Penggunaan Taksi Online, Apakah Solusi Transportasi Urban?

by  in Daihatsu&Datsun&Honda
Penggunaan Taksi Online, Apakah Solusi Transportasi Urban?
0  komentar

AutonetMagz.com – Tidak bisa dipungkiri kehadiran taksi online di tengah masyarakat lambat laun menjadi sebuah kebutuhan yang melekat di kehidupan sehari – hari. Entah terasa atau tidak, untuk aktivitas  sehari – hari maupun dadakan kehadiran mereka sangat membantu. Dulu kala angkot dan ojek biasa dinilai sudah cukup, sekarang tren sudah beralih ke taksi online yang berbasis smartphone.

Hanya dengan buka aplikasi, pilih tujuan dan penjemputan di smartphone, kita sudah dapat memanggil kendaraan beserta supirnya plus mengetahui biaya yang akan dibayar, bukan asal tembak seperti ojek pangkalan. Kami akan membahas perbandingan biaya yang dapat dikeluarkan apabila taksi online dengan mobil pribadi diadu, meski begitu, kami tidak membahas ojek online vs motor pribadi, mungkin di lain kesempatan. Kira – kira siapa yang menang ya?

Ilustrasi Kasus

Kita ambil ilustrasi kasus, sebut saja Pak Kopling. Pak Kopling tinggal di Bekasi, kita asumsikan perjalanan menuju kantor di tengah kota sekitar 20 km, sehingga dalam 1 hari Pak Kopling dapat menempuh 40 km (Pulang – Pergi).

Biaya taksi online

Sementara apabila menggunakan taksi online, biaya perjalanan Pak Kopling pada jam tidak sibuk adalah 80.000 Rupiah, dan anggap kita tambah 20% untuk jam sibuk menjadi 100.000 Rupiah dengan pembulatan. Kita abaikan biaya tol karena kedua moda transportasi ini sama – sama menggunakan kocek pribadi untuk tol.

Biaya mobil pribadi

Anggaplah mobil Pak Untung adalah sebuah LCGC dan kita ambil patokan rute dalam kota dapat diraih dengan angka 1:14 dan dengan BBM sekelas Pertalite yang memiliki harga 7.800 Rupiah. Maka dari itu dalam sehari Pak Kopling membutuhkan sekitar hampir 3 liter dan berkisar antara 24.000 Rupiah per hari. Oke sepintas memang tampak lebih murah, namun kita belum memperhitungkan running cost dari mobil tersebut.

Ya, mobil butuh perawatan berkala, kadangkala mereka pun mampu membeli sebuah mobil namun tidak memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan mobilnya. Tidak jarang keteledoran servis dan pemahaman mobil yang buruk menyebabkan sejumlah kecelakaan di negara kita. Secara garis besar perawatan mobil agar kondisi selalu prima itu tidak mudah lho, selain harus merogoh kocek secara berkala, jumlah yang dikeluarkan kadang tidak sedikit.

Setidaknya Anda harus prepare uang untuk: 1. Servis rutin; 2. Accident (dalam hal ini mungkin biaya claim OR apabila Anda memiliki asuransi); 3. Servis besar (slow moving parts ec. kopling, rem) dan ban; 4. Perawatan sekunder (ec: cuci mobil, car care); 5. Beban tambahan (ec: pajak, parkir, tol). Mari kita ambil contoh dari rata – rata biaya servis dibagi dalam rentang waktu dan kilometer tertentu.

Perhitungan komparasi per tahun

Kita ambil waktu 1 tahun, anggaplah hari kerja dalam 1 tahun ada 300, maka dari itu Pak Kopling dalam 1 tahun menempuh 12 ribu km, sementara jika kita asumsikan biaya perawatan LCGC dalam rentang 20 ribu km kita akan mendapatkan nota biaya sekitar 1,3 juta Rupiah (anggap mobil tidak dalam keadaan baru yang masih mendapatkan gratis servis).

Apabila dikalkulasi, jika Pak Kopling menggunakan taksi online, Pak Kopling dalam 1 tahun harus mengeluarkan uang sebesar 54 juta Rupiah (180.000 Rupiah dikali 300 hari) diluar biaya tol. Sementara dengan menggunakan mobil ia akan menggunakan uang BBM 7,2 juta Rupiah + servis 800.000 Rupiah diluar biaya tol. Hmm.. kok jomplang ya? Kira – kira apa yang belum dihitung?

Ya, biaya dari harga mobil itu sendiri, anggap harga LCGC 120 juta Rupiah (boleh Anda buat menjadi 200 juta Rupiah apabila menggunakan skema kredit). Sementara sebagai kaum urban kita anggap pemakaian dalam jangka 3-5 tahun lalu dijual. Maka bisa dikatakan biaya mobil dalam setahun berkisar 24-40 juta Rupiah. Mari kita ambil tolak ukur pemakaian 4 tahun sehingga dapat angka 30 juta Rupiah.

Sampai saat ini biaya 1 tahun taksi online berada diangka 54 juta Rupiah vs biaya mobil pribadi 38 juta Rupiah. Hmm, apalagi ya yang belum dihitung? Mari kita iseng mengkalkulasi slow moving parts, kopling yang berusia >100 ribu km, rem sekitar 60 ribu km dan ban sekitar 40 ribu km. Harga masing – masing sekitar 1,2 juta Rupiah untuk kopling, 500.000 Rupiah untuk set rem dan 500.000 Rupiah per buah ban.

Dengan asumsi kopling bertahan sampai 120 ribu km dan pembagian untuk kopling rem dan ban akan disesuaikan dengan jarak 24 ribu km, maka secara rincian kasar 12 ribu km kopling akan memakan biaya 120.000 Rupiah, rem 100.000 Rupiah, sementara 4 ban 700.000 Rupiah. Oke sampai saat ini 54 vs 39 juta Rupiah. Apalagi ya?

Mari abaikan perawatan sekunder dengan harapan Pak Kopling rajin mencuci mobil secara mandiri. Namun untuk biaya tambahan seperti parkir jangan sampai terlupa, anggap saja biaya sewa parkir kantor per bulan 200.000 Rupiah, kalikan dengan 12 bulan, maka akan didapatkan 2,4 juta Rupiah. Oh iya hampir lupa, pajak kendaraan pun harus dibayarkan setiap tahun dengan kisaran 1,5 juta Rupiah untuk LCGC. Yak kami rasa cukup, berarti biaya yang Pak Kopling keluarkan kurang lebih 54 vs 43 juta Rupiah.

Sudah selesai?

Apakah kalkulasi kami tadi memberi jawaban? Boleh Anda berkesimpulan bahwa mobil pribadi lebih unggul. Tetapi jangan lupa bahwa stress dan macet saat berkendara sungguh melelahkan bagi pengemudi dan sulit dinilai dengan uang. Saran kami apabila tetap memilih kendaraan pribadi agar lebih ekonomis dan tidak capek adalah memiliki teman jalan, syukur – syukur bisa menggantikan peran Anda mengemudi. Plus, memiliki mobil pribadi berarti mempunyai sejumlah bagasi untuk menaruh keperluan lain Anda bukan?

Lanjut lagi perhitungan yang kami lakukan tadi berdasarkan asumsi pembelian mobil secara cash, apabila kredit biaya menjadi bertambah 20 juta Rupiah sehingga 54 vs 63 juta Rupiah. Nah, jadi lebih unggul taksi online kan?. Tetapi harus diingat kembali, kebanyakan masyarakat membeli sebuah brand agar value saat dijual tidak turun, mari kita tambahkan faktor tersebut, anggaplah mobil seharga 120 juta Rupiah memiliki depresiasi 25% (berbeda – beda antar merek dan jenis mobil) sehingga harga jual berkisar 90 juta Rupiah pada 4 tahun berikutnya. Kita bagikan 4 akan mendapat angka 22,5 juta Rupiah per tahun untuk dikurangi dengan perhitungan diatas.

Apabila disimpulkan berdasarkan variabel tersebut maka komparasi menjadi 54 vs 21 juta Rupiah (skema cash) dan 41 juta Rupiah (skema kredit). Menurut kami keduanya memang plus minus, jika menggunakan mobil kita sendiri akan stress saat macet dan mencari parkir, sementara itu jika menggunakan taksi online, terkadang waktu menunggu, fleksibilitas dan short trip yang sering menjadi suatu pemikiran tersendiri. Kembali lagi ke pribadi Anda masing – masing.

Trivia

Taksi online

Ilustrasi yang kami sebutkan diatas mengenai taksi online adalah versi termurah, lho maksudnya apa? Karena secara umum memang tarif jam sibuk meningkat 20% untuk rush hour namun kami melakukan eksperimen mandiri dan mendapatkan suatu hal seperti ini: 1. Biaya Bekasi-Slipi pada saat pukul 02:00 = 80.000 Rupiah, berlaku sebaliknya Slipi-Bekasi; 2. Biaya Bekasi-Slipi pada saat pukul 17:00 = 110.000 Rupiah; 3. Biaya Slipi-Bekasi pada saat pukul 17:00 = 270.000 Rupiah. Adapun sumber lain yang mengatakan tarif pada jam sibuk bisa berkisar antara 1-4 kali harga normal. Maka dari itu kami menyimpulkan developer taksi online memiliki banyak variabel untuk menentukan tarifnya sehingga perhitungan 54 juta Rupiah adalah perhitungan termurah. Jika mengikuti variabel, bisa saja sangat berlebih, apalagi kalau tarif promo sudah usai.

Supir pribadi

Kalau perhitungannya 54 vs 21 juta Rupiah apakah memakai supir pribadi masih lebih untung? Bisa jadi! Mari kita hitung dengan perhitungan gaji rata – rata supir di Indonesia sebesar 2,5 juta Rupiah. Kita kalikan dengan 12 dan kita akan mendapat angka 30 juta Rupiah. Mau lebih hemat? Saat Anda sedang bekerja, biarkan supir dan mobil Anda bekerja lagi sebagai taksi online.

Jika bukan LCGC?

Oke katakanlah kalian lebih memilih LMPV ataupun small hatchback, kira – kira beda berapa ya? Secara singkat, dengan menggunakan variabel yang sama serta angka konsumsi BBM dan pajak sampai harga jual kembali yang berbeda, kami mendapatkan angka 48 juta Rupiah (skema cash).

Kesimpulan

Ya, kira – kira seperti itulah dinamika taksi online vs mobil pribadi, mohon maaf sedari tadi kami tidak memberikan kalkulasi rinci karena memang hal seperti ini sangat banyak faktornya, mulai dari jenis mobil, cara berkendara, depresiasi performa mobil, hingga fluktuasi harga dan ketahanan dari masing – masing parts dan hal lainnya.

Semoga artikel ini dapat memberi pencerahan, jujur kami sendiri sebenarnya prefer memakai taksi online karena lebih less worry dan jika sangat terpaksa ada alternatif ojek online di aplikasi yang sama, namun alangkah lebih baik apabila tarifnya lebih murah. Tetapi kedepannya biaya taksi online sepertinya condong naik ya bukan turun? Saat ini pun publik dibuat terlena agar menjadi tergantung, tidak tahu deh apabila skema tarif berubah bagaimana situasinya.

Kembali ke kalian, 54 vs 21 juta Rupiah. Melihat selisih harga yang terpaut hingga puluhan juta sepertinya arus pembelian mobil baru tidak akan terbendung. Satu hal yang pasti apabila mobil Anda bukan LCGC pasti biaya lebih membengkak lagi bukan? Akhir kata, kami juga ingin tahu bagaimana pendapat kalian, siapa tahu ada hal yang terlewat dari kami, jangan lupa sampaikan di kolom komentar ya!

ps: Foto hanya ilustrasi belaka bersumber dari images.google.com

Read Prev:
Read Next: