Jadi Saksi MotoGP Mandalika : Ada Provokator Di Tengah Penonton!

Jadi Saksi MotoGP Mandalika : Ada Provokator Di Tengah Penonton!
0  komentar

AutonetMagz.com – Di artikel sebelumnya, kami telah menjabarkan bahwa PT Surya Timur Sakti Jatim (STSJ) selaku main dealer Yamaha di Jawa Timur, Nusa Tenggara dan Kalimantan mengajak kami untuk menonton MotoGP Mandalika bersama – sama. Nah, kami telah menceritakan sejumlah agenda healing yang disediakan Yamaha STSJ, hingga bagaimana perjuangan kami untuk bisa mencapai Grandstand A dan menonton gelaran MotoGP Mandalika 2022. Namun perjuangan belum berakhir, karena tantangan terbesar muncul saat bubaran MotoGP Mandalika 2022. Yuk kita bahas.

Hampir 63 Ribu Orang Keluar Bersamaan

Di artikel sebelumnya, kami telah membahas bahwa skenario untuk shuttle bus di parkir timur mengalami kegagalan, dimana para pengunjung terlihat anarkis dan masuk bus tanpa menunggu antrian. Alhasil, kala itu, rombongan kami terpecah 3 dan masuk ke bus yang berbeda – beda, walaupun tetap satu tujuan yaitu Gate 1 sirkuit Mandalika. Nah, masalah yang jauh lebih besar muncul saat bubaran balap MotoGP Mandalika kemarin. Tour Leader kami menyarankan untuk segera angkat kaki persis setelah balapan MotoGP selesai. Dan kami pun menuruti anjuran itu, sehingga kami langsung angkat kaki pasca Miguel Oliveira dan Fabio Quartararo memasuki garis finish.

Namun, kami tak menduga bahwa hal serupa juga dilakukan oleh ribuan orang lain di tempat yang sama. Jadi, kami berduyun – duyun keluar dari Grandstand A dengan ribuan orang lainnya. Di momen ini, ribuan orang yang keluar bersamaan masih terlihat sangat kondusif. Banyak yang masih berfoto bahkan bersendau gurau. Pun begitu saat kami melewat underpass di bawah sirkuit untuk menuju ke Gate 1. Tidak ada masalah berarti, semua keluar dengan tertib dan tak ada masalah. Masalah baru muncul saat kami (lagi – lagi) mengantri shuttle bus. Terlihat di kejauhan, antrian shuttle bus ke Parkir Timur dan Parkir Barat telah dibedakan, walau tak nampak jelas dari kejauhan. Namun, banyaknya jumlah penonton dan adanya provokator membuat situasi langsung berubah.

Yap, kami menyebut provokator karena sebenarnya mayoritas penonton tidak ada yang mengeluh harus antri, namun sejumlah provokator tersebut berteriak – teriak meminta panitian memprioritaskannya. Bahkan, sejumlah orang akhirnya berusaha merobohkan pagar antrian, dan merangsek keluar melalui parkiran VIP dan Deluxe. Dan mereka berhasil. Alhasil, rebutan shuttle bus tak terhindarkan. Bahkan, shuttle bus dihentikan paksa di jalan raya oleh mereka yang sudah tak sabar ingin kembali ke kantong – kantong parkir. Kondisi ini makin diperkeruh karena sejumlah mobil di kelas VIP dan Deluxe yang keluar dan menambah kemacetan. Dampaknya, shuttle bus makin telat, dan kami harus ‘jemput bola’ seperti yang lainnya untuk bisa naik bus tersebut.

Rekayasa Lalu Lintas Perlu Dibenahi

Satu catatan penting yang kami saksikan, hanya ada sedikit anggota event organizer atau panitia yang terlihat di lapangan. Dampaknya, crowd management event kali ini gagal total. Bahkan, polisi yang harus turun ke lapangan juga nampak bingung harus berbuat apa. Kami pun menempuh jarak sekitar 2km jalan kaki hingga bertemu bus berwarna merah yang membawa kami ke Parkir Timur. Sekilas kami pun mendengar keluh kesah sopir bus tersebut yang menyatakan sejumlah rekannya yang seharusnya bertugas sebagai shuttle malah kabur setelah mengantar ke Gate 1. Dan nyatanya, kami menemukan bus bersticker merah di kawasan Mataram tengah malam harinya. Yap, beberapa dari mereka nampaknya memang kabur dari tugas.

Setidaknya, kami sudah di dalam bus, dan bus bergerak perlahan menuju ke parkir timur. Jangan harap rombongan bisa komplit, karena di bus tersebut hanya ada 3 orang dari rombongan Yamaha STSJ termasuk tim AutonetMagz. Sejumlah rombongan bahkan tidak mendapat bus sama sekali dan harus berjalan 4 kilometer hingga titik penjemputan oleh bus milik tour kami. Belum selesai sampai di sana, kami yang sudah aman di bus juga akhirnya turun karena lalu lintas menuju Parkir Timur stuck parah. Alhasil, 1,5 kilometer harus kami lahap dengan jalan kaki lagi. Sesampainya di parkir timur dan masuk ke bus rombongan, kami masih harus mengantri lagi selama 1,5 jam hingga bus bisa keluar ke jalan raya dari area parkiran. Eits, kami masih harus menunggu 30 menitan lagi hingga bertemu rombongan yang berjalan kaki karena tak mendapat shuttle bus.

Akhirnya, jam 23.00 WITA kami sampai di hotel kami di Mataram, melewatkan jadwal makan malam dan langsung masuk ke kamar hotel. Namun, hospitality dari tim Yamaha STSJ patut kami acungi jempol karena mereka telah menyediakan snack tambahan selama di bus dan makan malam di hotel persis saat kami menyampai hotel. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan. Namun memang banyak yang harus diperbaiki dan dievaluasi oleh tim MGPA. Nah, di artikel berikutnya, kami akan jabarkan apa saja yang bisa ditingkatkan oleh penyelenggara untuk MotoGP berikutnya. Jadi, bagaimana menurut kalian?

Read Prev:
Read Next: