First Impression Review Honda NSX NC1 2017

First Impression Review Honda NSX NC1 2017
0  komentar

AutonetMagz.com – Ada suatu momen di kala Honda bisa membuat mobil yang bisa menyamai level sebuah Ferrari. Adalah Honda NSX yang disebut sebagai mobil sport Jepang yang mengubah dunia otomotif selain Toyota 2000GT, Mazda RX-7 dan famili Nissan Skyline GT-R. Misi Honda NSX di tahun 1990-an adalah membuktikan kepada dunia bahwa memiliki mobil sport yang asik seperti Ferrari tidak harus dibayar dengan kualitas yang kasar, reliability yang parah dan ketidaknyamanan.

Pembuktian dilakukan dengan mengerahkan semua ujung tombak yang dimiliki Honda, termasuk meminta Ayrton Senna untuk membantu menyetel Honda NSX generasi pertama berkode NA1. Teknologi terbaik pun disematkan, seperti pemakaian ABS 4 channel, bodi full aluminium dan lain sebagainya. Setelah produksi 15 tahun, NSX berhenti dibuat, namun untungnya ia sudah kembali lagi dengan bentuk yang berbeda dibandingkan NSX sebelumnya.

Benar-benar beda bentuk saja? Apa yang berani oleh ditawarkan oleh Honda NSX NC1 sehingga ia dinilai pantas menyandang nama NSX? Simak dalam review berikut ini!

Eksterior

Jika Honda NSX lama didesain oleh Pininfarina, maka Honda NSX baru didesain oleh seorang wanita yang belum lama lulus studi desain dan bekerja sebagai desainer Honda. Maka dari itulah mengapa ada aura sensual dari NSX lama yang bahkan tidak bisa disamai NSX baru. Jangan salah, bukan berarti desain Pininfarina pasti bagus. Lihat saja Hyundai Matrix yang juga didesain Pininfarina. Mungkin didesainnya memang sesuai dengan budget Hyundai waktu itu.

Kembali ke Honda NSX. Terlepas dari adanya Solid Wing Face ala Honda, NSX baru ini kelihatan memancarkan segala garis-garis supercar Eropa yang diaduk dalam satu adonan. Ada kesan seperti melihat Audi R8, McLaren bahkan Aston Martin saat melihatnya. Desainnya tidak sespesial NSX NA1, tapi ia tetap futuristik dan keren. Proporsinya yang rendah, ceper dan lebar membantu kesan eksotis, dan inilah keuntungan platform mesin tengah yang diusungnya.

Bagian depan dihiasi dengan 12 buah projector LED, dan di bawahnya ada ventilasi udara untuk mendinginkan rem dan motor listriknya. Demikian juga dengan kap depannya, ada ventilasi yang bertugas menghembuskan angin lagi keluar. Menurut Honda, semua elemen desain NSX ini punya andil untuk menjaga suhu ideal mesin seraya menghasilkan gaya tekan ke bawah yang besar, dan mayoritas gaya tekannya ada di bagian belakang.

Honda NSX memakai ban standar Continental, namun bisa diganti menjadi Pirelli jika mau merogoh kocek ekstra. Rem NSX yang ada di sini sudah berbahan carbon ceramic yang kinerjanya lebih bagus saat rem panas dibandingkan saat dingin. Di depan, ia ditunjang oleh 1 kaliper besar sementara di belakang ada 2 kaliper kecil. Setup seperti ini juga dimiliki oleh supercar Eropa lain macam Lamborghini Aventador dan McLaren 720S.

Spion Honda NSX didesain khusus untuk mengalirkan angin ke ventilasi samping, tempat di mana intercooler bertengger dan siap untuk mendinginkan udara. Setelah itu, udara akan keluar dari ventilasi yang ngumpet di atas lampu rem LED-nya. Lampunya sendiri bentuknya mirip kepunyaan Aston Martin One-77. Bagian kolong NSX dibuat rata, dan buritannya dihiasi dengan diffuser yang berfungsi sungguhan plus 4 lubang knalpot yang dibingkai jadi 1, macam Aventador.

Interior

Honda NSX tidak memiliki kesan bespoke seperti supercar Eropa. Sama seperti Nissan GT-R, kita masih bisa menemukan beberapa common parts dari mobil lain seperti tombol-tombol power window, memori jok dan pengaturan jok elektriknya. Feeling saat memainkan paddle shift NSX pun terasa murah, tidak ada bobot yang mantap dan suara “klik”nya tidak terdengar berkelas. Singkat kata, rasa premium NSX masih belum sepantaran dengan merek Eropa seperti R8 dan 911.

Namun masih ada persamaan antara NSX lama dan NSX baru : Kabinnya roomy buat ukuran supercar. Visibilitasnya pun bagus, tidak sulit untuk melihat ke depan, samping dan belakang dari mobil ini. Suatu hal sepele, namun memang biasanya supercar tidak punya visibilitas yang bagus, misalnya Lamborghini Veneno dan Koenigsegg CCX. Posisi mengemudi NSX mantap, ergonomis dan rasa sporty-nya dapat, namun memang posisi duduknya tidaklah serendah supercar pada umumnya.

Setirnya tidak lingkaran seperti mobil biasa, melainkan agak kotak seperti milik Ferrari plus aksen carbon fiber. Sayangnya, untuk mobil semahal ini, pengaturan tilt dan telescopic NSX masih manual seperti BMW i8. Di balik setir ini, ada panel instrumen yang berupa layar besar dengan beberapa jenis tampilan tergantung dari 4 mode berkendara yang bisa dipilih : Quiet, Sport, Sport+ dan Track. Mode ini bisa diatur via kenop putar di dekat transmisi.

Di mode Quiet, NSX akan menutup beberapa katup knalpotnya, menjaga putaran mesin tidak terlalu tinggi dan memprioritaskan penggunaan motor listrik supaya suaranya tidak berisik dan tidak bikin tetangga marah. Berlanjut ke mode Sport, Sport+ dan Track, NSX akan berusaha mengubah sifatnya menjadi supercar sejati, seraya memastikan mesin V6 twin turbo dan mesin listriknya bersatu padu memberikan performa terbaik yang bisa ia berikan.

Honda NSX NC1 ini tidak punya head unit yang bespoke juga, terlihat mirip dengan kepunyaan Civic Turbo versi Amerika. Tidak banyak juga tempat buat penyimpanan barang di sini. Glovebox, kantong pintu dan center console box tidak usah dipertanyakan, pasti punya, namun tidak ada cup holder paten, sebab yang ada hanyalah cup holder portable seperti MX-5. Padahal kalau mau, bisa lho mendesain cup holder seperti kepunyaan Porsche 718 Boxster, bagus dan tak makan tempat.

Kalau mau menyimpan barang, jangan buka bonnet Honda NSX bagian depan. Di situ sudah penuh sesak dengan 2 motor listrik dan segala barang-barang lain yang menunjang kinerja mobil. Bagasinya ada di belakang, dengan kapasitas yang cukup fair untuk beberapa tas punggung.

Teknologi

Bab khusus, karena ada beberapa teknologi di mobil ini yang bakal jadi pertaruhan Honda soal citra NSX baru yang bakal menentukan apakah ia bakal menjadi supercar revolusioner seperti NSX lama atau hanya supercar biasa yang pakai nama NSX. Honda membawa teknologi drive-by-wire di alat-alat berat ke dunia supercar, yakni di sektor pedal rem. Pedal remnya tidak bekerja secara mekanis, melainkan elektrik. Tidak ada selang rem, yang ada hanya kabel.

Konon, ini untuk memberi benefit pada sistem regenerative braking NSX yang bisa mengisi ulang kembali daya baterainya saat deselerasi atau pengereman. Entah apa yang salah dengan mobil hybrid lain yang remnya konvensional namun juga punya sistem regenerative braking.Power steering elektronik, rem elektronik, pedal gas elektronik. Hm, kedengarannya terasa seperti saat main GT Sport, Forza atau Asseto Corsa pakai setir game buatan Logitech atau Thrustmaster.

Kemajuan lain yang ditawarkan NSX adalah sistem torque vectoring yang dianut 2 motor listrik di depannya. Sebelumnya, biar kami jelaskan kalau 2 motor listrik di depan punya tugas untuk memutar roda depan masing-masing secara independen (motor kiri buat roda kiri, motor kanan buat roda kanan). Kembali ke soal torque vectoring, memang apa spesialnya punya NSX? Toh Mazda 3 baru juga punya sistem sejenis.

Bedanya lebih ke cara kerja. Kebanyakan mobil yang mengadopsi torque vectoring mengandalkan rem dan differential untuk membagi torsi antara roda kiri-kanan, sembari mengerem di satu sisi roda untuk meningkatkan kemampuan menikung alias cornering. Kalau Honda NSX, ia mengandalkan 2 motor listrik di depannya untuk membagi torsi dan kecepatan putaran antara roda kiri dan kanan. Lah, terus apa bedanya?

Bedanya adalah kala differential dan rem hanya bisa mengatur input torsi positif (gerak maju), NSX bisa mengatur input torsi positif dan negatif (gerak maju dan gerak mundur). Itu baru teori di atas kertas, sebab pembuktian seberapa jauh efek sistem ini terhadap handling mobil bukanlah di atas kertas, melainkan di atas aspal. Selain di atas kertas dan di atas aspal, sistem ini juga harus memberikan rasa yang natural saat dikendarai. Pembuktian yang sangat berat sih.

Seperti Audi R8, Honda NSX punya magnetorheological damper buat keempat suspensinya. Apa ini mengatur keras-empuknya suspensi? Iya, tapi kalau begitu doang tidak seru, sebab Honda berusaha meniru sistemnya Audi. Damper ini bisa berganti setelan hingga berkali-kali dalam hitungan detik untuk menyesuaikan karakternya dengan permukaan jalan yang ia lalui, dan ini turut andil dalam mengubah karakter mobil di keempat mode yang beda, dari Quiet hingga Track.

Dari sisi aerodinamika, Honda NSX memprioritaskan sebagian besar downforce ke belakang karena sebagian besar tenaganya diserahkan ke roda belakang. Ada satu motor listrik di belakang yang dijepit di antara mesin dan girboks kopling ganda 9 percepatan bawaannya, di mana tugasnya adalah memberi dorongan kala mesin bensinnya belum bekerja optimal, seperti saat turbo lag atau ganti gigi. Ini adalah teknologi yang sama dengan LaFerrari, P1, 918 dan i8.

Diketahui, Honda membeli mobil sport lain seperti Porsche 911 GT3 (991), McLaren MP4-12C dan sepasang Ferrari 458 saat merancang NSX. Secara kebetulan, Porsche tahu kalau salah satu 911 yang mereka jual dibeli Honda untuk dianalisa setirnya, jadi mereka menyisipkan “surat cinta” kala Porsche milik Honda selesai diservis. Isinya adalah,”Good luck Honda from Porsche. See you on the other side.

Mesin

Tidak seperti Honda NSX lama yang pakai mesin V6 naturally aspirated, Honda NSX baru pakai mesin 3.500 cc V6 twin turbo yang dibantu 3 motor listrik, 1 di belakang dan 2 di depan. Posisi mesin ini longitudinal, tapi awalnya Honda pernah menguji prototipe NSX di Nurburgring dengan posisi mesin transversal seperti NSX NA1 dan NA2. Sayang, hasilnya tidak bagus, karena pendinginan NSX baru tidak semudah NSX lama sehingga mobilnya terbakar. NSX lama mesinnya transversal lho.

Untuk itu, mereka mulai lagi dan menempatkan posisi mesin secara longitudinal dan ini dirasa sudah pas. Urusan mesin, Honda merancang mesin V6 ini khusus untuk NSX dan bukan untuk Honda/Acura lain. Desainnya sendiri sudah beda, sebab jika mesin V6 punya derajat V di angka 60 atau 90 derajat, punya NSX ada di angka 75 derajat. Selain Honda, Isuzu juga pernah bikin mesin V dengan sudut 75 derajat.

Mengeluarkan tenaga 573 hp, Honda mengklaim NSX bisa lari dari 0-100 dalam 2,9 detik dan top speed sekitar 307 km/jam. Itu klaimnya, sementara NSX membukukan waktu 0-100 dalam 3 hingga 3,2 detik dalam beberapa percobaan di luar negeri. Wah, padahal Nissan GT-R bisa 2,8 detik tanpa bantuan motor listrik seperti NSX. Untuk girboks, dia pakai tipe kopling ganda 9 percepatan, di mana gigi 1 dipakai untuk start dari diam, gigi 9 untuk cruising dan gigi 2 hingga 8 punya rasio rapat.

Kesimpulan

Honda NSX lama sudah mematok standar yang tinggi jika ada mobil yang mau jadi penerusnya. Apa NSX baru ini bisa? Well, karena NSX lama juga mendobrak pasar supercar dengan teknologi, maka NSX baru ini lumayan sanggup mengikuti. Lebih tepatnya, NSX bisa membawa teknologi hypercar hybrid yang harganya puluhan miliar ke ranah supercar yang harganya tidak sampai puluhan miliar. BMW i8 apa kabar? Well, level performa i8 dan NSX beda, logo Honda kalah gengsi dibanding logo BMW, dan orientasi sistem hybrid keduanya beda : i8 untuk efisiensi, NSX untuk performa.

Teknologi torque vectoring dengan 2 motor listrik, brake-by-wire dan lain-lain bisa memantaskan NSX untuk dibilang canggih. Namun pendekatan antara NSX baru dan NSX lama dalam memakai teknologi bisa dibilang sangat beda. Begini, NSX lama menggunakan segala teknologi untuk membuat mobil sungguhan yang mencuri perhatian dunia, sementara NSX baru menggunakan teknologi supaya mobil canggih ini terasa seperti mobil, bukan laptop atau video game. NSX baru adalah soal software, komputer dan electrical engineering, bukan mechanical engineering seperti NSX lama.

Itu biar nanti pembuktian di atas jalanan saja yang akan mengungkap hasilnya. Soal desain, NSX ini cakep meski auranya beda dengan NSX lama, demikian pula dengan interiornya. Untuk urusan revolusi, tinggal masalah waktu apakah NSX bakal jadi patokan bagi supercar Eropa atau negara lain. Ingat, NSX lama bisa mencuri perhatian Gordon Murray yang merupakan master sang supercar legendaris, McLaren F1. Yah, setidaknya NSX baru sudah mendapat perhatian Jay Leno.

Merilis 2 jilid konsep, mesin terbakar di Nurburging dan segala naik-turun saat pengujian, semoga bisa membawa NSX ini menjadi penerus NSX yang pantas. Jika belum sanggup membalap pesona NSX lama, mobil ini paling tidak harus bisa mempertahankan nama NSX tetap di atas.

Pertarungan juga berat, sebab selain harus melawan Audi R8, Porsche 911 Turbo, Ferrari 488 GTB dan McLaren 570GT yang lebih kencang, NSX juga harus melawan rival sebangsa dan setanah airnya seperti Nissan GT-R yang menakutkan, plus ancaman dari Toyota Supra kian mendekat meski kita belum tahu mobilnya seperti apa. Apa opinimu? Sampaikan di kolom komentar!

Read Prev:
Read Next: