Mobil Tidak Kuat Menanjak, Salah Siapa?

by  in Nasional&Safety Driving&Tips
Mobil Tidak Kuat Menanjak, Salah Siapa?
0  komentar

AutonetMagz.com – Pembangunan jalan tol Salatiga – Kartasura yang masih belum rampung mengharuskan para pengguna jalan untuk melewati jalur sementara yang berada di bagian lembah Kali Kenteng. Berita tentang tanjakan yang begitu curam ini menjadi viral belakangan karena dikatakan banyak mobil yang tidak kuat menanjak saat arus mudik kemarin.

Beredar kabar bahwa kemiringan mencapai 57 derajat adalah penyebabnya. Hal tersebut adalah mustahil mengingat 30 derajat saja sudah curam sekali. Kementerian PU sendiri telah mengklarifikasi bahwa kemiringan jalur tersebut adalah 5,7 derajat dengan perhitungan sudut arctan 0,1 derajat, darimana angka tersebut didapatkan? Hal yang disampaikan oleh twitter kementerian PU adalah elevasi yang bertambah sebanyak 10 meter saat jarak mendatar 100 meter, maka dari itu sudut yang didapat dari arctan/tangen-1 10/100 adalah 5,7 derajat.

Sementara itu berita ini menjadi viral lantaran video sebuah Daihatsu Ayla yang tidak kuat menanjak hingga dibantu dorong oleh petugas tol dan kepolisian. Sontak hal tersebut seolah memberikan asumsi bahwa mobil ber-cc kecil tidak akan mampu melewati tanjakan tersebut. Padahal menurut polisi setempat, dari 10.000 mobil yang melintas, hanya sekitar 10 mobil yang perlu dibantu. Banyak faktor memang soal kemampuan menanjak ini, bisa dari mobil maupun pengemudi, nyatanya di video lain beredar rekaman ketika Pak Polisi yang menggantikan untuk membawa mobil tersebut, Daihatsu Ayla tersebut kuat menanjak.

Lantas terbersit di pikiran kami, sebenarnya siapa sih yang paling bertanggung jawab soal kejadian di tanjakan ini?

Driver

Jika kita menilik dari segi driver, nyatanya kesigapan dalam melewati rintangan, pengetahuan tentang mobil yang sedang dibawa serta persiapan berkendara memegang peranan penting bagi driver.

Sebagai acuan, sudah merupakan hal dasar apabila ingin menghadapi tanjakan yang curam Anda perlu menambah ancang – ancang kecepatan, hal ini bertujuan agar mobil terasa lebih mudah melewati elevasi karena tenaga optimal yang dikeluarkannya. Lantas kejadian di jalur sementara lembah Kali Kenteng yang masih baru membuat pengemudi yang kurang berpengalaman dalam tanjakan tidak siap sehingga bisa dikatakan tenaga mobil tersebut tidak optimal saat berada di tengah tanjakan.

Sementara apabila pengemudi tidak mengetahui betul akan mobilnya, pada transmisi manual mobil akan berhenti. Lain halnya dengan pengemudi yang sigap menurunkan gigi sehingga tenaga kembali berada di rentang optimal. Pun dengan mobil matik, banyak sekali dari pengemudi yang hanya peduli dengan P, N, R dan D, sementara fitur tambahan yang membantu seperti overdrive off dan selektor transmisi yang lebih rendah jarang dimanfaatkan.

Selain itu kondisi mudik juga membawa suatu permasalahan tersendiri soal daya angkut kendaraan. Bisa jadi para kendaraan yang gagal tersebut adalah kendaraan yang sudah melewati batas muatan maksimal, lebih lagi kondisi seperti ini hanya terjadi 1 tahun sekali sehingga membuat driver tidak terbiasa dengan perubahan karakter kendaraan dan berakibat gagal dalam menerjang tanjakan.

Produsen Kendaraan

Sementara jika menilik produsen kendaraan, sejauh ini kami tidak pernah tahu mengenai informasi terpaan sudut maksimal yang bisa dilalui suatu kendaraan. Beberapa mobil SUV yang memang memiliki peruntukan offroad terkadang menyampaikan berapa derajat kemiringan maksimal serta kemiringan samping yang kami maksud.

Namun setidaknya kami menemukan suatu perhitungan mekanika dari cartech.com yang tampak kompleks meski berbasis rumus mekanika sederhana. Intinya adalah menghitung berapa derajat maksimal dari tanjakan untuk dilewati oleh mobil yang melaju konstan, tanpa berakselerasi dan dengan muatan normal sampai batas maksimal sesuai rekomendasi pabrik. Perhitungan ini berbasiskan gaya yang terjadi pada titik berat mobil yang dibandingkan dengan gaya yang terjadi pada penggerak mobil (Rear Wheel Drive, Front Wheel Drive, 4 Wheel Drive). Pada perhitungan ini hambatan angin dan akselerasi diabaikan sehingga kita akan dihadapkan pada hukum Newton I dimana terjadi gerak lurus beraturan.

Alhasil kami mendapatkan perhitungan bahwa mobil FWD dapat menerjang sudut maksimal sebesar 13,87 derajat, RWD sebesar 19,7, serta 4WD sebesar 38 derajat. Hasil ini terkait statement yang selama ini beredar bahwa mobil FWD tidak akan kuat menanjak. Mari kita luruskan, secara umum memang tumpuan berat mobil akan menumpu di roda belakang sehingga bisa dikatakan grip maksimal berada di roda belakang sementara grip pada roda depan berkurang. Hal ini lah yang menyebabkan mobil FWD akan kehilangan traksi dan selip sehingga tidak kuat menanjak.

Statement tersebut ada benarnya apabila telah melampaui sudut tersebut, namun pabrikan pasti telah merancang sedemikian rupa dan menyesuaikan dengan kontur jalan. Perilaku pengendara yang tidak memaksakan kapasitas angkut mobil lah yang harus lebih diperhatikan. Sementara itu berbicara tentang pabrikan mobil, erat kaitannya dengan pengembang yang membuat jalan raya.

Developer Jalan Raya

Ya, kami tahu kapasitas kami membahas ini terbatas, semua ada di peraturan perencanaan geometrik jalan raya, jika merujuk peraturan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen PU ini. Tanjakan atau dalam hal ini alinemen vertikal setiap jalan memang berbeda – beda mengikuti kontur tanah dibawahnya, beberapa kondisi memang dimungkinkan untuk menjadikan sebuah tanjakan curam atas dasar biaya pembangunan, ya, bukan hal mustahil memindahkan suatu bukit untuk mengisi lembah, namun berapa biaya yang harus dikeluarkan bukan?

Geometrik jalan raya memiliki perhitungan sendiri dengan basis kelandaian dan panjang kritis serta acuan standar yang digunakan adalah mobil truk, entah bagaimana spesifikasinya. Pada jalan kelas tertentu pun terutama pegunungan, terkadang tanjakan mustahil itu tetap ada dengan jarak yang singkat, namun kembali lagi, driver yang siap sangat dibutuhkan untuk tempat – tempat seperti itu.

Kembali ke kasus jalan tol Salatiga-Kartasura, lokasi pada lembah Kali Kenteng pun sebuah kondisi darurat dimana jembatan yang seharusnya menjadi solusi belum rampung sehingga jalanan curam tersebut terjadi. Sudut jalanan pun simpang siur, ada yang menyebutkan 7 derajat, 4 derajat, sementara kementrian PU menyebutkan 5,7 derajat. Kami pun penasaran dan mencari investigasi sendiri.

Setidaknya kami mendapatkan titik terendah berada pada altitude 471 m diatas permukaan laut, sementara titik ketinggian maksimal sebelum terjadi penurunan adalah 550 m, namun kami melakukan investigasi hanya on site di lokasi mobil tidak kuat menanjak sejauh kira – kira 200 meter dan didapatkan altitude sebesar 503 m. Jika kita asumsikan penghitungan ketinggian setiap 20 meter, didapatkan sudut terendah adalah 4,2 derajat sementara sudut tertinggi dalam 20 meter adalah 21 derajat.

Tentunya perhitungan kami tidaklah akurat karena pada bantuan Google Maps jalan alternatif itu belum ada, hanya berdasarkan kira – kira. Namun apabila benar hingga 21 derajat, berarti tidak serta merta dapat kita salahkan driver dan produsen mobil, developer jalan tol juga bisa jadi biang masalah.

Kesimpulan

Semoga artikel ini memberikan sebuah insight untuk senantiasa berbenah diri memahami kondisi mobil, siapkan fisik dan mental serta menyadari bahwa mengemudikan mobil bukan perkara 1 belah pihak saja. Semoga bermanfaat dan selamat kembali bekerja. Jika dirasa kami ada yang salah maupun terlewat, silahkan sampaikan di kolom komentar ya!

ps: Foto hanya ilustrasi belaka bersumber dari images.google.com dan news.detik.com

Read Prev:
Read Next: