Bos VW Australia : Australia Bisa Jadi Tempat Pembuangan Mesin Lawas

Bos VW Australia : Australia Bisa Jadi Tempat Pembuangan Mesin Lawas
0  komentar

AutonetMagz.com – Teknologi di bidang otomotif selalu berkembang setiap harinya, termasuk untuk mesin Nah, jikalau teknologi selalu berkembang, lalu bagaimana dengan teknologi yang sudah tertinggal? Bagaimana dengan Mesin – mesin berteknologi lawas? Apakah masih dipakai? Iya, khususnya di negara – negara yang belum bisa mengikuti perkembangan teknologi dan regulasi paling terkini.

Nah, hal ini sendiri menjadi kecemasan dari salah seorang bos Volkswagen yang beroperasi di Australia. Michael Bartsch, Managing Director Volkswagen Australia menyebutkan bahwa Australia bisa saja menjadi tempat pembuangan mesin – mesin dengan teknologi yang tertinggal. Tentunya kata ‘Pembuangan’ disini tidak bisa diartikan secara harafiah seperti sebuah lahan besar dimana mesin – mesin tua ditumpuk – tumpuk. Pembuangan disini berarti mobil – mobil yang dijual di Aussie akan menggunakan mesin – mesin berteknologi lawas, katakanlah mesin – mesin dengan standar emisi yang lama dan juga teknologinya belum secanggih di negara – negara Eropa. Bagaimana bisa Michael menyebutkan hal tersebut? Apa alasannya? Michael menyebutkan bahwa salah satu faktor pendukungnya adalah standar bahan bakar dan standar uji emisi di Aussie.

Yap, Standar Uji emisi dan standar bahan bakar di Aussie masih ada di bawah standar terbaru, dimana sejak tahun 2013 silam pihak Pemerintah Australian memberlakukan standar uji emisi Euro 5. Sejatinya masih bisa dikatakan lumayan daripada Indonesia yang saat ini masih bersiap untuk beralih ke standar Euro 4. Standar Euro 5 sendiri bukanlah standar yang baru, karena standar ini sudah ada sejak tahun 2009 silam dan Australian membutuhkan waktu 4 tahun untuk mulai menerapkannya. Dengan standar baru yaitu WLTP yang sempat kita singgung beberapa waktu lalu, dan standar uji emisi European Union terbaru di Euro 6.2, bahkan menuju Euro 7, Michael menyebutkan bahwa Australia bisa saja terhitung sebagai outsider, alias pihak yang berada di luar standar. Michael menambahkan bahwa hal ini akan membuat Australia menjadi pasar kasta kedua.

Lalu bagaimana cara untuk memperbaiki posisi Aussie? Michael menyebutkan bahwa salah satu caranya adalah melakukan update pada kualitas bahan bakar, dan juga menerapkan standar uji emisi terbaru. Namun tentunya hal ini tak semudah membalik telapak tangan, karena untuk urusan bahan bakar saja, produsen harus meningkatkan kualitas bahan bakar serta mengurangi kandungan sulfur di dalamnya. Untuk standar uji emisi? Para pabrikan harus mengembangkan teknologi mesin yang mampu menekan emisi dan menekan konsumsi bahan bakar. Nah, dua hal yang kami sebutkan ini cukup sulit dilakukan, dan butuh waktu serta dana dan investasi. Lalu apa efeknya jikalau Aussie belum mampu mewujudkannya? Ya jelas, mobil – mobil dengan mesin terbaru tak bisa dan tak akan masuk ke Aussie.

Nah, itu untuk Australia, bagaimana dengan Indonesia? Lebih parah. Contoh paling mudah adalah Volkswagen Polo, yang sempat kami bahas nasibnya beberapa waktu lalu. Generasi terbaru dari Volkswagen Polo tak bisa masuk ke Indonesia dan India, karena memang standar emisi Indonesia yang masih Euro 2 dan India yang masih Euro 4. Jikalau Australia, India, dan negeri kita tercinta tak segera menyesuaikan diri, apa yang dikatakan oleh Michael tentunya akan sangat masuk akal. Kalau Australia saja takut, bagaimana dengan Indonesia?

Sumber : Car Advice

Read Prev:
Read Next: