Driving Impression Mesin SKYACTIV-X Mazda di Jepang : Mesin Bensin Terbaik?

Driving Impression Mesin SKYACTIV-X Mazda di Jepang : Mesin Bensin Terbaik?
0  komentar

Fukuoka, AutonetMagz – Pada hari Minggu, tepatnya tanggal 27 Mei 2018, PT. Eurokars Motor Indonesia mengundang AutonetMagz untuk menghadiri Technology Forum 2018 Asia Pacific di Sirkuit Mine, Fukuoka, Jepang. Di sana, kami akan mempelajari banyak hal tentang Mazda untuk dibagikan kepada khalayak. Menariknya, kami juga berkesempatan untuk mencoba teknologi terbaru dari Mazda yang menggemparkan dunia teknologi mesin pembakaran dalam, yaitu SKYACTIV-X.

Setelah dibuka dengan perkenalan dan briefing soal keselamatan, kami mendapat kesempatan untuk mengendarai sebuah Mazda 3 2018 bertransmisi manual sebelum mengendarai prototipe Mazda 3 yang menggunakan mesin SKYACTIV-X, agar nantinya kita bisa mudah membaca dan mengetahui pengembangan apa saja yang dibuat oleh Mazda. Simpelnya sih, Mazda 3 2018-nya itu ibarat hidangan pembuka dulu sebelum masuk ke prototipe bermesin SKYACTIV-X sebagai menu utama.

Sekedar info saja, SKYACTIV-X banyak disebut sebagai sebuah mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine – ICE) yang sempurna atau ideal, karena SKYACTIV-X menggunakan 2 kombinasi pembakaran, yakni proses pembakaran alias ignition bahan bakar dengan busi seperti di mesin bensin, lalu digabung dengan pembakaran bahan bakar menggunakan kompresi, seperti di mesin diesel.

Dengan kombinasi 2 metode ini, mesin SKYACTIV-X dapat menggunakan bahan bakar yang beroktan reguler (pengujian ini menggunakan BBM RON 91) dengan kompresi mesin yang mencapai 1:16. Itu merupakan kompresi yang besar, mirip seperti mesin diesel dan diklaim menghasilkan efisiensi hingga 20% lebih baik dibandingkan mesin SKYACTIV-G saat ini, dengan bonus performa yang lebih besar. Intinya begini : Mesin 2.000 cc dengan tenaga 2.500 cc, tapi efisiensi bahan bakar seperti mesin 1.500cc. Kebayang nggak? Ini mimpi atau bukan sih?

Ternyata tidak juga, karena kondisi ini bisa dirahih berkat penggunaan campuran udara dan bahan bakar alias Air-Fuel Ratio (AFR) yang tinggi (mencapa 1:29,4) di mana mesin normal membutuhkan perbandingan stoikiometri 1 : 14,7 antara bensin dengan udara untuk menciptakan pembakaran yang dapat menghasilkan tenaga bagi mobil.

Untuk menghasilkan campuran udara dengan persentase bahan bakar lebih minim, Mazda menggunakan supercharger kecil agar bahan bakar bisa dimampatkan seoptimal mungkin, lalu dihisap ke ruang bakar dan dinyalakan menggunakan busi untuk menghasilkan tenaga. Ternyata dengan metode ini, keunggulan dari kedua tipe mesin (mesin bensin dan diesel) dapat digabungkan. Mesin ini bisa memiliki angka torsi besar, dengan rentang torsi panjang (jadi nafasnya panjang), angka tenaga yang tinggi, dan efisiensi (konsumsi bahan bakar) yang irit. Semua tercapai dalam satu paket.

Nah, itu sedikit teori mengenai mesin SKYACTIV-X, tapi apa teknologi itu bisa membuktikan diri di kondisi sesungguhnya? Makanya, mesin ini harus di-test drive untuk menjawab rasa penasaran tersebut, karena setelah melakukan 2 setengah putaran di Sirkuit Mine menggunakan Mazda 3 generasi sekarang untuk membaca karakter dan mendapatkan rasa dari mobilnya sembari menghafalkan sirkuit, kami mencoba Mazda 3 berwarna hitam dengan mesin SKYACTIV-X. Oh ya, prototipe bermesin SKYACTIV-X ini juga memakai SKYACTIV-Chassis terbaru, tapi yang ini akan kami bahas secara terpisah.

Di sesi pertama, kami mendapatkan unit tes Mazda 3 transmisi manual. Kondisi dashboard unit tes sengaja ditutup, ventilasi AC kanan-kiri pun sengaja dimatikan sehingga lubang AC hanya di tengah, itu pun hanya menggunakan pipa. Center console tempat tuas transmisi juga masih ditutup, dan tidak lupa ada tombol emergency stop di tengah dashboard jika ada kondisi darurat. Ya namanya juga prototipe yang belum final, beberapa bagian pasti masih belum boleh diungkap dong.

Ketika mesin dinyalakan, suara mesin dan vibrasi terasa halus. Unit tes kami merupakan Mazda 3 dengan setir di sebelah kiri, jadi memang agak kagok di awal namun lama-lama jadi terbiasa juga. Sensasi pertama yang kami rasakan begitu mobil berakselerasi setelah masuk gigi satu adalah percepatan yang sangat sigap untuk mobil 2.000 cc, apalagi dibandingkan dengan SKYACTIV-G di Mazda 3 biasa yang kami coba sebelumnya. Pindah dari gigi 1 ke 2, aliran tenaga terasa instan, namun yang impresif adalah ketika kami coba berakselerasi dari gigi 3 ke 4, limpahan tenaga masih terasa, ditandai dengan terdorongnya tubuh kami ke jok. Jelas, rasa performa ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Mazda 3 reguler yang menggunakan SKYACTIV-G.

Di samping setir, ada tampilan info dari sebuah tablet PC yang menunjukkan fase pembakaran yang sedang berlangsung ketika kita mengemudi. Fase 1 menunjukkan bahwa mesin menggunakan fase menggunakan busi saja, mirip mesin bensin biasa (spark ignition), tapi saat masuk fase 2, tampilan menunjukkan kombinasi pembakaran antara busi dan kompresi tinggi, di mana Mazda menyebutnya sebagai Spark Charged Compression Ignition (SPCCI). Memasuki fase 3, ini  menandakan fase SCCI yang paling hemat bahan bakar.

Ketika kami mencoba di rute yang disediakan, mobil kebanyakan aktif di fase 1 dan 2. Mesin kebanyakan masuk di fase 1 jika kami sedang berakselerasi dengan cepat (Injak gas dalam-dalam atau kickdown), lalu masuk fase 2 di dalam kondisi pengendaraan normal sehari-hari dan menyalip dengan halus (Menginjak gas tidak mendadak, mengangkatnya juga dengan halus) dan jarang masuk di fase 3. Alasan teknisnya adalah, fase 3 hanya menyala ketika mobil sedang cruising atau menjelajah dengan kecepatan konstan dan beban mesin yang rendah. Contohnya saat sedang jalan di tol dengan kecepatan konstan 100 km/jam, harusnya kita bisa masuk ke fase 3.

Berhubung sirkuit Mine cenderung berkelok-kelok dan tidak memiliki lintasan lurus yang panjang, fase 3 mesin ini jarang terkespos oleh kami dan layar informasi di tablet PC. Namun kami pikir fase paling optimal ini akan tercapai ketika kita sedang mengemudi di jalan tol dengan kecepatan konstan dan waktu yang lama, katakanlah sedang jalan di Cipali pas mudik atau sedang di Jagorawi.

Di sesi kedua kami mencoba Mazda 3 dengan transmisi otomatis dan mesin SKYACTIV-X. Yang kami suka, respon mesin baru ini masih sama baiknya dengan mesin biasa. Di satu sesi, kami sempat iseng mencoba menggeber mobil ini. Hasilnya, di lintasan Sirkuit Mine, kecepatan 140 km/jam dengan mudah di jalur lurus. Menarik, soalnya saat pakai mesin SKYACTIV-G, kecepatan yang bisa diraih cenderung di bawah itu.

Namun kembali lagi, karena mobil yang kami coba masih berstatus prototipe, suara knocking masih terdengar cukup jelas di saat-saat kami memindahkan posisi transmisi, terutama di posisi-posisi gigi rendah. Suara knocking ini menandakan transisi dari mode SPCCI ke mode SI atau mode mesin bensin biasa. Tentu saja kami menanyakan tentang hal ini ke insinyur Mazda. Hasilnya, mereka menjanjikan bahwa suara tersebut akan segera mereka hilangkan atau diminimalkan ketika masuk di dalam model mass-production di tahun 2019 nanti, karena bagi kami, jujur saja suara knocking tersebut cukup menggangu.

Jadi kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil tes kami terhadap teknologi mesin SKYACTIV-X terbaru ini adalah : Mazda cukup percaya diri dengan terobosan teknologi baru ini, dikarenakan mesin ini memang menawarkan performa keseluruhan yang lebih baik, kesenangan berkendara yang lebiih baik pula berkat meratanya rentang torsi mesin, ditambah dengan efisiensi mesin yang baik. Sejujurnya, Mazda belum memberikan besarnya perkembangan di konsumsi bensin dengan angka perbandingan km per liter, tapi mereka sudah menyatakan bahwa efisiensi mesinnya bisa sekitar 20% lebih tinggi.

Transisi dari tiap fase pembakaran juga tidak terasa. Kami tadinya berpikir bahwa mesin akan bergetar hebat atau mengeluarkan gejala yang aneh ketika beroperasi, tapi ternyata tidak. Mesin SKYACTIV-X ini berfungsi normal seperti halnya mesin biasa. Satu kelemahan yang kami temukan hanya pada suara knocking yang masih lumayan mengganggu di prototipe yang kami coba, jadi mari berharap para engineer Mazda dapat menyempurnakan mesin ini nanti di waktu peluncuran resminya di 2019, sehingga sebuah terobosan teknologi terbaru dari pabrikan yang masih percaya dengan ICE dapat kembali kita nikmati ke depannya. Apa yang kamu pikirkan? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: