Mitsubishi Berjuang Hadapi Penurunan Margin di ASEAN

Mitsubishi Berjuang Hadapi Penurunan Margin di ASEAN
0  komentar

AutonetMagz.com – Tahukah kalian bahwa pasar Asia Tenggara adalah pasar yang penting bagi merk Mitsubishi? Memang Mitsubishi adalah brand Jepang yang memasarkan produknya secara global. Di Eropa ada, di Amerika ada, pun begitu di Afrika dan Asia. Namun, region Asia Tenggara adalah kawasan terpenting dari Mitsubishi. Sama halnya dengan pentingnya pasar India untuk Suzuki dan pasar US untuk Honda. Namun, kabar terbaru menunjukkan bahwa Mitsubishi sedang berada di kondisi yang kurang menyenangkan. Mereka harus berjuan di tengah turunnya margin mereka di kawasan Asia Tenggara. Mari kita kupas lebih lengkap.

Pangsa Pasar Mitsubishi Turun

Mengutip informasi via Nikkei Asia, peforma Mitsubishi di pasar Asia Tenggara kini tengah dalam sorotan. Padahal, pasar Asia Tenggara telah menyumbangkan 77% dari total laba operasional Mitsubishi dalam 5 tahun fiskal terakhir. Tentu kalian paham kan betapa pentingnya pasar Asia tenggara. Mitsubishi sendiri memiliki marketshare sebesar 15% di pasar Filipina, lalu 10% di pasar Indonesia, dan 7% di pasar Thailand. Ketiga negara ini adalah ladang yang penting untuk kelangsungan bisnis Mitsubishi. Sayangnya, kini Mitsubishi tengah menghadapi penurunan margin operasional di Asia Tenggara, dan penurunannya cukup tajam. Sekilas kembali ke 2015, Mitsubishi mencetak rekor dengan memperoleh profit operasional dengan magin di angka 15,3%. Sayangnya, angka itu turun menjadi 11,5% di 2019 dan anjlok ke 2,9% di tahun lalu.

Profit operasional per kendaraan yang terjual juga anjlok cukup parah. Kalau di tahun 2015 angkanya mencapai 279 ribu Yen (sekitar 33 jutaan Rupiah), maka di tahun 2020 angkanya turun ke 49 ribu Yen (6,5 jutaan Rupiah) saja. Sebagai pembanding, Toyota Motor masih mampu mempertahankan angka profit operasional per kendaraan, malahan angkanya naik sekitar 20 ribu Yen (2,6 jutaan Rupiah) selama pandemi, kalau dibandingkan 5 tahun yang lalu. Lantas, apa yang menjadi penyebab penurunan margin ini? Jawabannya adalah pangsa pasar Mitsubishi yang melemah dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, di pasar Thailand, Mitsubishi masih mampu mencatatkan marketshare di angka 8,6% pada fiskal 2019 silam. Sayangnya, angka ini harus terkoreksi menjadi 6,7% pada tahun fiskal 2020 silam. Data ini mengacu pada analisis yang dilakukan oleh portal industri otomotif asal jepang, Marklines.

Mitsubishi Butuh Model Baru Secepatnya!

Kalau mau ditarik ke belakang lagi, lantas apa yang membuat pangsa pasar Mitsubishi menurun? Jawabannya sederhana, yaitu lambatnya mereka memperkenalkan produk generasi terbaru. Dalam 5 tahun terakhir, sudah ada beberapa mobil Mitsubishi yang harus disuntik mati di beberapa negara ASEAN. Sebut saja Mitsubishi Outlander Sport, dan Mitsubishi Mirage, serta Mitsubishi Delica. Tapi ketiganya memang bukan volume maker bagi Mitsubishi. Andalan Mitsubishi adalah duetMitsubishi Triton dan Mitsubishi Pajero Sport. Walaupun keduanya sudah mendapatkan facelift beberapa waktu lalu, namun pada kenyataanya keduanya sudah termasuk ‘tua’ secara usia. Isuzu dengan Isuzu D-Max menjadi ancaman terdekat dari Mitsubishi Triton dengan generasi terbarunya. Sedangkan Toyota dengan Toyota Fortuner tak hentinya mengancam pasar Mitsubishi Pajero Sport.

Nah, Mitsubishi sendiri nampaknya sadar dengan kondisi ini, dan akan menyiapkan ‘serangan balik’ di tahun depan. Pabrikan berlogo tiga berlian ini akan memperkenalkan setidaknya 5 model baru untuk pasar Asia tenggara mulai tahun fiskal 2022. Salah dua produk yang paling dinantikan adalah Mitsubishi Triton generasi terbaru, dan juga Mitsubishi Xpander versi terbaru. Mitsubishi kabarnya juga akan menghadirkan produk baru lain yang dirancang khusus untuk pasar Asia Tenggara, menggunakan sebuah platform naru yang akan digunakan oleh beberapa model di masa depan. Elektrifikasi juga akan menjadi strategi Mitsubishi di masa depan, dimana salah satu yang paling santer diberitakan adalah Mitsubishi Xpander Hybrid. Langkah ini harus dilakukan Mitsubishi untuk bersaing dengan brand Jepang lainnya, dan ancaman baru dari brand asal China yang mulai menggarap pasar Asia tenggara.

“Meminimalkan biaya EV adalah hal yang penting, dan itu akan kami lakukan dengan berbagi komponen bersama Nissan. Kami akan berkompetisi dengan pabrikan asal China dalam jangka menengah hingga jangka panjang”, ujar Presiden Mitsubishi Motor Corp, Takao Kato. Jadi, bagaimana menurut kalian, kawan?

Read Prev:
Read Next: