Studi : Taksol Berkontribusi Tambah Polusi Udara di Eropa

by  in Mobil Baru
Studi : Taksol Berkontribusi Tambah Polusi Udara di Eropa
0  komentar

AutonetMagz.com – Tenang – tenang, jika ada diantara kalian yang berprofesi sebagai mitra taksi online, kami tidak berusaha untuk menyudutkan kalian kok. Jadi, ada sebuah studi yang dilakukan di Eropa yang mempelajari tentang dampak yang dihasilkan oleh taksi online alias ride hailing di kawasan tersebut terhadap lingkungan mereka. Dan hasilnya, ternyata layanan ride hailing berkontribusi menambah polusi udara di beberapa kota di Eropa. Mari kita bahas lebih lanjut.

Studi ini dilakukan oleh Transport & Environment’s (T&E), sebuah organisasi berusia 30 tahun yang khusus bergerak di bidang mobilitas yang aman untuk kesehatan, iklim, dan lingkungan manusia. Nah, sebelum kita beranjak ke hasil studi, kita harus membahas dahulu sebuah tujuan mulia munculnya layanan ride sharing / ride hailing atau yang di negara kita dikenal dengan nama taksi online (taksol). Salah satu tujuan mulianya adalah untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, sehingga jumlah kendaraan yang berlalu lalang di jalan pun berkurang dan polusi bisa sedikit ditekan.

Oke, itu adalah kondisi idealnya, dimana kita tentu berharap yang terbaik dengan solusi tersebut. Tapi, hasil studi Transport & Environment’s malah berbicara lain. Transport & Environment’s melakukan studi di beberapa kota besar di Eropa, seperti Paris, London, dan juga Brussels. Hasilnya, layanan ride sharing seperti Uber dan Lyft disebut berkontribusi memperburuk polusi di kota – kota tersebut. Sebagai contoh, di London T&E menyebutkan bahwa setelah ada layanan ride sharing, maka permintaan akan layanan semacam itu naik sebesar 25%.

Di penghujung tahun 2018 saja, Uber memiliki 45.000 driver di kota London saja, yang mana sudah separuh dari driver taksol di Kota tersebut. Hasilnya, ada peningkatan karbon dioksida sebanyak 23% di London dari 2012 hingga 2018. Layanan ride sharing ini juga menyumbang 12% dari traffic di London, walaupun kenyataannya yang terdaftar hanya 4% saja. Nah, studi juga menunjukkan bahwa daktanya driver taksol disana cenderung menggunakan mesin diesel untuk kendaraan mereka. Nah, T&E memberikan solusi berupa peralihan unit kendaraan taksol ke mobil ramah lingkungan.

Tentunya kondisi ini pasti berbeda dengan beberapa kota besar di Indonesia. Kalau menurut kalian bagaimana? Apakah kalian juga merasa Indonesia akan mengalami kondisi yang sama?

Hasil Studi : KlikDisini

Read Prev:
Read Next: