Product Expert Mercedes-Benz : Supir di Indonesia Kurang Aktif dan Minim Minat Belajar

by  in Mercedes-Benz&Nasional
Product Expert Mercedes-Benz : Supir di Indonesia Kurang Aktif dan Minim Minat Belajar
0  komentar

AutonetMagz.com – Sebelumnya, biar kami jelaskan dulu kalau “supir” di sini lebih merujuk kepada supir-supir pribadi para bos dan sejenisnya. Sudah bukan rahasia lagi kalau orang yang bisa membeli mobil premium berharga miliaran lebih suka duduk di belakang dan pakai jasa supir. Nah, kalau dulu supir hanya perlu sanggup membawa mobil dengan halus dan bertanggung jawab atas urusan mobil, kali ini jadi supir pun harus lebih aktif.

Saat sesi test drive Mercedes-Benz E350e, kami berbincang dengan Product Expert PT. Mercedes-Benz Distribution Indonesia, Richy Unsulangi. Perlu diketahui, Mercedes-Benz suka menawarkan pelatihan gratis bagi supir pribadi para konsumen yang membeli Mercedes-Benz soal mobil-mobil yang akan mereka kemudikan nanti. Perlu dong pelatihan, semakin hari mobil semakin rumit lho, tidak kalah dengan smartphone atau laptop kita.

Masalahnya adalah, supir-supir pribadi di Indonesia tergolong susah untuk mempelajari hal-hal baru yang dibenamkan dalam mobil.”Supir-supir yang pernah kami berikan training kebanyakan susah untuk menangkap perkembangan teknologi yang ada di mobil baru,”kata Richy, sembari menekankan kalau supir yang mereka berikan materi kebanyakan sudah tidak muda lagi. Lalu, apa yang kira-kira jadi penyebab supir pribadi kebanyakan susah menyerap ilmu?

Salah satu yang disampaikan oleh Richy adalah komunikasi istilah terjemahan. Tahu sendiri kan kalau beberapa istilah otomotif selalu pakai bahasa Inggris? Contoh paling gampang ya hybrid, cruise control, autonomous braking dan lain-lain. Nah, kebanyakan supir masih kurang paham dengan istilah bahasa Inggris, jadi kerap muncul pertanyaan seperti,”Hybrid itu apa sih?” atau,”Cruise control itu apaan?” dan lain sebagainya.

Kalau begitu, bukannya tinggal diterjemahkan atau dijelaskan saja kan? Iya sih, namun kembali ke masalah komunikasi tadi, beberapa istilah di otomotif yang pakai bahasa Inggris akan terasa aneh jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Misalnya, hybrid berarti hibrida atau campuran, lalu sambil dijelaskan kalau mobil hybrid itu bisa pakai bensin dan bisa juga pakai baterai. Serius deh, kebanyakan istilah otomotif pasti aneh kalau diterjemahkan. Biarkan apa adanya saja.

Sayangnya, setelah dijelaskan pun, itu belum tentu masuk ke pemahaman mereka soal mobil. Richy juga berkata kalau supir-supir di Indonesia minim minat belajarnya dan kurang aktif dalam mempelajari sebuah hal baru. “Mereka pahamnya mobil itu tinggal kemudikan dan selesai, kadang tidak mau mempelajari mobil yang akan mereka bawa,” tambahnya. Ini bisa jadi karena tingkat pendidikan para supir yang tidak setinggi ekspektasi kita. Padahal asal mau belajar, teknologi mobil terbaru pun bisa dikuasai oleh para supir.

Lalu, apakah semua supir begitu?”Tidak semua supir begitu. Kami kadang menemukan supir yang pintar dan aktif dalam mempelajari mobilnya nanti, tapi jumlahnya sangat sedikit,” kata Richy. Kalau ada supir seperti itu, kami angkat topi buat mereka. Lanjut lagi, jika supirnya pun tidak terlalu paham dengan mobilnya, apa bosnya bisa membantu? Sayang sekali, kebanyakan bos yang membeli mobilnya juga kadang masa bodoh soal itu. Tahunya hanya ia mengemudikannya sampai tempat tujuan dengan halus dan nyaman, beres.

Untuk segmen premium di mana teknologi menjadi salah satu hal yang penting, ada baiknya supir-supir yang akan mengemudikannya pun punya kualitas yang tak kalah bagus dengan mobilnya. Mungkin bisa diadakan workshop khusus para supir dengan beberapa tes praktek, dengan harapan jika dipraktekkan langsung mungkin para supir bisa jadi lebih cepat paham daripada penjelasan dan teori di atas kertas. Apa opinimu? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: