Peneliti Jepang Pelajari Kayu Sebagai Bahan Baku Mobil, Kuat dan Ringan?

by  in  Hi-Tech & International
Peneliti Jepang Pelajari Kayu Sebagai Bahan Baku Mobil, Kuat dan Ringan?
0  komentar

AutonetMagz.com – Seberapa sering kita menemukan kayu di dalam mobil? Kalau kasusnya adalah mobil mewah seperti Mercedes-Maybach, Bentley dan Rolls Royce, kayu biasanya jadi penghias interior untuk menonjolkan kesan mewah yang HQQ. Aplikasi lain dari bahan kayu di mobil juga bisa dilihat di Morgan Three-Wheeler, mobil track day yang memakai bahan baku bodi dari kayu. Tampaknya sudah biasa lihat kayu jadi penghias mobil, tapi apa bisa jadi bahan baku komponen mobil?

Sekarang sih belum, tapi kalau beberapa tahun lagi, hal itu tidaklah mustahil. Seriusan? Tentu, sebab menurut Reuters,  peneliti dari Kyoto University di Jepang yakin kalau mobil dan suku cadang berbahan dasar kayu bukan sekedar bahan bercandaan atau isapan jempol kaki belaka, namun bisa jadi proyek yang serius dan potensial dibanding bahan yang ada sekarang, seperti besi, baja atau carbon fiber. Tim riset material kayu ini dipimpin oleh Hiroyuki Yano, dan hasilnya adalah selulosa nanofiber.

Regu peneliti ini memakai bongkahan kayu yang diproses secara kimiawi, yang dipecah menjadi bagian-bagian yang besarnya hanya satu per ratusan mikron, alias ukuran mikroskopik. Nanofiber yang terbentuk kemudian diolah menjadi plastik. Hasilnya adalah bahan baru yang lima kali lebih kuat dari baja, namun beratnya hanya seperlima baja. Lima kali lebih kuat tapi lima kali lebih ringan, sungguh hasil yang manis bukan?

Manis memang, tapi biaya pembuatannya saat ini tidak manis. Biaya produksi selulosa nanofiber ini mencapai 120.841 Rupiah/kg, lumayan tinggi dibanding besi atau baja yang hanya 25.894 Rupiah/kg. Di lain sisi, sekelompok peneliti lain sedang berusaha menurunkan harga pembuatan carbon fiber yang sekarang sangat mahal agar bisa menjadi hanya 138.104 Rupiah/kg pada tahun 2025. Jadi, masih lama sebelum bisa diaplikasikan secara massal.

Hiroyuki Yano sendiri punya target supaya biaya produksi selulosa nanofiber ini bisa dipangkas hingga separuhnya pada tahun 2030, sehingga jadi alternatif yang pantas selain material pilihan saat ini macam carbon fiber dan aluminium. Plus, selama kita semua rajin merawat lingkungan dan menanam pohon, sumber kayu tidak akan pernah sulit untuk ditemukan. Dengan seabrek jenis kayu berkualitas di Indonesia, bukan tak mungkin negara kita bakal menghasilkan kualitas selulosa nanofiber yang bagus kala diteliti. Apa opinimu? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: