Pertamina Akan Garap Bisnis Baterai Lithium di Indonesia

by  in Berita&Nasional
Pertamina Akan Garap Bisnis Baterai Lithium di Indonesia
0  komentar

AutonetMagz.com – Era kendaraan bertenaga listrik di Indonesia akan segera dimulai di Indonesia. Salah satu tonggaknya adalah pembangunan pabrik komponen baterai di Morowali dan juga ditandatanganinya Perpres Percepatan Kendaraan Listrik. Nah, kondisi ini tentunya membuat beberapa penggiat di sektor otomotif harus mulai menyiapkan strategi baru, baik itu pabrikan otomotif, Pemerintah, hingga ke sektor pendukung lain seperti PLN dan Pertamina.

Sebenarnya, jika diperhatikan, Pertamina adalah salah satu badan yang akan terdampak dari pergeseran sumber tenaga dari kendaraan dari BBM menjadi tenaga listrik. Jikalau elektrifikasi di segmen otomotif di Indonesia berjalan dengan lancar, maka cepat atau lambat, SPBU – SPBU Pertamina akan mulai tergeser dan tergantikan oleh charging station untuk kendaraan listrik. Kondisi serupa sudah terjadi di Inggris, dimana jumlah SPBU di sana sudah kalah banyak dibandingkan dengan jumlah charging station-nya. Lantas, apa yang akan dilakukan oleh pihak Pertamina untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan jaman?

Andianto Hidayat, Vice President R&T Planning & Commercial Research & Tehcnology Center Pertamina yang hadir dalam gelaran Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 menyebutkan bahwa Pertamina berpeluang untuk menggarap sektor baterai lithium yang menjadi nyawa utama dari mobil listrik. Andianto menyebutkan bahwa pihak Pertamina akan membentuk perusahaan baru untuk menangani produksi dari baterai Lithium tersebut. Produksi baterai Lithium oleh Pertamina akan dilaksanakan per tahun 2021 mendatang, dan akan berlokasi di sekitar Jawa Barat. Sayangnya, Andianto enggan membeberkan nilai investasi yang digelontorkan.

Andianto juga menyebutkan bahwa suplai produksi dari baterai lithium milik Pertamina akan didukung oleh Pabrik Bahan Baku Baterai di Morowali, Sulawesi tengah. Pertamina sendiri akan memproduksi beberapa jenis baterai Lithium sesuai dengan kebutuhan pasar, contohnya adalah baterai NMC (Lithium Nickel Manganese Cobalt Oxide), dan LFP (Lithium Ferrophosphate). Andianto juga menyebutkan bahwa pihak Pertamina masih akan memproduksi BBM hingga sekitar tahun 2035 mendatang. Selain elektrifikasi, makin mengecilnya kilang minyak dan suplainya membuat Pertamina mau tak mau harus beradaptasi.

Jadi, bagaimana menurut kalian, kawan? Yuk sampaikan pendapat kalian di kolom komentar di bawah ini.

Read Prev:
Read Next: