Mercedes-Benz : Stop Pengembangan Plug-in Hybrid, Fokus EV!

Mercedes-Benz : Stop Pengembangan Plug-in Hybrid, Fokus EV!
0  komentar

AutonetMagz.com – Dalam 2 atau 3 tahun terakhir, elektrifikasi menjadi panggung yang membuat banyak pabrikan berlomba menjadi yang paling depan. Banyak pabrikan otomotif yang rela menggelontorkan dana fantastis demi pengembangan EV, walaupun beberapa merevisi rencananya karena pandemi COVID-19 yang juga berimbas pada sektor ekonomi. Nah, kini ada informasi terbaru dari Mercedes-Benz yang menyatakan bahwa mereka akan menghentikan pengembangan teknologi plug in hybrid alias PHEV, dan berfokus penuh pada pengembangan teknologi BEV atau EV murni. Yuk kita bahas.

Teknologi PHEV Membebani Biaya Mobil

Mengutip media lokal Jerman Handelsblatt, Markus Schäfer, Pimpinan divisi pengembangan Mercedes-Benz menyatakan bahwa hari – hari untuk varian plug in hybrid dari Mercedes-Benz akan segera berakhir. Beliau menyatakan bahwa kompleksitas yang dari 2 buah sumber sistem gerak dalam 1 mobil adalah sebuah cacat bawaan. Sederhananya, penggunaan mesin konvensional dan motor listrik dalam sebuah mobil menurutnya adalah sebuah masalah. “Dan pada akhirnya, kondisi ini juga akan menjadi beban biaya pada kendaraan itu sendiri”, ungkap Schäfer. Walaupun Schäfer menyatakan hal ini, bukan berarti kita tidak akan melihat lagi sebuah Mercedes-Benz berteknologi PHEV. Schäfer menyatakan bahwa varian PHEV dari sejumlah model Mercedes-Benz masih akan dipasarkan di pasar global. Jadi, bagi kalian yang sudah terlanjur jatuh hati dengan teknologi ini, kalian tak perlu khawatir.

Investasi (pengembangan teknologi PHEV) telah dibuat, sehingga kami juga akan menggunakannya (teknologi PHEV),” ujar Schäfer. Yang paling jelas adalah kemunculan Mercedes-Benz GT 63 E Performance beberapa waktu lalu. Mobil tersebut juga menggunakan teknologi plug in hybrid dengan perpaduan motor listrik dan mesin konvensional 4.000cc V8 yang menghasilkan tenaga 831 hp dan torsi 1.400 Nm. Yap, bukan spesifikasi yang kaleng – kaleng tentunya. Bahkan, mobil ini bisa melaju hingga 100 km/jam dari keadaan diam hanya dalam 2,9 detik saja. Kehadiran teknologi PHEV, bagaimanapun juga, telah menjadi jembatan yang baik untuk konsumen yang sebelumnya menggunakan mesin konvensional, lalu ingin mencicipi EV, namun enggan kehabisan baterai. Setidaknya, teknologi PHEV memberikan sensasi ala EV, termasuk mengajarkan habit untuk melakukan charging. Namun, di sisi lain, sensasi mesin ICE masih bisa didapatkan. So, kembali ke masalah preferensi.

PHEV Transisi Yang Bagus, Tapi Regulasi Berkata Lain

PHEV sendiri memang menjadi transisi paling masuk akal dari mesin ICE ke mesin bertenaga listrik murni. Namun, Mercedes-Benz memang harus beradaptasi dengan sejumlah kondisi yang ada saat ini. Pertama, mereka memang sudah menggelontorkan dana dan perhatian yang besar pada pengembangan baterai untuk BEV. Malahan, Mercedes-Benz juga menyatakan bahwa mereka angkat kaki dari Formula E untuk fokus mengembangkan BEV mereka. Selain itu, sejumlah regulasi juga mengarah pada dorongan pabrikan untuk memproduksi mobil bertenaga listrik murni, terutama di Eropa. Alhasil, fakta bahwa Mercedes-Benz harus mengakhiri pengembangan PHEV pun menjadi sangat masuk akal. Nampaknya, teknologi PHEV dari Mercedes-Benz akan berguna di beberapa negara berkembang yang infrastruktur charging masih belum merata. Yap, seperti di negeri +62 kesayangan kita ini.

Jadi, bagaimana menurut kalian, kawan?

Read Prev:
Read Next: