Toyota : Kami Fokus Mobil Listrik Murah, Jarak Tempuh Nomor 2

Toyota : Kami Fokus Mobil Listrik Murah, Jarak Tempuh Nomor 2
0  komentar

AutonetMagz.com – Siapa diantara kalian yang sudah berkeinginan atau bermimpi untuk memiliki mobil listrik kedepannya? Apa sih tantangan yang menurut kalian bisa menghambat realisasi impian kalian itu? Memang bisa dikatakan environment untuk mobil listrik di Indonesia belum terlalu lengkap, termasuk infrastrukturnya. Namun, ada sebuah hal penting yang nampaknya akan terus menghantui mobil listrik, yaitu harga. Yap, harga jual mobil listrik saat ini masih terbilang tinggi, bahkan rata – rata di atas setengah Milyar Rupiah. Oleh karenanya, Toyota menganggap mobil listrik murah lebih penting daripada mobil listrik dengan jangkauan berkendara yang jauh. Yuk kita bahas.

Toyota = Affordable | Lexus = Long Range

Kemunculan Toyota bZ4X beberapa waktu lalu memang menjadi gerbang baru untuk Toyota masuk ke segmen mobil bertenaga listrik penuh yang dijual massal. Toyota bZ4X tak akan berjuang sendirian, karena akan ada 6 mobil lain dalam keluarga beyond zero (bZ) yang akan diperkenalkan di tahun 2025 mendatang. Lantas, apa strategi Toyota dalam menggarap segmen pasar mobil Full EV? Group Vice President of Product Planning & Strategy dari Toyota Motor North America (TMNA), Cooper Ericksen, pun buka suara. Ericksen menjabarkan bahwa Toyota berusaha untuk jadi kompetitif dalam hal harga yang terjangkau, durabilitas, dan juga tanggung jawab lingkungan yang berkaitan dengan mobil listrik. Jadi, kasarnya, Toyota tidak akan terlalu memikirkan maslaah jarak berkendara, asalkan mobil listrik mereka murah dan bisa diandalkan. Di sisi lain, brand satelit Toyota yaitu Lexus akan berfokus pada kendaraan dengan range berkendara yang lebih jauh yang dihasilkan oleh baterai yang berkapasitas lebih besar.

Sebagai contohnya, Lexus bisa memiliki mobil listrik dengan jarak tempuh mencapai 644 kilometer hingga 805 kilometer. Namun, tentunya baterai yang mengakomodir kemampuan itu tidaklah murah, yang mana akan sangat memberatkan bagi konsumen Toyota. Tapi mungkin tidak masalah untuk konsumen Lexus. Selain itu, tanggung jawab pada lingkungan juga menjadi salah satu concern Toyota. Dengan murahnya harga mobil listrik, maka Toyota bisa menjual banyak EV pada konsumen mereka. Secara tak langsung, akan lebih banyak konsumen yang berpindah dari mobil ICE ke mobil listrik. “Supaya memberikan dampak positif pada lingkungan, maka kami harus menjual mobil listrik dalam jumlah yang sangat besar. Jadi, akan sangat penting bagi price point yang sedemikian rupa sehingga kami dapat membuat model bisnis yang sebenarnya dari kondisi tersebut”, ujar Ericksen pada Green Car Report beberapa waktu lalu. Lantas, apa langkah riil yang telah atau sedang Toyota lakukan untuk menekan biaya dan harga mobil listrik?

Tekan Biaya Baterai Sebesar Mungkin

Jadi, Toyota selama ini telah menghabiskan banyak sumber daya mereka untuk mengembangkan baterai untuk mobil listrik mereka. Usaha mereka adalah mengurangi cost atau biaya baterai sebesar – besarnya, dan itu terjadi hingga 50% di Toyota bZ4X. Seperti yang kita ketahui bersama, baterai adalah komponen termahal dari mobil listrik, dan disanalah efisiensi sebenarnya bisa dilakukan. Dengan langkah ini, nantinya diharapkan harga mobil listrik bisa turun. Kedepannya, mobil listrik dengan harga terjangkau akan masuk dalam kendaraan volume maker dengan jarak yang tidak terlalu jauh, dibandingkan menjadi mobil mewah, termasuk flagship. Sebuah strategi yang bertentangan 180 derajat dengan brand senegaranya yang tak perlu kami sebutkan namanya. “Seiring berjalannya waktu, kami melihat bahwa range berkendara mirip dengan daya kendaraan di ICE. Orang kaya mampu membeli mobil ICE dengan tenaga buas, tapu konsumen kebanyakan akan memilih harga yang terjangkau”, ujar Eriksen.

Baterai mahal, dan semakin besar kapasitasnya akan semakin mahal harganya. Jadi, dalam jangka pankang, saya pikir triknya tidak hanya melulu pada jangkauan berkendara. triknya adalah mencocokan kisaran jangkauan EV dengan price point yang mampu dibeli konsumen. Dan saat orang sudah mulai terbiasa, saya pikir kecemasan maslaah range berkendara akan hilang”, tutup Ericksen. Jadi, bagaimana menurut kalian?

Read Prev:
Read Next: