Beredar Rencana Merger Grab & Gojek, Mungkinkah?

by  in Berita&Nasional
Beredar Rencana Merger Grab & Gojek, Mungkinkah?
0  komentar

AutonetMagz.com – Dalam tempo 5 tahun terakhir, pertumbuhan layanan ride hailing atau lebih dikenal dengan transportasi berbasis online sendiri sangatlah pesat. Dan kalau kita bicara mengenai layanan serupa, maka nama Grab dan Gojek adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Memang sempat ada layanan Uber, namun sayangnya layanan tersebut sudah gugur di tanah air. Sedangkan layanan serupa yang berusia lebih muda masih belum bisa menandingi duo G tersebut.

Nah, sebuah informasi menarik muncul baru – baru ini, dimana ada rumor keduanya berkemungkinan merger. What? Yap, kami sendiri cukup terkejut dengan informasi yang kami kutip via Tech in Asiatersebut. Sumber menyebutkan bahwa ada kemungkina bagi Grab dan Gojek untuk berdiskusi perkara merger, apalagi pasca Nadiem Makarim meninggalkan pos penting di Gojek beberapa bulan lalu untuk mengabdi pada kabinet kerja Presiden Joko Widodo. Sumber juga menyebutkan bahwa merger adalah sebuah langkah yang masuk akal pasca persaingan sengit diantara keduanya yang sudah membakar banyak uang selama ini.

Sumber juga menyatakan bahwa Gojek ingin memiliki saham 50% dari Grab di Indonesia, sedangkan Grab sendiri ingin memiliki kontrol atas operasional Gojek di kawasan Asia Tenggara. Walaupun semuanya seolah menjanjikan, namun kenyataannya merger diantara keduanya dinilai masih sangat jauh dari realisasi. Sumber mengkonfirmasi pada pihak Gojek, dan mendapatkan informasi bahwa tidak ada rencana apapun mengenai merger dengan Grab. Gojek menyatakan bahwa pemberitaan oleh media – media tidak akurat. Sedangkan Grab sendiri menolak untuk berkomentar mengenai pemberitaan ini.

Sebenarnya, jika kita perhatikan di sisi konsumen, persaingan antara kedua penyedia layanan daring ini memberikan banyak keuntungan berupa promo dan potongan. Namun, memang secara bisnis, persaingan keduanya membutuhkan banyak biaya dan modal, dan belum tentu menghasilkan keuntungan. Jikalau keduanya bergabung, maka bisa jadi nantinya layanan ojek atau taksi online akan dikuasai oleh satu pihak saja, dan tidak ada persaingan yang sepadan. Di sisi bisnis, keduanya bisa mempercepat langkah untuk menghasilkan profit, namun bisa jadi kita akan semakin jarang menemukan adanya potongan ataupun promo seperti yang sering kita dapatkan saat ini.

Nah, kalau menurut kalian, apa yang selayaknya dilakukan keduanya? Apakah berjalan sendiri – sendiri, atau lebih baik bergabung? Yuk sampaikan di kolom komentar di bawah ini.

Read Prev:
Read Next: