Porsche Media Driving Academy 2017 : Yuk Simak Materi Berkendara ala Porsche!

Porsche Media Driving Academy 2017 : Yuk Simak Materi Berkendara ala Porsche!
0  komentar

AutonetMagz.com – Porsche Indonesia mengundang AutonetMagz untuk ikut serta dalam Porsche Media Driving Academy 2017. Acara ini berlangsung di sirkuit Sepang, Malaysia dan dihadiri oleh jurnalis dari Asia seperti Indonesia, Singapura, Filipina, Brunei dan Taiwan. Acara yang berlangsung selama beberapa hari ini menghadirkan semua jajaran model Porsche untuk jadi sarana belajar, mulai dari Boxster, 911, Macan, Panamera dan Cayenne.

Kami masuk ke grup Individual, dan materi tes kami adalah materi bagi pemula alias Beginner. Materi yang diajarkan adalah slalom, cornering, moose test dan braking. Setelah keempat sesi itu, peserta diperbolehkan menjajal Porsche 911 sepanjang sirkuit Sepang di bawah komando para instruktur. Puncak acaranya adalah hot laps yang dipandu Earl Bamber, juara FIA WEC yang membela Porsche dengan mobil balap 919 Hybrid.

Selain Earl Bamber, instruktur-instruktur lain dari Porsche turut membantu. Sebelum melaksanakan sesi latihan utama, wejangan utama berupa kata-kata penting turut dibenamkan ke batin para pesertanya.”Ke mana arahmu melihat akan jadi arahmu menyetir, jangan meleng, tetap fokus” tutur instruktur bernama Kenneth. “Ngebut di sirkuit santai saja, jangan ragu,” kata Earl Bamber. “Teknik lebih penting daripada kecepatan, kalau kita menguasai teknik, kecepatan akan datang dengan sendirinya,” demikian wejangan Admi, instruktur dari Porsche.

Setelah dibagi ke empat grup, materi pertama kami adalah slalom, lalu berlanjut ke cara membaca sirkuit, moose test dan braking test. Pemilihan mobil untuk tiap tes berbeda, seperti slalom yang pakai Porsche 718 Boxster yang punya tata letak mesin tengah yang biasanya lebih balans, moose test pakai Porsche 911 yang berat di buritan biar tahu bagaimana mengendalikan mobil tanpa stability control, lalu braking test menggunakan Porsche 911 Turbo S yang sudah pakai PCCB (Porsche Composite Ceramic Brakes).

1.Slalom

Slalom mungkin sudah cukup familiar, dengan materi tes untuk melakukan zig-zag di setiap traffic cone secepat dan seefisien mungkin. Di sini, instruktur Porsche menekankan bahwa kuncinya adalah kehalusan. Tidak perlu memutar setir seperti orang ngamuk atau menginjak gas dengan nafsu dan emosi, karena itu tidak bisa membantu kita menuntaskan slalom dengan baik. Kembali lagi, kuasai teknik, maka kecepatan akan datang dengan sendirinya.

Saat mulai, injak gas hingga mobil lari, dan saat memasuki tikungan pertama, lepas gas dan putar setir setenang mungkin, tidak usah tergesa-gesa atau kasar. Jika kontrol setir sudah dikuasai, kaki kanan boleh bermain lagi dengan pedal gas untuk menambah kecepatan sedikit-sedikit. Saat mengerem dan putar balik, instruktur menyarankan mengambil putar balik dengan radius besar supaya kecepatannya bisa lebih besar. Tadinya kami pikir radius kecil akan lebih baik.

2.Cornering

Materi ini adalah untuk belajar membelok di sirkuit. Pada belokan basic, simpelnya adalah “luar-dalam-luar.” Penjabaran lebih lengkapnya adalah mulailah berbelok dari sisi luar sirkuit, incar bagian dalam belokan (apex), dan keluarlah dari belokan di sisi luar sirkuit lagi. Bagi pembalap profesional, ini namanya garis balap alias Racing Line. Ada 3 Porsche yang dipakai di sini, yakni Porsche 911 Carrera 4S, Porsche Panamera 4S dan Porsche Cayenne Turbo. SUV di sirkuit? D*mn.

Earl Bamber menyampaikan bahwa,”Kelalaian pemula yang paling sering muncul adalah terlalu lambat di tikungan cepat, dan terlalu cepat di tikungan lambat.” Untuk pemula, jangan memaksakan diri dahulu, lambatlah di tikungan lambat semisal hairpin, lalu cepatlah di tikungan cepat. Mengerem pun jangan ragu-ragu, injak rem sekuat mungkin sebelum membelok dan jangan injak rem selama mobil masih membelok.

Itu kalau yang direm mobil road car Porsche yang ada ABS-nya, soalnya kalau injak rem sekuat mungkin di mobil yang non-ABS, perlu teknik khusus dan latihan yang banyak agar ban tidak mengunci. Di sini, belum diajarkan mengenai braking point yang pas, late braking atau early braking, namun sudah diajarkan bagaimana sistem 4-wheel steering di 911 dan Panamera membantu manuver berbelok.

3.Moose Test

Ini jadi kesempatan bagi kami untuk melihat materi Moose Test. Simpelnya, anggap mobil sedang berjalan, lalu tiba-tiba ada yang “nyelonong” masuk jalan, lalu kita menghindar ke kiri atau kanan sambil melepas gas. Setelahnya, kita harus kembali ke jalan yang benar (secara harafiah) dengan membanting setir lagi, dan semua proses itu tidak menginjak rem. Jika slalom dan cornering menganjurkan gerakan yang halus, di sini kita harus cepat dan sigap.

Bila terlalu lambat, kita akan menabrak objek atau mobil akan terpelintir hingga keluar jalur. Tujuannya adalah agar kita bisa menstabilkan mobil di situasi darurat. Di antara keempat tes, hanya di sini yang menyediakan materi tes dengan sistem PSM (stability control-nya Porsche) dimatikan total. Ini agar kita tahu bedanya tingkah mobil saat PSM nyala dan PSM mati. Oh ya, mobil yang dipakai adalah Porsche 911 Carrera S biasa yang RWD, bukan AWD seperti di Carrera 4S.

Nyatanya, saat PSM nyala, semua relatif aman terkendali. Momen saat PSM matilah yang jadi tantangan sebenarnya. Karakter 911 yang mesinnya berada di belakang – di mana sering dikatakan sebagai tempat yang salah – makin terasa. Dengan PSM aktif, 911 mudah dikuasai, namun 911 menjadi “ngebuang” saat setir diputar tiba-tiba ke arah yang berlawanan untuk meluruskan laju, entah itu dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri.

Hasilnya, tak jarang peserta melintir ke run-off area dan mendarat di gravel, atau malah menabrak traffic cone yang ditata, meski ada beberapa yang berhasil menjinakkan 911. Oh ya, asal usul nama Moose Test adalah karena di Amerika Serikat suka ada rusa besar Amerika (Moose) yang nyelonong ke jalan, dan mau tak mau harus dihindari. Maka dari itulah, tes menghindar seperti ini dinamakan Moose Test, meski objek yang nyelonong belum tentu Moose.

4.Braking

Namanya saja braking, sudah tentu yang dites pengeremannya. Di sini, media tesnya adalah sebuah Porsche 911 Turbo S. Sportscar ini pakai mesin 3.800 cc flat 6 twin turbo dengan tenaga mencapai 580 hp, dan mampu lari dari 0-100 km/jam dalam 2,8 detik saja. Waduh, itu setara Bugatti Veyron keluaran awal. Untuk menjinakkan larinya, mobil ini sudah dipasangi PCCB (Porsche Composite Ceramic Brakes) yang ditandai dengan kaliper rem kuning.

Inti dari tes ini adalah jangan ragu untuk menginjak rem sekeras mungkin. Injaklah sampai habis, lalu arahkan mobil ke kiri atau kanan untuk menghindari objek yang tak boleh ditabrak. Tidak perlu takut rem rusak, karena kalaupun rem rusak, itu masih jauh lebih murah dan mudah untuk diperbaiki daripada anda menabrak orang atau mobil lain sehingga mobilnya rusak.

Porsche menjelaskan bahwa rem PCCB ini punya karakter yang lain dengan rem carbon ceramic yang ada di MotoGP misalnya. Rem carbon ceramic butuh suhu yang panas supaya kerjanya optimal, sehingga lebih cocok di sirkuit tapi kurang cocok di jalan raya. Rem PCCB Porsche diklaim bisa bekerja saat suhu rem dingin atau panas, jadi tak hanya bisa dipakai di sirkuit, tapi di jalan raya pun oke.

Jika sudah lulus di tahap ini, peserta akan dilanjutkan ke level berikutnya, yakni level Professional, dan yang tertinggi adalah level Elite. Semua materi tersebut ditutup dengan hot lap bersama Earl Bamber yang mengendarai Porsche Cayman GT4 ClubSport MR, Cayman GT4 yang sudah ditelanjangi buat balap. Semoga materi dari Porsche tadi bisa meningkatkan skill mengemudi kita semua, entah di jalan atau sirkuit. Apa opinimu? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: