7 Faktor Penyebab Rawannya Tol Cipularang

7 Faktor Penyebab Rawannya Tol Cipularang
0  komentar
Struktur Jalan Cipularang Rawan Kecelakaan

Tol Cipularang terutama pada KM 100 hingga 90 sering sekali terjadi kecelakaan maut yang merenggut korban jiwa. Kita sering kali bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya bukan karena alasan mistis yang selama ini digembar-gemborkan media (padahal media memiliki kewajiban untuk mencerdaskan masyarakat, bukan membodohkan), namun karena adanya beberapa faktor struktural yang menyebabkan Tol Cipularang menjadi rawan kecelakaan. Cekidot!

1. Struktur jalan yang menanjak dan menurun
Menurut dosen ITB yang turut andil dalam pembuatan tol Cipularang, Tol Cipularang seharusnya dibuat dengan kemiringan (slope) maksimum 3%. Namun karena Tol Cipularang terdiri dari pegunungan yang mengharuskan untuk membelah beberapa gunung seperti Gunung Hejo (Gunung Hijau), Jasa Marga menawar untuk menciptakan slope maksimum hingga 5% untuk mengejar percepatan pembangunan dalam rangka Kongres Asia Afrika yang diadakan di Bandung. Hal ini disetujui dengan catatan setiap kendaraan yang melintas pada slope 5% tersebut tidak melebihi dari batas kecepatan 80 km/jam. Pada tahun 2007 juga pernah dilakukan audit safety dari sudut geometri jalan dan hasilnya baik-baik saja. Namun sayangnya banyak kendaraan yang tidak mengikuti marka jalan alias OverSpeed pada jalanan menurun yang terletak antara KM 90 hingga 100 Tol Cipularang.

2. Permukaan bergelombang
Tol Cipularang dibuat diatas tanah pegunungan yang labil sehingga menyebabkan struktur permukaan jalan yang cenderung bumpy. Hal ini sudah diprediksi oleh Pihak jasa Marga dan mereka telah memasang rambu-rambu batas kecepatan pada titik-titik jalan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan akibat kehilangan traksi di jalan bergelombang

3. Terdapat banyak belokan
Belokan meskipun hanya beberapa derajat saja dapat menyebabkan kecelakaan serius pada kecepatan tinggi, kelokan 5 derajat saja bisa mengakibatkan kendaraan terguling jika dilakukan pada kecepatan tinggi. Apalagi mobil-mobil yang paling banyak di Indonesia ialah MPV yang memiliki tingkat body roll lebih tinggi dibandingkan dengan mobil sedan.

4. Angin kencang
Jangan pernah sepelekan kencangnya hembusan angin, karena hembusan angin yang kencang dapat menyebabkan kendaraan anda berubah arah hingga terguling. Kecepatan angin di tol Cipularang lebih tinggi dibandingkan dengan tol manapun karena diapit oleh 2 buah bukit, ditambah lagi jika kendaraan anda dipacu lebih cepat akan menyebabkan hambatan angin lebih tinggi pada kendaraan anda. Dibawah ini merupakan video bagaimana angin dapat menimbulkan kecelakaan di China

Sangat berbahaya bukan? Tapi tenang saja, insinyur Jasa Marga sudah memikirkan hal ini matang-matang sehingga jika kita mengikuti rambu & batas kecepatan yang ada pasti anda akan baik-baik saja kok.

5. Banyaknya Jembatan
Struktur tol yang terdiri dari pegunungan membuat Jasa Marga harus membuat jembatan untuk memudahkan pembangunan jalan. Namun perlu diingat, dengan adanya jembatan yang panjang dan tinggi jaraknya dari permukaan tanah, struktur jalan diatas jembatan cenderung bumpy akibat sambungan dan memiliki angin kencang. Jadi berhati-hatilah ketika melewati jembatan!

6. Long Driving Marathon
Siapa sih pengguna Tol Cipularang pada umumnya? Pastinya kebanyakan orang-orang yang berpergian Jakarta – Bandung atau sebaliknya. Faktor psikologi pengendara yang melakukang perjalan jarak jauh umumnya menjadi lebih tertantang untuk ingin cepat sampai sehingga mengendarai mobil dengan cepat. Tidak lupa struktur tol cipularang yang naik-turun dan banyak kelokan membuat pengendara tertantang untuk menguji kemampuan mobilnya. Jadi sebaiknya dewasalah dalam mengemudi di Tol Cipularang.

7. Suhu dan Tekanan Ban
Struktur tol yang menanjak, menurun dan berkelok menyebabkan mobil lebih sering melakukan akselerasi dan pengereman. Dampaknya traksi ban menjadi lebih sering dibutuhkan dan menyebabkan suhu karet ban meningkat dibandingkan biasanya, apalagi jika ngebut! Semakin panas suhu ban dan meningkatnya tekanan ban, tentunya semakin besar peluang terjadinya pecah ban. Maka dari itu usahakan untuk tidak melakukan pengereman dan akselerasi yang terlalu ekstrim, juga jaga kecepatan jangan terlalu tinggi. Ada baiknya lagi jika angin ban menggunakan nitrogen agar suhu ban lebih dingin dibandingkan dengan angin biasa.

Nah, Tol Cipularang memang berbeda dengan tol lainnya. Maka dari itu banyak sekali rambu-rambu dan peringatan agar kita slalu hati-hati dan mengikuti standar keselamatan yang ada. Ingat, itu bukan pajangan! Pastikan anda mengemudi dengan aman dan ingat ketika anda mengemudi anda bertanggung jawab terhadap nyawa diri sendiri dan nyawa orang lain.

AutonetMagz Safety Driving Campaign Team

Read Prev:
Read Next:
  • edithole

    maaf ya komen dikit…kata “dewasalah” kl diganti dengan “lebih berhati-hatilah” kayaknya lebih enak buat dibaca om…nuhun. btw sangat setuju dg isi keseluruhan tulisan ini.jempol…