 buat antar kemana aja pekerjanya. tapi karena gak dikit supir yang nakal (karena tau pake voucher,jadi diputer2 dulu jalannya. atau nulis vouchernya gak sesuai sama argo yang dipake), jadi perusahaan ngitung lagi untung ruginya.

  • reyhan apriathama

    Yang musti diteken tuh skrg aturan khusus tentang ride sharing terlebih di negara sebelah ride sharing sempet disuspend tapi dikaji sehingga di accept dan ada regulasi nya di Land Transport Authority dan juga ga cuma ride sharing tp car pooling juga harus bisa diterapkan disini sebagai bagian dari mengurangi kemacetan jakarta…

  • Sporky

    Harusnya taksi biasa kasih tarif sesuai jarak spt di uber dan bukan lagi pakai argo per km, kalo taksi uber harus ikut aturan perijinan transportasi umum yg sudah ada krn prakteknya beroperasi seperti taksi. Perusahaan taksi itu menghidupi banayk supir2 yg nggak sanggup kredit mobil dan jd mata pencaharian utama mereka, sedangkan supir uber biasanya mereka sanggup kredit mobil dan dijadikan kerjaan sampingan.

    • Taksi juga punya program untuk kepemilikan kendaraan untuk para supir, cuma tidak begitu menguntungkan karena mobilnya akan dicap eks taksi

  • S.A.M.

    copot stiker taksi, pakai plat hitam, gak usah mengurus KIR dll, artikelnya di bikin supaya orang ngelawan perarturan ya ?
    lalu gak dijelasin apa dampak negatif yang sekiranya bakal terjadi kalo hal kayak begini di terapin, terutama yg gak usah mengurus KIR, bisa saya artikan kalo artikel ini mendukung penghapusan pengawasan untuk angkutan umum ?

    jujur, sangat kecewa karena situs sekelas autonet membuat artikel seperti ini

    • Rockmeo

      Mungkin bahasanya mas ridwan ga mengurus KIR diakibatkan masih banyaknya kendaraan angkutan umum walaupun uda diuji KIR tapi secara kasat mata tetap aja bobrok dan layak dihancurkan
      Contoh aja tuh kopaja dan metromini lo kira layak lulus uji kir?
      Banyak juga tuh taksi selain si biru yang KIR gw jamin ASPAL

      • S.A.M.

        saya sadar kalo masih banyak mobil lulus kir tapi asepnya masih ngebul kayak orang bakar sampah
        tapi, jangan karena penegakan peraturan yang lemah, kita jangan ikut-ikutan melanggar peraturan itu dong, ya enggak ?
        harusnya tuh penegakkan kir yang didukung, bukan malah nyuruh orang buat gak bikin kir.

        • Rockmeo

          Saya ngerti aturan harus ditegakkan tapi aturan yang mana?
          Jelas2 uber dan grab g melanggar apapun mereka itu cuman perusahaan teknologi bukan penyedia armada
          Kalo uber dan grab punya armada sendiri baru lah koar2 suruh urus kir selama ini kan enggak bukan?
          Yang punya tuh kendaraan rata2 rental dan pribadi yang nyari sampingan

          • S.A.M.

            oke, mungkin saya salah kalo nyalahin uber dan grab, jadi berarti pemilik kendaraan yg sebenarnya yg harus mengurus uji kir ?
            dan sebenarnya usul bro Nubitol Petrolhead yg uji emisi ketat buat kendaraan pribadi sebenarnya bisa jadi solusi, tapi karena belom ada peraturannya (atau ada tapi gak ditegakkan ?) saya rasa sih kir ini satu2nya yg bisa diandalkan dalam mengawasi kelayakan transportasi umum

          • Rockmeo

            Lho grab dan uber kn bukan bagian dari transportasi umum tp kendaraan pribadi jd g layak buat KIR,lagipula apa gunanya KIR juga karena itu mobil pribadi yg selalu servis rutin
            Yg bener kayak Nubitol Petrolhead bikin regulasi cek buang emisi aja baru ok tapi percuma juga kalo masi ada solar dan premium

          • S.A.M.

            nah, di sini yang bikin uber sama grab masalah, dia transportasi pribadi, tapi dipake buat nyari duit (komersial), statusnya apa ? perpajakannya gimana ? aturannya gimana ? masa pajak angkutan komersial sama pribadi bisa sama ?
            ini yg harus dipecahin dulu sama pemerintah, uber grab dan pemilik kendaraan
            setelah itu baru deh, untuk uji emisi dan kelayakan bisa ditentukan make kir atau enggak sama sekali atau bikin standar baru.

          • Rockmeo

            Mas gini aj deh punya kendaraan pribadi?
            Itu dipake buat apa? Pajangan atau buat nyari duit juga? G selamanya apa2 itu harus dikomersialkan
            Pajak? Kan uda pajak waktu beli tuh mobil sama STNK dan pajak tahunan mau apalagi ngedobel gitu?
            Mereka juga bukan angkutan komersial hanya ride sharing terus dibayar kalo mas sam inget fenomena nebengers?
            Kurang lebih sama lah

          • maaf mas Rockmeo, saya pikir justru disinilah letak carut marutnya. uber dan grab menggunakan kendaraan pribadi untuk mengangkut penumpang. ini bisa dikategorikan kendaraan umum (karena mengangkut penumpang berbayar/ bukan carter atau rental car). sesuai aturan pemerintah maka dikenakan aturan kendaraan umum yaitu harus ada KIR dan menggunakan plat kuning.
            saya pikir ini masalah lama. ini kan sama saja dengan taksi gelap/ilegal yang dari dulu sudah ada. hanya sekarang dipermudah dengan fasilitas (apps online). tapi pada dasarnya adalah tetap taksi gelap.
            jadi memang tidak bisa disalahkan mengenai penyedia appsnya karena memang mereka tidak punya armada yang real.
            saya pikir sebenarnya simpel. kita bisa lihat contoh traveloka atau apalah. mereka menyediakan jasa online untuk pemesanan tiket pesawat atau hotel. mereka bukan yang punya hotel atau pesawat kan. nah tapi dari sisi maskapai penerbangan dan hotel, mereka yang ikut aturan dan bukan hotel atau maskapai gelap(tidak berijin). mereka misal tetap bayar pajak hotel, pajak restoran dan, ada airport tax dll.

            sekarang bolanya tinggal di pemerintah. apakah grab atau uber akan diberikan regulasi, atau taksi berijin / legal yang biaya perijinannya di kurangi atau dihapus.
            kan salah satunya misal. KIR gratis (bukan dihapus), pengurangan PPNBN untuk armada taksi, penghapusan PPN untuk tarif taksi dll.
            karena jika pemerintah tidak menengahi maka akan terus terjadi konfik horizontal antara taksi legal dan taksi gelap (

        • Nubitol Petrolhead

          Uji kir itu kan mirip sm assessment mobil di Europe. Bedanya kalo disana itu di uji emisi dan reliability secara ketat. Trs kenapa mobil Pribadi ga di uji kir? Kalo menurut ane sbg nubi sih krn mobil pribadi ada jadwal servis rutin tiap sekian kilometer. Toh jg wkt servis rutin mobil udh di cek sm mekanik yg jelas2 ahli permesinan, jadi kayanya agak useless ada uji kir. Cukup ilangin kir, bikin regulasi wajib servis rutin kendaraan

          • Rockmeo

            Setuju

    • Sebetulya ini sarkas, Uber dan Grabcar itu murah karena Illegal, Taksi juga bisa punya tarif murah seperti mereka kalau ngelawan regulasi. Karena pemerintah nggak bisa mentertibkan praktik illegal, kebayang nggak tuh kalau 27rb taksi di Indonesia ngikutin praktik Uber dan Grabcar yang illegal….. wkwkwk

      • Rio Prasetyo

        wkwk setuju juga sama mas ridwan sebenernya untuk statement itu, bukan karena setuju nyuruh orang cerdas melanggar, tapi setuju karena di perusahaan jasa itu harga dan kualitas layanan unsur yg mempengaruhi kepuasan pelanggan yg ujungnya berpengaruh juga ke pembelian ulang. Kalo karena pajak dan insentif pemerintah termasuk untuk UJI KIR dan pajak kendaraan sedan terlalu tinggi, imbasnya ke harga juga kan dan pastinya kalo dimurahin untung buat si supir sedikit, balik lagi ke kualitas layanan si supir yg narik argo biar argo itu jadi banyak. So, yg mungkin harus berbenah disini itu pemerintah, sebisa mungkin ngatasin hal2 kaya gini yg ga melulu berpatokan sama UUD lawas, coba sekali2 support perusahaan berbasis teknologi kaya gini, memudahkan masyarakat kan. *Hanya Opini* 🙂

      • bener mas hanif, persis seperti tulisan saya sebelumnya diatas. ini bukan masalah taksi online dan taksi konvensional. tapi sebenarnya adalah masalah taksi legal dan taksi gelap / ilegal. dan dari dulu juga sudah ada. cuman dulu mungkin tidak semasif semenjak ada aplikasi online yang mempermudah orang nyari taksi ilegal dan murah.
        aturan dan pajak-pajak serta retribusi pemerintah dan yang buat taksi legal jadi mahal

        • Yap, ketika yang illegal udah mengusik yang legal, pemerintah harus turun tangan, gua rasa kalau uber dan grabcar menggunakan regulasi yang sama dengan taksi, tarif mereka kurang lebih akan sama

  • Rockmeo

    Akhirnya ada juga artikel ini
    Bagi gw uber dan grab jelas2 bukan perusahaan taksi mereka perusahaan teknologi jadi para pendemo salah alamat kalo menyebut mereka perusahaan taksi
    Dari segi keamanan dan kenyamanan penumpang jelas uber dan grab lebih unggul apalagi mobilnya rata2 dibawah 5 tahun beda dibanding taksi biasa (selain biru) yang diatas 5tahun
    Selain itu transaksi lebih aman melalui uber dan grab karena bisa memakai non tunai beda sama taksi biasa yang kadang2 nyebelin banget mengenai argo dan suka ngeles kalo ga ada kembalian

    Yup solusi paling tepat regulasinya direvisi agar mengakomodir semua pihak jangan lagi ada pungli

    • negara apa ini

      kalau grab dan uber dengan cara seperti ini diperbolehkan, berarti taksi yang sudah resmi berubah saja menjadi perusahaan teknologi, pakai aplikasi sama seperti grab and uber, trus mobilnya jgn warna biru atau putih lagi, tapi jadi seperti mobil biasa aja. ga usah pake kir, plat tetap hitam,bebas pajak usaha, paling cuma bayar pajak tahunan biasa ajakaya mobil pribadi, tarif bebas seperti grab and uber. trus tidak berbadan hukum…aduh mau jadi apa bangsa ini..aturan yang sudah ada ditabrak.

      • Rockmeo

        Y bisa aj taksi berubah plat hitam dan buat aplikasi sendiri no problem kalo mau persaingan sehat

        Grab dan uber sudah terdaftar sebagai perusahaan legal kok berbadan hukum itu
        Cek aj

        Aturan ny buka ditabrak tapi out of date
        Harus segera direvisi

        • hawthorn

          sama kaya aturan pake helm klo mengendarai mobil convertible, undang-undang udah out of date .. gak ngikutin perkembangan zaman & teknologi …

    • jdk

      masalah uber jgn d liat nya jangka pendek tapi jangka panjang, kalau d biarin tidak ada yang ngawasin bisa2 kebablasan,contoh taxi yg dibilang rata2 diatas 5 tahun, ada yg ngejamin 10 tahun lagi 15 tahun lagi semua yg memulai bisanis uber dan grab bakal trus investasi mobil setiap 5 tahun?ujung2nya ky taxi juga,
      peraturan dibuat bukan buat menyusahkan kita, tapi untuk melindungi konsumen nya, paling kalau ada kasus tertentu yg melibatkan konsumen yang di kritik selain empu nya aplikasi ya siapa, pasti pembuatan regulasi,ya bilang ga da pengawasannya lah apa lah,bla bla bla,
      jgn sampe nasibnya ky lampu merah kita, enak ngelanggar aja trus toh ga da polisi yg nungguin, ga tau fungsi sbnrnya buat apa,

      • Rockmeo

        Kan uda gw blg solusinya itu semua pihak duduk bersama dan buat regulasi yg baru
        Kn uda tw sekarang regulasi uda ketinggalan jaman banget
        Jd menurut gw salah tuh langkah jonan yg langsung main blokir dan nangkepin para supir yg gabung grab car dan uber mesti nya duduk bareng sambil makan dsb
        Contoh atasan ny tuh pak jokowi kalo mikir tuh panjang jangan asbun

        • DarkMan

          Sambil tunggu regulasi baru lebih baik blokir atau dihentikan sementara, sebelum terjadi kekisruhan berkepanjangan..

          • Rockmeo

            Y jangan anarkis lah bersaing sehat aj
            Apalagi dengan kejadian anarkis hari ini pasti pada males naik taksi

  • Endefloor

    Tetep ga setuju lah, harus ikut regulasi pemerintah, taat ama UU, kasian taxi konvensional yg taat bayar segala macam pajak plus uji kir, harus adil, untungnya grab udh sadar kemaren pas berunding ama pak rudiantara, bakal ke depan jd koperasi

    • Endefloor

      Sorry to say gue ga setuju ama ini artikel, hukum dan negara itu nomer satu, apalagi ini jg menyangkut masalah keselamatan konsumen juga, jikalau UU nya blm bisa menjangkau, ya sebaiknya dirundingkan lebih lanjut sampe ada kepastian, kalo perlu di revisi UU nya, boleh bersaing tapi secara sehat dan adil, jgn ada pemain baru bikin peraturan seenaknya sendiri dan mengabaikan hukum pemerintah

      • S.A.M.

        setuju banget !
        uber dan grabcar ini malah seperti mengadu domba pengusaha taksi sama pengusaha rental (+pribadi). Tadinya rental sama taksi punya lahan sendiri2 tapi karena uber ini, pengusaha rental bisa masuk ke lahan pengusaha taksi melompati semua peraturan yang ada. Akhirnya ya, berantem lah pengusaha taksi dan rental.

        Sementara uber sama grab, mereka bisa santai nge raup uang dan data (ini yang paling mahal) penumpang mereka.

  • Adi Maulana

    Seneng liat komentar-komentar yg lain, mereka punya pola penyelesaian yg bagus bagus. tp masalahnya gimana yg bikin regulasi mksudnya pemerintah. antara pak pres dan mentrinya keputusanya aja gk sama. gmna mau selesai. ayolah dimohon buat seluruh pihak yg berkepentingan termasuk konsumen duduk bareng dan buatlah regulasi yg bisa menguntungkan semua pihak

  • deathstalker

    Artikel ini sebenarnya “menjerumuskan” kita sebagai pembaca, yg baik dan benar adalah yg murah minim perizinan dan minim biaya walaupun harus melawan undang2 dan hukum di nnegara ini.

    Ibarat nya kita membela PKL yg jelas2 tidak punya izin usaha, tidak punya IMB dan merugikan pengguna jalan karena menutupi bahu jalan. Kita membela mereka hanya karena harga yg ditawarkan lebih murah, bisa ditawar dan tidak perlu parkir untuk berbelanja.

    Atau ibaratnya seperti kita mendukung distributor barang BM yg memasarkan barang ilegal, ga bayar pajak dan lainnya. Hanya karena mereka menjual barang lebih murah, gengsi barang terbaru, blm ada yg punya di iIndonesia. Lalu kita menyarankan para distributor resmi lebih baik ga usah bayar pajak, ga usah ngurusin izin, selundupin barang aja biar harga murah.

    • Ya, memang kalau tidak bisa memahami isi artikel dengan tidak baik bisa salah arti

      • deathstalker

        Hidup ilegal..! Hidup murah..! Hidup gengsi..! Hidup penghasilan tambahan..!
        Tabrak aturan.. Ganti undang2 semau kita..! Langgar dulu masa bodo, ntar undang2 minta direvisi..!
        Perusahaan yg udah sesuai aturan harus gabung dan ikut2an yg ilegal biar bisa bersaing..!
        Hilangkan plat kuning.. Plat kuning pasti uji KIR nya bodong dan plat hitam pasti aman krn sering service.. Hiduuup…!

        • Bayu Agung Prakoso

          Saya suka komen mas.. Hidup ilegal.. Ayo buat perusahaan penyedia bokep karena yang ilegak itu asik

  • Farid

    Hmmm, harus lebih bijak lagi mas kalau nulis artikel mengenai polemik transportasi online. Jadi terkesan memihak salah satu pihak.

    Kalau menurut saya, yang jelas harus disalahkan ya pemerintah. Kesalahan pertama, tidak membangun transportasi umum yang nyaman, cepat dan terintegrasi dari dulu. Sekarang keadaan sudah semakin parah. Sangat terlambat. Mungkin kalau ada transportasi massal yang cepat, nyaman, layanan prima dan terintegrasi dengan kota penyangga, masalah ini tidak akan jadi kontroversi yang berlebihan karena masyarakat punya banyak pilihan untuk bermobilitas.

    Kesalahan Kedua, Regulasi yang tidak menyesuaikan dinamika keadaan tren transportasi masa kini sehingga jika ada inovasi baru di transportasi selalu kelabakan.

    Kesalahan ketiga penegakan hukum yang lemah untuk uji kir dan pajak kendaraan umum bagi pengusaha transportasi yang nakal. Sehingga kondisi kendaraan umum jadi tidak layak.

    Solusi jangka pendek, buat regulasi yang tepat untuk platform ride sharing ini, dengan menjadikan mereka sebagai kendaraan umum, penegakan hukum bagi semua pengusaha transportasi yang tidak pandang bulu untuk uji kir. DAN JANGAN LUPAKAN PEMBANGUNAN TRANSPORTASI MASSAL BERBASIS KERETA YANG NYAMAN, CEPAT, LAYANAN PRIMA, DAN TERINTEGRASI DENGAN KOTA PENYANGGA.

    • Rockmeo

      Suka sama banget sama kalimat terakhirnya
      ?

    • Always35

      Transportasi massal berbasis kereta, yeaaahh *thumbup*

  • cendoleyo

    Sebenernya gua biasa jadi silent reader, tp berhubung artikelnya enak buat di komentarin, yaudah deh nimbrung dikit ? menurut gua grabcar sm uber itu cuma pengobyek, atau mungkin bisa dibilang penguhubung antara sopir dengan konsumen. Dari dulu kan emg udh banyak taxi2 plat item milik pribadi. Mereka susah nyari duit, soalnya kebanyakan orang2 ga percaya, belom lg ga jarang sopirnya nakal soal tarif. Di bandara jg udh ketat banget kan sm abang2 taxi plat item. Trs akhir2 ini muncul dua aplikasi penolong si taxi plat item. Dtg lah rejeki nomplok buat mereka. Karena mereka masuk di seleksi, jadi meminimalisasi sopir2 nakal. Orang jadi lebih percaya. Sama aja kaya pedagang online sm pedagang kecil di pusat perbelanjaan. Kalo dia cuma nunggu di pusat perbelanjaan, bakalan lama dpt pelanggan. Beda sm pedagang online, pembeli dari seluruh penjuru bisa pesen langsung, cepet pula ga perlu keluar rumah. Tp pada intinya, semua ada dampak positif dan negatif. Semoga aja pemerintah inovatif dalam merevisi undang2 soal uber dan grab ini

  • gelo

    soal aplikasi ga ada masalah, sekarang sudah era modern, semua berkembang sesuai tuntutan jaman. kalau grab dan uber dengan cara seperti ini diperbolehkan, berarti taksi yang sudah resmi berubah saja menjadi perusahaan teknologi bukan transportasi lagi, pakai aplikasi sama seperti grab and uber, trus mobilnya jgn warna biru atau putih lagi, tapi jadi seperti mobil biasa aja. ga usah pake kir, plat tetap hitam,bebas pajak usaha, paling cuma bayar pajak tahunan biasa ajakaya mobil pribadi, tarif bebas seperti grab and uber. trus tidak berbadan hukum, beres kan. ini semua ada di pemerintah sebagai pemegang kekuasaan. undang2 soal transportasi sudah ada. aturan main sudah ada, hukumnya sudah ada. sekarang tinggal dilihat mana yang sesuai dengan regulasi yang sudah ada, taksi konvensional atau transportasi online, bisnis itu harus adil dalam suatu negara yang mempunyai dasar hukum, jangan kelompok yang satu diikat dengan segala aturan dan regulasi yang sudah ada, sementara kelompok yang satunya bebas menabrak semua aturan yang ada. kecuali nih negara kartel narkoba, bebas dah lo sonoh pada main bantai2an demi menguasai pasar, walaupun itu satu bangsa.

  • tahlilan

    wah artikelnya ga win-win solution nih, kurang mencerdaskan, indonesia sudah punya aturan hukum yang berlaku. memang saya akui grab dan uber sudah sangat diterima dimasyarakat dengan baik, tetapi tetap ikuti aturan main, biar semua adil dalam pertempuran bisnis. kalau grab dan uber sudah ikuti aturan main di negara Indonesia ini, baru deh kita serahin lagi kepasar, toh ujungnya tetap masyarakat yang akan memilih mana yang lebih nyaman, aman, dan harga terjangkau. yang bobrok pasti keok. buatlah artikel yang mencerdaskan bangsa…MERDEKA….piss

    • tokekkk

      aturan bisa menyesuaikan dengan zaman dan kondisi yang ada, undang-undang aja bisa diubah kok untuk kenyamanan dan kemajuan bersama =)

  • Sporky

    Kalo saya bilang tindakan menhub yg memohon pemblokiran aplikasi taksi online U dan G udah tepat krn prakteknya mereka adalah plat hitam yg beroperasi spt taksi plat kuning yg nggak sesuai aturan krn nggak mungkin razia di jalan satu persatu. Selama nggak ikut aturan ya itu namanya ilegal di mata hukum krn negara ini berdasarkan hukum. Kalo yg ilegal itu biasanya memang harganya pasti lebih murah. Yg pd protes kalo taksi U dan G dilarang beroperasi itu ialah mereka yg selama ini menikmati keberadaan produk ilegal tsb.

  • yoga sam

    Taksi Indonesia Harusnya Ikuti Uber dan GrabCar Agar Bisa Bersaing???

    Sekalian ikutan ga bayar pajak?

    Yg nulis berita ini bias, ga fair&objektif dan terkesan menghasut

  • Andi

    Sebenernya ga ada masalah sama teknologi uber / grab. Toh perusahaan taksi gede macem bluebird jg udah punya aplikasi sendiri yg bisa order online.

    Yg jadi masalah itu krn mereka ga pake ijin angkutan umum, ga byr pajak, ga pake syarat plat kuning, uji kir berkala segala macem. Jelas biaya operasionalnya beda jauh sama taksi biasa, makanya mereka bisa pasang tarif murah. Nah ini yg dicari masyarakat, mana yg murah enak ya diambil, padahal illegal.

    Coba aja tuh disamain syaratnya, suruh ikut aturan main yg sama kaya taksi biasa. Yg ada bakalan lebih mahal tarifnya & ga laku lagi
    Disini harus sama2 fair lah, kalau mau bersaing yg sehat. Dinas terkait jg harus pinter nanganin masalah ini biar konsumen ga protes krn ngerasa pilihannya dibatasi.

  • nusantara nusantara

    taksi perusahaan bisa mahal tarifnya karena ada biaya kir, cicilan mobil, biaya servis, dll, tapi disisi lain juga harus ikut perubahan zaman, pakailah aplikasi, kan klo cari calon penumpang juga gampang klo di pointing pake GPS, juga bagusnya ada e-wallet ini untuk mengantisipasi sopir nakal gak ada uang kembalian, sekaligus bisa kasi rating bintang dan komeng terhadap sopir dari perusahaan taksi tersebut, karena gak semua sopir taksi perusahaan mempunyai kepribadian baik, begitu juga sebalikya

    untuk taksi aplikasi, ya namanya kendaraan umum harus ada KIR dan plat kuning, taksi aplikasi tarifnya bisa murah mungkin karena biaya (cicilan) mobil, servis, body repair klo nyenggol di tanggung sopir / owner mobil

    juga klo mau murah tarif taksi harus pake gas CNG

    ada yang tau klo jadi sopir taksi aplikasi harus serahin BPKB, ijazah atau surat segala macem ke perusahaan gak y?

    • deathstalker

      Sebagai informasi aja, perusahaan taxi sekelas bluebird udah ada app online nya, bisa order dan tracking segala macem. Soal pembayaran jugs bisa pake kartu kredit (walaupun belum semua armada)

      Di sini masalahnya uber dan grab menjerumuskan kendaraan pribadi dijadikan angkutan umum, tidak ada izin usaha, tdk membayar pajak. Dr melanggar itu mereka bisa ksh harga murah. Jd murah krn ilegal bukan krn canggih pake app online 🙂

      • Barry

        Argumen ‘ngga bayar pajak’ sangat mudah dipatahkan. Klo dilihat dari penerimaan negara, Yang gabung di Uber mobil plat hitam, keluar showroom mesti nebus Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn-BM) yg lumayan di Indonesia. Tiap perpanjang STNK, kena Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang besarannya jauh di atas kendaraan angkutan.

        • deathstalker

          Argumen Anda juga sangat mudah dipatahkan.
          Karena yg dimaksud pajak bukan pajak kendaraan tapi pajak ppenghasilan.dan pajak kendaraan umum.

          • Barry

            Hmmm, tadi koq ngga dibilang klo pajak pengalihan 😀
            Dan saya tulis ‘dari sini penerimaan negara’ lho, berarti PPnBM dan PKB ya termasuk *dududuuu
            Daaannn… Perusahaan rental penghasilannya bertambah, berarti Pajak Penghasilan Badannya juga bertambah. Driver-nya meningkat penghasilannya MELEBIHI Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) jadi kena Pajak Penghasilan Orang Primarily (PPH OP). Dari segi penerimaan negara malah potensi bertambah koq. Jadi ngga cuan lah pakai argumen pajak 🙂

          • deathstalker

            Ya krn orang yg paham dengan masalah ini pasti ngarahnya ke pajak penghasilan . Klo pajak kendaraan bermotor ya semua pasti kena klo ambil dari diler.
            Di sini ga ada yg bahas apakah penerimaan negara lebih besar atau lebih kecil tapi ada pajak yg seharusnya dibayar tapi tidak dibayar krn memakai plat hitam untuk usaha.
            Dari ga bayar pajak dan urus perizinan itu uber dan grab bisa kasih harga murah. Ini berujung ke persaingan usaha tidak sehat

          • Barry

            Pajak ya pajak, ada beragam, bukan hanya pajak penghasilan, dan ada beberapa jenis pajak yang terkait ‘masalah’ ini.

            Pajak Kendaraan Bermotor itu dibayar tiap tahun setiap perpanjang STNK, baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Besarannya aja yang beda, PKB kendaraan pribadi JAUH LEBIH TINGGI dibanding kendaraan umum. Jadi Pemerintah mengalami penurunan sumber pemasukan negara dari pajak dan biaya perizinan lain dari peraturan perhubungan yang ada saat ini, tapi mendapatkan peningkatan dari PKB, PPh OP driver, PPh Badan perusahaan rental.

            Soal keselamatan? Peraturan mengharuskan kendaraan angkutan umum menjalani uji KIR. Apakah menjamin? Yakin uji KIR dilakukan dengan obyektif? Klo ngga Gubernur DKI sekarang melakukan bersih2, tahu sendiri bagaimana perilaku uji KIR. Entah di Provinsi lain. Kendaraan berbasis aplikasi mensyaratkan usia kendaraan 4-5 tahun. Dan mereka tidak mengalami PUNGLI di lapangan. Makin rendah lagi biaya operasionalnya. That’s the beauty of it and that’s why this is the new era. Beradaptasilah, segera revisi UU Transportasi. Beri insentif juga untuk pemain lama agar tidak berat dalam menjalani adaptasi ini.

  • gemilang kurniawan Soejantono

    Artikelnya cukup bagus,saya sangat menghargai pendapat Penulis. Bisa jadi Inspirasi buat taxi online buat tambahin aplikasi judulnya Sharing/ cari tebeng,dll. Jadi mobil pribadi bisa …… Saya bukanya provokator tapi kalau aplikasi membuat celah seperti itu habis sudah. Mengenai pajak? Mungkin aplikazi harusnya membayar pajak seperti Gubernur bilang “aplikasi boleh asal bayar pajak”. Kalau masalah data?? Saya perkernalkan bigdata(khusus yg blom tau,kayaknya latar belakang penulis ini udah tau apa itu big data?yaudah jelasin ya…hehehe). Selama Anda terkoneksi minimal dengan peragkat komunikasi data anda sudah di ketahui,terlebih anda terkoneksi Internet. Search engine, jaringan Internet dan masih banyak lagi. jualan data juga? So kalau mau data Aman silakan Anda pikir celah2nya. Saya tidak mau di bilang provokasi.

  • dsainbar

    Jaman sudah sangat maju perusahaan dan pemerintah harus bisa menyesuaikan diri kreatif ber inovasi kalo pemilik taxi mau mengikuti almarhum Nokia ya monggo cuma jangan karyawan yg dikorbankan suruh demo, pemerintah juga harus membuat aturan win win solution bagi konsumen dan taxi, coba seandainya sejak tahun 1980 jakarta sudah dibangun MRT seperti di Tokyo dsb, kalah lobi sama persh mobil jepang ironis bgt

    • deathstalker

      Perusahaan sekelas bluebird udah ada app online nya lho mereka juga berinovasi. Bisa order online dan tracking.

      Yg jd masalah grab dan uber itu pake mobil plat hitam dijadikan kendaraan umum, ga ada izin usaha, ga bayar pajak. Dari melanggar hukum itu mereka bisa kasih harga murah.

      Dari jaman soekarno MRT udah dipikirkan lho, setelah soekarno lengser MRT dilupakan. 32thn kita cuma jalan di tempat, merasa makmur dan hebat dalam tempurung. Negara lain udah bangun MRT dari 30thn lalu. Memang sangat ironis.

  • Jolo

    Udeehhhh bubarin aja semuanya, kalo emang gak mau bubarin, pajaknya dinaekin. Pajak kendaraan bermotor terlebih khusus. Trus pemerintah bikin transportasi umum yg nyaman, terintegrasi dan murah, biar mobilitas masyarakat terpenuhi. Tapi satu efek paling buruk, gak bakal ada situs review kendaraan macem gini, pajeknya mahal cooyyy kalo mau beli hahaha

  • akthur

    biar fair, sebaiknya pemerintah mengenakan pajak kepada uber & grab yang dibayar di awal buka pintu. Misalkan tiap order dikenakan pajak 10ribu flat jauh dekat, lalu baru hitungan argo per kilometer sesuai standard uber / grab. Dengan demikian semua akan senang. pemerintah senang dapat pajak, masyarakat senang dapat tarif yang sedikit lebih murah dari taksi & supir taksi lainnya tidak akan merasa ketimpangan rezeki karena tarif yang jadi beda tipis. Karena salah satu faktor perbedaan harga takdi vs uber adalah pajak. Padahal disisi lain, pemilik taksi sudah diuntungkan dengan keringanan pajak untuk kendaraannya yang ber plat kuning ketimbang pemilik uber yang membayar pajak penuh untuk kendaraannya.

  • Please stop using words: “Taksi Konvensional dan Taksi Online” . Karena yang resmi legal ini sekarang sudah ada app onlinenya juga kan. Jadi adanya Taksi Plat Hitam (Keamanan tidak terjamin) dan Taksi Plat Kuning (Keamanan lebih terjamin dan persaingan sehat) . Semoga penulis juga lebih bijak menulis supaya tidak terlihat menyarankan untuk melanggar aturan yang ada. Semoga negara kita tidak seperti negara kapitalis.

    • Barry

      Taksi plat kuning keamanan lebih terjamin??? Yang tempo hari kasus perampokan dan bahkan pelecehan dan bahkan perkosaan itu di moda angkutan apa?
      Taksi plat kuning persaingan lebih sehat??? Org*nd* bukannya malah cenderung menjadi kartel yang bisa nentuin tarif tanpa banyak memperhatikan kenyamanan konsumen? (usia kendaraan, SOP pengemudi dll).
      Yakni plat hitam keamanan tidak terjamin??? Pengalaman saya 6 bulan jadi pelanggan Uber dan Grab, malah merasa aman, baik naik langsung maupun saat menitipkan keluarga untuk diantar. Terpantau di apps-nya, ngga dikomplain mau ke tujuan yang macet sekalipun, ngga repot bayarnya.
      Era baru telah datang, cara lama harus beradaptasi. Setuju dengan pendapat dik Halim.

  • tutup panci

    dah R hanif mendingan review mobil aja, jgn ulas yg beginian, jadi lieur

  • haikal fahmi almaidani

    UBER & Grab Taxi belum ada di kotaku, Medan.
    Kalo udah ada, aku tertarik utk berkecimpung di dalamnya.
    Apalagi, mobil Suzuki Karimunku sudah kurombak total dari suspensi hingga AC, jadi lebih nyaman utk penumpang.
    Toh, kita mengendarai mobil tdk harus ngebut2 ala pembalap F1 di jalan raya kan?

    Hehehe….

  • Always35

    Waduhhh maaf nih agak kontra sama tulisan kali ini. Di satu sisi okelah kita sangat butuh inovasi2 dan ada kemajuan teknologi yang bagus buat masyarakat untuk kedepannya. Tapi di sisi lain kita di negara indonesia ini kan ada hukumnya dan Undang2 yang mengatur apa aja yg boleh dan apa aja yg enggak demi kepentingan bersama dan kemaslahatan bersama sehingga sama2 adil dan sahdi mata hukum (undang2).

    Dan masalah ini harusnya jadi tamparan buat 3 pihak : pemerintah, penyedia aplikasi, sama operator taksi.

    Pertama pemerintah dulu. Adanya problem macam gini bukti pemerintah enggak becus untuk niat memperbaiki angkutan massal (jangankan yg di jalan, yg berbasis rel aja pemerintah masih setengah hati), padahal dari sisi undang2 ditambah perpu, perda dkk nya udah sangat bagus. Tinggal implementasinya di lapangan yg masih “setengah hati”. Dan juga ini kan untuk kepentingan bersama, jadi pemerintah dalam mengatur masalah tarif jangan terlalu memberatkan operator. Selama ini masih terlihat karena ada pajak ditambah bayar ini itu ditambah ada TBB dan TBA, dan biayanya dibebanin ke konsumen, dan jadi mahal. Contoh liatlah suksesnya tuh lihat commuter line jadi salah satu angkutan massal yg murah untuk pergi kemana2 karena disubsidi meskipun masih jauh dari kata perfect tapi itu masih lebih baik daripada sebelum2nya.

    Yg kedua, si penyedia aplikasi yg berbasis transportasi. Menurut saya coba deh bermitra dengan perusahaan trasportasi atau rental yg sudah berbadan hukum agar bentuknya legal (terutama uber nih, kalo grab masih ketolong krn ada grabtaxi, bahkan mitranya aja udah ada). Karena selama ini problem uber dan grab ada di legalitas aja biar sah di mata pemerintah entah dlm bentuk angkutan massal atau dlm bentuk “ride sharing”. Ini problem bukan cuma di indonesia aja, di beberapa tempat di luar negeri juga dialamin.

    Yg ketiga, si operator taksi. Terutama buat burung biru sama E yg sok2an enggak mau bermitra dengan apps lain dan terlalu mengandalkan apps sendiri. Coba kalian ngaca deh, taksi2 kelas bawah/menengah aja merasa tertolong semenjak adanya aplikasi yg mempermudah sopir taksi buat mencari penunpang bahkan sampai bermitra dengan mereka (re: P dengan Grabtaxi), jadi kerja sopir enggak berat karena mencari penumpang, yang ada penumpang yg cari mereka. Jangan cuma karena modal nama besar pasti penumpang cari mereka, nyatanya? Enggak begitu pengaruh kok. Selain itu untuk armada sama sopir taksi juga harus bener2 diperhatikan biar setidaknya bisa sama enaknya seperti naik kendaraan pribadi. Dan ingat, era persaingan global sudah di depan mata dan operator mesti punya inovasi2 lain biar bisa menarik di mata penumpang dan enggak gampang tersaingi dengan operator lain. Contohlah taksinya pake pintu otomatis ala taksi jepang, trus mobilnya pake versi limited edition tapi bukan yg versi pahe untuk taksi misalnya.a

    Maaf komennya agak panjang tapi masalah ini harus ada win-win solution bagi semua pihak, enggak berat di satu pihak aja.

  • Dewa Yudhi

    Di bali mah, kalo supir2 taxi legal nemu armada taxi ilegal bakal dibantai kali ya wkwk

  • tokekkk

    Singkat kata sih konsumen pasti maunya yang lebih mudah, lebih murah, lebih praktis, dan lebih-lebih lainnya.

    Kalau merasa tersaingi, ya… berbenah diri =)

    Teknologi semakin maju, masyarakat semakin pandai, sudah seharusnya pemerintah ikutan pandai =)