Teknologi Andalan Mitsubishi : Mana yang Pas Bagi Indonesia?

Teknologi Andalan Mitsubishi : Mana yang Pas Bagi Indonesia?
0  komentar

Okazaki, AutonetMagz – Seiring dengan kunjungan AutonetMagz ke Tokyo Motor Show 2017, PT MMKSI selaku APM mobil penumpang Mitsubishi di Indonesia mengundang kami untuk mencoba teknologi dan produk terbaru mereka di pusat R&D mereka di Okazaki, dekat Nagoya, sekitar 350 km jauhnya dari Tokyo. Teknologi pertama yang kami coba adalah MI Assistant (Mitsubishi Intelligent Assistance).

Biarpun ada nama MI-nya, ini tidak ada hubungannya dengan produsen smartphone dari China. MI Assistant adalah sebuah sistem pengenalan suara yang akan membantu kita dalam berinteraksi dengan kendaraan kita, singkatnya seperti Apple Siri tapi untuk mobil. Sistem yang kami coba cukup responsif dengan Inggris ala kadarnya kami, contohnya ketika di dalam mobil kami bilang bahwa “I’m hungry” sistem MI langsung menjawab bahwa ada 5 restoran Jepang yang enak di sekitar lokasi kita.

Contoh lainnya, ketika kita bilang “I’m cold“, sistem akan secara otomatis menawarkan untuk menurunkan suhu AC dan mengecilkan kipas untuk membuat kita lebih nyaman. Canggih betul kan? Sayangnya sistem masih dalam tahap uji coba, sehingga hanya baru dapat merespon permintaan atau pernyataan dalam bahasa Inggris saja, mungkin ke depannya akan dibuatkan sistem dengan bahasa lokal masing-masing region dimana mobil itu dijual. Jika sudah jadi kita bisa bilang ke mobil kita “Lapar nih, pengen makan Pecel”, maka sistem akan merespon “Mau Pecel apa? pecel ayam atau pecel lele? di sekitar sini ada Pecel Ayam yang enak loh”.

Sistem kedua yang dipresentasikan adalah Driver Monitoring System yang akan membaca raut muka kita sewaktu mengemudi, dan akan mendeteksi seraya memberikan peringatan ketika kita tidak memperhatikan jalan, mengantuk, atau teralihkan. Sistem ini akan memperingati kita dengan bunyi, getaran, bahkan menghentikan kendaraan ke lokasi yang aman jika memang terjadi kondisi yang tidak diinginkan. Saat dikombinasikan dengan MI Assistant, maka sistem dapat menegur kita dan menyarankan kita ke warung terdekat untuk ngopi sebentar jika kita dinilai sedang mengantuk sambil mengemudi.

Di sesi berikutnya, kami dapat kesempatan untuk mencoba AYC (Active Yaw Control) dari Mitsubishi yang dilengkapi pada model Mitsubishi Outlander PHEV. Mungkin orang banyak yang menganggap AYC itu mirip dengan stability control. Tidak salah sih, namun AYC lebih diarahkan untuk kontrol maksimal dan meningkatan kecepatan menikung sambil menjaga kestabilan mobil. Hal lainnya, prinsip AYC bekerja dengan cara mengatur besarnya torsi pada tiap ban untuk memaksimalkan kecepatan dan handling, sedangkan stability cotnrol menggunakan sistem EBD untuk mengurangi kecepatan putaran roda.

Bagaimana cara membuktikannya? Ternyata amat gampang, kami dapat kesempatan untuk duduk di bangku depan sebuah Outlander PHEV yang dikemudikan oleh seorang instruktur dan mencoba melewati kun-kun seperti pada rute slalom dengan kecepatan 40 km/jam. Jika tidak menggunakan AYC (AYC off) badan kami terlempar sampai tepi door trim, namun dengan rute yang sama dan AYC menyala, badan kami hanya bergerak menyamping sedikit di kursi masing-masing.

Di sesi mengemudi bersama sang legenda Dakar Rally, Hiroshi Masuoka, beliau mengemudikan Outlander PHEV di sebuah lapangan berbentuk lingkaran yang sudah disemprot dengan air terus menerus agar licin. Terasa mobil cenderung drifting alias membuang pantatnya ke sisi luarketika AYC dimatikan, namun langsung berubah menjadi mudah dikontrol dan dapat melakukan satu putaran penuh dengan kecepatan lebih tinggi ketika AYC dinyalakan. Oh ya, teknologi AYC sudah lama disematkan di mobil legendaris Mitsubishi, Lancer Evolution.

Teknologi berikutnya adalah PHEV itu sendiri. Menggunakan sebuah Outlander PHEV facelift, kami memutar sebuah rute yang ditetapkan untuk mengetahui impresi singkat mengenai teknologi PHEV. Mengejutkannya, kami suka dengan teknologi PHEV, karena mobil melaju dengan halus sekali nyaris tanpa suara ketika berakselerasi halus, dan tetap memprioritaskan tenaga elektrik ketika berslalom dan melewati jalur-jalur yang dibuat mirip jalanan kota. Namun ketika harus kick-down untuk berakselerasi, kita dapat mendengar deruman mesin bensin yang menyala sebagai generator untuk menambah tenaga motor listrik untuk berakselerasi. Jujur suara mesinnya tidak halus-halus banget, jadi kami tetap memilih menjalankan mobil secara halus agar motor listrik yang tetap bekerja.

Teknologi PHEV dari Mitsubishi pada Outlander PHEV menggunakan 2 motor di depan dan belakang dengan sebuah mesin bensin di depan dapat bekerja dalam 3 Mode, yakni : Mode EV dimana motor listrik akan bekerja penuh dengan tenaga dari baterai, Mode Serial Hybrid dimana mesin akan bekerja sebagai generator untuk menambah /menyuplai tenaga listrik ke motor listrik, dan Mode Parallel Hybrid yang akan menggunakan mesin sebagai tenaga utama dan didukung oleh motor listrik jika dibutuhkan. Mode terakhir ini hanya digunakan jika baterai sudah dalam kondisi sakratul maut alias mau habis.

Dalam mode full elektrik, Mitsubishi Outlander PHEV dapat menempuh jarak sekitar 54 Km dan emisi serendah 41 gram/Km dengan kecepatan maksimum sampai 120 km/jam, di mana itu sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi dari teknologi yang saya sebutkan di atas, mana yang cocok untuk pasar Indonesia? Jujur kami lebih ingin melihat teknologi AYC dan PHEV untuk segera hadir di Indonesia, karena AYC sendiri menawarkan keasikan mengemudi yang lain dari teknologi lainnya, dan PHEV menawarkan efisiensi dan kehalusan yang hanya bisa didapatkan dari mobil-mobil EV. Menurutmu, yang mana yang harus dibawa?

Read Prev:
Read Next: