Berpolusi Tinggi, Tesla Model S Didenda 150 Juta di Singapura!

by  in Tesla
Berpolusi Tinggi, Tesla Model S Didenda 150 Juta di Singapura!
0  komentar
tesla model s

AutonetMagz – Kalau di Indonesia mobil listrik tidak lulus uji emisi, di Singapura mobil listrik malah masuk kategori mobil berpolusi tinggi disana. Percaya atau tidak, itulah yang dihadapi oleh Joe Nguyen yang harus merogoh kocek hingga 15.000 SGD (sekitar 150.000.000 Rupiah) karena mobilnya masuk ke dalam kategori mobil dengan emisi tinggi.

Joe mengidamkan sebuah Tesla Model S, sehingga dia harus memesan sendiri, mengimpor sendiri dan memasukan mobilnya ke Land Transport Authority Singapore untuk dilakukan uji kelayakan jalan. Dalam peraturan di Singapura, jika mobil masuk ke dalam kategori Carbon Emissions Based Vehicle Scheme (CEVS), maka sang pemilik bisa mendapatkan insentif sebesar 15.000 SGD hingga 30.000 SGD. Namun bukannya mendapatkan insentif, justru Joe malah mendapat denda 150.000 SGD dari Land Transport Authority.

Baca Juga : Edan, Mobil Listrik Buatan Indonesia Tak Lolos Uji Emisi dan Diperkarakan!

Tesla-model-s-photo-gallery

Seperti yang kita tahu, mobil listrik mengeluarkan emisi CO2 sebesar 0 g/km alias tidak memiliki emisi sama sekali. Tapi menurut pengujian VICOM Emission Test Laboratory Singapura, Tesla Model S menghasilkan hasil uji dengan angka 444 Wh/km. Nah, menurut mereka, peraturan di Singapura menetapkan bahwa emisi mobil listrik tiap 1 Wh/km harus dikalikan dengan 0.5 gram CO2 perkilometer, sehingga angka emisi CO2 yang dihasilkan oleh Tesla tercatat sebesar 222 gram per kilometer.

Hasil aneh ini mengundang publik Singapura mempertanyakan mengenai regulasi mobil listrik di Singapura, pasalnya mobil Joe adalah Tesla pertama yang di tes di Singapura, Bahkan melalui akun Twitternya, Elon Musk mengaku sudah berbicara dengan dengan pemerintah Singapura untuk menginvestigasi hal tersebut.

Mobil listrik memang tidak memiliki emisi CO2 pada saat berkendara, namun sumber listrik pada saat pengisian daya tetap bergantung pada pembangkit listrik yang disediakan negara tersebut. Jadi kemungkinan besar, konsumsi daya yang dipakai oleh mobil listrik akan dikonversikan dengan jumlah emisi CO2 yang dihasilkan pembangkit listrik disana.

Ternyata, bukan cuma Indonesia saja kan yang punya teori aneh soal mobil listrik ya, negara yang lebih maju seperti Singapura saja masih punya peraturan aneh yang menyulitkan.

Read Prev:
Read Next:
  • jeem

    Apa cuma ane yg bingung dengan Mobil listrik yang beremisi? ?

  • Bejob

    Artinya jangan terlena dengan barang yang bebas emisi tapi dilihat juga sumber asal energi yang digunakan. Kalau listrik untuk mengisi baterainya pakai tenaga surya/matahari silahkan bilang bebas emisi. Tapi kalau masih pakai yang namanya PLN kalau di Indonesia yang masih pakai bbm atau batubara ya jangan bilang bebas emisi. Belom lagi kalau pabrik mobilnya juga pakai sumber daya yang gak bebas emisi. Jadi sampai saat ini belum ada produk yang benar benar benar 0 emisi.

    • Kenny W

      Kalo begitu berarti mobil bensin biasa harusnya kena pajak dobel dong. Untuk memproduksi bensin kan ga bebas emisi juga. Jadi kalo menurut logic singapore, harusnya mobil biasa kena pajak pembuatan bensin dan baru pajak emisi gas buang. Gitu dong?

      • Aryo Wicaksono

        oh, kalau pajak mobil di negara maju udah berdasarkan emisi dan nggak dobel-dobel, kok, tinggal indonesia aja belum.

  • Jefri Dwiantoro

    hmmm. kemungkinan besar memang dikonversikan dari pembangkit listrik yang masih pake bahan bakar fosil. penasaran bagaimana metode pengukurannya.

  • Buzzera

    Masih gagal paham gue, kok bisa yaaaak, malah jd berita negatif buat tesla, bisa bisa wilayah lain or negara lain yg menjual produk mobil tesla bisa mengikuti langkah singapura juga (?)

  • Oki Ngew

    Jadi ingat katanya fitra eri waktu dulu nge review camry hybrid di autobild. Dia bilang “… tapi mobil ini tidak sepenuhnya ramah lingkungan, karena dibutuhkan energi yang tak kalah besar pula untuk membuat baterainya..”

    • Aldio Fahrezi

      Bener inget gw

  • Aryo Wicaksono

    lihat segala sesuatu tuh harus secara menyeluruh. sebagai lulusan elektro yang juga “petrolhead” aku setuju dengan singapura. emisi mobil listrik dengan sumber energi dari batu bara lebih buruk daripada mobil bensin. pembangkit listrik gas alam masih lebih baik, baru paling bagus tuh tenaga air, panas bumi, dan matahari garam konsentrasi. paling jelek tuh tenaga angin yang berisik dan membunuh burung, nuklir yang radioaktif, dan sel surya dengan emisi heksafluoroetana (C2F6), nitrogen trifluorida (NF3), dan sulfur heksafluorida (SF6) pada saat pembuatan yang memiliki efek rumah kaca 23.000 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.

    • anatharenator

      Mmm ane gak paham teknisnya, tapi infonya bagus gan 😀

    • Tapi sebenernya Singapore sumber listriknya dari Solar Cell 10 MW di Jurong Port, dan sebagian lagi impor dari Malaysia, jadi sebenernya nggak ada alasan buat dikenakan konversi emisi dari listrik

      • Aryo Wicaksono

        mungkin yang dihitung emisi pas bikin sel surya, mungkin, lho.

    • Rino Poetranto

      Tetap saja sangat absurd kalau membebankan emisi yang dihasilkan power plant ke pemilik mobil sebagai end user, krn sbg end user kita tentu saja tdk bisa mengontrol hal tsb. Menurut saya tetap lebih efisien mobil yang ditenagai listrik dalam hal pengawasan emisi, kontrol polusi lebih terarah ke penyedia tenaga listrik (power plant) saja dibandingkan mengontrol emisi jutaan mobil yang berseliweran di jalan.

    • farid

      rumit juga ya,ternyata sulit juga memperoleh listrik yg benar ramah lingkungan,buktinya listrik tenaga angin,nuklir dan sel surya yg energinya dapat diperbarukan juga menimbulkan emisi yg gak kalah dgn CO2.menurut saya hal seperti ini gak perlu diperumit,saya tau ente lulusan elektro,tapi dgn banyaknya populasi mobil listrik pemerintah gak perlu menekan polusi kendaraan bermotor dan subsidi BBM,tapi cukup mengontrol polusi dari pembangkit listrik dan menyediakan listrik yg benar ramah lingkungan

      • Aryo Wicaksono

        ya, yang paling benar sih begitu.

    • Always35

      Nah ini dia, mobil yang dlm tanda kutip “ramah lingkungan” sekalipun aja belum tentu menjamin ramah lingkungan juga asal sumber listriknya. Apalagi di Indonesia yg sumber energi pembangkit listriknya masih dominan bahan bakar fosil macem batubara dan diesel cmiiw

  • zul ari

    ekspresi gw waktu baca judulnya…WAT TA FAK ?

  • Riarno Eko Nur Rohman

    ya intinya mobil listrik hanya cocok digunakan di negara maju yg udah concern sama lingkungan dan energi yg terbarukan sih gan,
    mobil kaya gini masih belom cocok untuk negara yg belom ngedukung hal tersebut
    tapi btw, sejelek2nya pembangkit listrik bukannya efesiensinya masih lebih tinggi dari mesin mobil ya? CMIIW
    jadi mungkin kelas tesla ini masuk ke mobil sport dengan tenaga 691 HP yg mana dengan mesin bakar emisi CO2nya berada di sekitar 350gr/km
    tapi dengan emisi 222gr/km masih jauh lebih rendah daripada mobil dengan tenaga sekelasnya, misal aventador mungkin

  • joni MOPAR

    Contoh ekstremnya adalah mirai yang berbahan bakar hidrogen. Hidrogen murni tidak tersedia di alam, jadi harus melalui proses rekayasa produksi yang mana energi untuk proses produksinya justru lebih besar dari energi potensial hidrogen itu sendiri, alias negatif net energy.

  • RocketRoLL

    ada bnar’y jg sih, mungkin lain cerita klo power source’y bukan dari battery yg harus di isi ulang 😀
    sperti tenaga surya, atau pake battery tapi charge’y pake tenaga surya.

  • Akbar

    cara berfikir pemerintah singapura masih logis, mereka mikirin sumber tenaga dari mobil tersebut juga menghasilkan CO. So mereka bikin rumus CO/W ( carbon monoksida per watt) dari hasil proses terbentuknya listrik. Mereka ngitung berapa watt yg di perlukan mobil untuk jarak 1 km, lalu di kalikan dengan CO tadi. kira2 seperti ituu…

    kalau alasan pemerintah Indonesia apa yah? 😀

    • Aris Hardi

      belum ada regulasi yang mengatur kendaraan berlistrik :v

  • Yuhdi Baihaqi

    Yang alami ya pake seibiangin…pake kuda..pake keledai..

    • Kuda dan binatang lainnya juga membutuhkan oksigen dan mengeluarkan CO2 loh

      • Aryo Wicaksono

        belum lagi efek rumah kaca methane dari kentut dan bab kuda lebih kuat. :v

        • ekkyfir

          Dan efek bau nya buat lingkungan sekitar :v

      • Yuhdi Baihaqi

        Hitung saja siklus co2..gede mana yg binatang alamiah atau rekayasa industri mnusia?…yg pernah kubaca binatang ternak terbesar…makanya ada kurban potong binatang..

    • Levy Pillar

      Paling enak tuh pake mercy…. Iya mercykil :v

  • DANIEL MAHARDHIKA

    Emisi gak hanya bicara soal CO2, tapi lebih ke rugi-rugi(emisi) yang terjadi selama proses konversi energi. Nah kita bayangkan untuk dapat menggerakkan sebuah Tesla butuh berapa kali konversi Energi? Ambil contoh menggunakan solar, proses konversinya: kimia-> panas-> mekanik-> listrik. Di mobil pun ada konversi energi: listrik-> kimia-> listrik-> mekanik(gerak). Ada 6 kali proses konversi energi atau minimal ada 6 kali emisi terjadi. Bandingkan dengan mobil diesel, konversi energinya: kimia-> panas-> mekanik. Di sini terlihat emisi mobil diesel dengan listrik 3 kali lebih banyak emisi yang timbul pada mobil listrik. Dalam hal ini kita belum memperhitungkan efisiensinya. Kalau dihitung bisa lebih besar lagi perbedaannya.

  • KumKum

    kayak teori telor ayam, klo bicara sumber energinya maka semua kendaraan bahkan makanan yg kita makan ini pasti ada emisinya, namanya juga proses menuju energi terbarukan ya harus step by step gak ujug2 langsung jadi non polusi, manusia jalan aja ada polusinya, klo kedepan teknologi udah super canggih, pembangkit listrik udah pake yang ramah akhirnya teknologi listrik ini lah yg bisa memperkecil emisi, klo pake yg bensin udah mau abis coy palingan gak ada 100th lagi trus mau pake bahan bakar apa? tugas pemerintah lah buat pembangkit listrik yang lebih eco friendly…