Alasan Mengapa Pabrik Mobil Di Australia Gulung Tikar

by  in Berita&Ford&Holden
Alasan Mengapa Pabrik Mobil Di Australia Gulung Tikar
0  komentar

AutonetMagz.com – Mungkin beberapa dari kalian sempat bertanya – tanya, apakah ada yang salah dengan pasar Australia sehingga ada beberapa pabrikan mobil yang menutup fasilitas produksinya di negara tetangga kita tersebut. Jelas dengan tutupnya pabrik Ford, Toyota, dan yang akan disusul oleh Holden pula, memberikan sebuah tanda tanya besar mengenai kondisi pasar otomotif di Negeri Kangguru ini terlebih ketiganya punya sejarah yang panjang di pasar Australia.

Ya, Ford sendiri telah menjadi pabrikan paling tua di Australia yang sudah beroperasi memproduksi mobil di Australia selama 91 tahun sejak tahun 1925 hingga tahun 2016 lalu. Sedangkan General Motors melalui Holden sudah memproduksi mobil sejak tahun 1936, sedangkan Toyota juga sudah menandai Australia sebagai basis produksi sejak tahun 1963. Tetapi ketiganya bernasib sama, dimana Ford harus menutup pabriknya di Broadmeadows dan Geelong pada bulan oktober 2016 lalu, Toyota menutup pabrik di Altona minggu ini dan disusul Holden yang menutup pabrik di Elizabeth pada penghujung bulan ini.

Padahal Toyota sendiri telah menjadi pabrikan yang besar di Australia, yang juga menjadi eksportir terbesar di negara tersebut. Toyota mengekspor lebih banyak mobil dalam 16 tahun terakhir dibandingkan Holden dalam 63 tahun terakhir. Tentunya tak ada yang salah dengan capaian tersebut, bahkan pabrik Toyota di Australia adalah pabrik pertama pabrikan ini yang memproduksi mobil diluar Jepang kala itu. Dan besarnya pabrikan otomotif di Australia nyatanya mampu menyerap 50.000 tenaga kerja. Namun pajak berkata lain, bahkan pabrikan otomotif di Australia berkata mereka harus menginvestasikan tiga dollar untuk satu dollar pajak yang mereka bayarkan.

Selain itu, persaingan di pasar Otomotif Australia bisa dikatakan cukup ketat. Menjadi negara dengan kenaikan harga mobil yang tak terlalu signifikan menjadi kerugian untuk para pabrikan yang memproduksi mobil secara lokal di Australia. Karena upah pekerja di Australia lebih tinggi dibandingkan di Thailand, China, ataupun Indonesia. Mobil produksi luar pun semakin mudah bersaing dengan mobil produksi lokal berkat tarif impor yang rendah, atau bahkan tanpa tarif import. Dan dengan 64 merk yang bersaing di pasar Australia, kelangsungan hidup dari merk – merk yang mengandalkan produksi lokal di Australia pun sudah jelas nasibnya.

Arus mobil impor dengan harga yang bersaing membuat para pembeli mobil di Australia menjadi punya banyak pilihan. Dan dengan banyaknya pilihan, maka pendapatan dari pabrikan mobil macam Ford, Toyota, dan Holden pun berkurang. Endingnya sudah jelas, tak ada pabrikan yang bisa bertahan dengan angka penjualan yang minim. Free Trade Agreement antara Australia dan Thailand pun turut berpengaruh dalam hal ini, belum lagi gempuran merk asal China yang kita tahu memiliki harga yang menarik. Sejak persetujuan itu sendiri, 2 juta kendaraan sudah masuk ke Australia dari negara eksportir, dan sayangnya justru Australia hanya mengekspor mobil ke negara tersebut dalam jumlah yang sangat minim, 100 unit saja.

Mungkin bisa dikatakan bahwa Australia menjadi pasar yang empuk untuk pabrikan otomotif dunia, namun bukan tempat yang memberikan perlindungan bagi para pabrikan yang berproduksi lokal disana. Dan kini Thailand menjadi penyumbang kendaraan nomor dua terbesar setelah Jepang di Australia. Terakhir, pabrikan – pabrikan yang kami sebut di awal tersebut terkenal dengan sedan yang buas, seperti Holden dengan Commodore V8, Toyota yang memiliki Toyota Aurion maupun Ford dengan Ford Falcon yang kesemuanya dijual di Australia. Namun pergeseran selera yang berbicara, pasar SUV kini memakan pasar Sedan yang sebelumnya bisa dikatakan favorit di Australia.

Jadi, bukan berarti jika sebuah pabrikan dengan nilai historis yang panjang seperti Ford, Holden dan Toyota di Australia pasti akan selalu menghadapi jalan yang mulus. Peran pemerintah dan juga kecermatan melihat pesaing dan regulasi tetaplah diperlukan untuk menghadapi kondisi pasar yang tak pasti di kemudia hari. Bagaimana jika menurut kalian? Yuk sampaikan pendapat kalian kawan.

Read Prev:
Read Next: